Wayang Galvalum Kreasi Seniman Sujono Keron

Dilihat 169 kali
Sujono, seniman asal Keron Krogowanan Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang, mengerjakan wayang galvalum di rumahnya

BERITAMAGELANG.ID - Seniman asal Dusun Keron Desa Krogowanan Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang, Sujono, saat ini sedang disibukkan dengan pembuatan wayang. Hanya saja, wayang yang dibuat bukan berbahan dasar kulit lembu, melainkan dari galvalum atau baja berkualitas tinggi yang sifatnya ringan.


Sudah dua bulan lamanya, Jono, panggilan akrabnya berkutat membuat wayang galvalum. Sebanyak 101 wayang berbagai ukuran dibuatnya. Dari yang terkecil ukuran 50 cm hingga paling besar ukuran 2 meter. Dari 101 yang dibuat, 100 diantaranya merupakan tokoh wayang dari epos Mahabarata, dan satu buah gunungan.


Pria berambut gondrong yang juga pimpinan sanggar seni Saujana ini mengatakan, wayang galvalum ini merupakan pesanan dari temannya sesama seniman, Muhammad Khairul Sholeh dari Kebon Kliwon, Kebonrejo Salaman. 


Irul, nama akrab pemesan, sedang merintis objek wisata edukasi di desanya, dan menginginkan ada hiasan luar dengan nuansa budaya. 


"Dari sanalah ide muncul untuk membuat tokoh pewayangan dari bahan galvalum agar tahan lama," jelas Jono yang ditemui di rumahnya, Rabu (20/1/2021).


Menurut Jono, galvalum tidak akan keropos meski diterpa hujan ataupun panas sepanjang hari. Ide wayang galvalum inipun langsung disetujui oleh pemesan.


Untuk pengerjaan wayang galvalum, Jono dibantu istrinya Rubiyati (45) dan dua orang putranya, Gading Indra (21) dan Bondan Pratoto (13). Ini sekaligus untuk mengisi waktu luang kedua putranya yang masih sekolah secara daring.


Untuk membuat setiap wayang, maka dirinya yang membuat sket dengan menggunakan spidol permanen. Sedangkan anak dan istri melakukan pengguntingan.


"Untuk finishing saya lakukan sendiri, seperti memperjelas karakter wayang," katanya.


Proses pembuatan wayang galvalum ini tidak serumit bila membuat wayang berbahan dasar kulit maupun kertas karton. Karena untuk  wayang galvalum ini, tidak sampai detail sunggingan atau perwarnaanya.


Wayang galvalum hanya diberi warna abu-abu dan diberi detail hitam di beberapa bagian untuk mempertegas karakter. Dalam  proses mewarnai tubuh wayang, ia menggunakan cat epoxy atau cat dasar yang biasa digunakan untuk cat dasar mobil. Sedangkan untuk beberapa detil tubuh dari tokoh wayang tersebut ia menggunakan cat warna hitam.


Sementara itu, untuk membuat 100 tokoh wayang dan satu buah gunungan, Jono mengaku menghabiskan sekitar 125 meter galvalum dengan ketebalan 0,3 milimeter. Selain itu juga menggunakan sebanyak 50 batang besi cor  beton untuk dijadikan rangka wayang-wayang tersebut.


Ia juga berkonsultasi dengan kakaknya yang seorang dalang, Ki Hadi Suroto, dalam setiap membuat tokoh wayang sehingga lebih mirip. 


"Saya berkonsultasi dan sekaligus belajar menghafalkan tokoh-tokoh wayang dari kakak saya yang kebetulan seorang dalang," ungkapnya.


Jono menyebut, dari 100 wayang yang dibuat, ada beberapa berukuran cukup besar dan tinggi, yaitu wayang buto berukuran tinggi 2 meter dan lebar 90 cm. Untuk wayang berukuran 50 cm, beberapa diantaranya ada Srikandi, Dewi Kunti, Durgo, punokawan dan sebagainya.


Dari sejumlah itu, ternyata Jono mengaku cukup kesulitan saat membuat gunungan. 


"Tingkat kesulitannya cukup tinggi, karena memang rumit," ujarnya.


Gunungan yang dibuat menggambarkan suasana di Dusun Krandan. Di sana digambarkan ada seorang rondo (janda), atau asal-usul nama Dusun Krandan. Selain banyak pohon, sawah juga ada tempat 'ciblon' atau tempat pemandian. 


"Kita bikin karakter janda, pohon, pemandian, dan semuanya menggambarkan suasana dusun. Gunungan ini menceritakan objek wisata yang sedang dibangun di Dusun Krandan," terangnya.


Jono meski tinggal di lereng gunung Merbabu, ia seorang seniman yang melek media sosial. Wayang-wayang hasil karyanya, sering ia posting di media sosial, seperti FB dan IG. Dari sanalah, ia kemudian dipertemukan dengan salah satu perusahaan galvalum di Surabaya. Perusahaan itu sudah langsung menghubungi dan akhirnya tertarik untuk bekerja sama. 


"Dalam waktu dekat kita akan bertemu dan insya Alloh akan melakukan kerja sama," paparnya.


Perusahan galvalum itu, memintanya dibuatkan seni instalasi serta bentuk-bentuk lain yang mempunyai ciri khas Surabaya dan nantinya akan dipasang di sebuah taman di wilayah itu.


Di sisi lain, Jono mengaku sebelumnya pernah membuat pesanan karakter serangga juga dari bahan galvalum. Pesanan dari sebuah hotel di Jakarta yang menginginkan hiasan yang tahan lama.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar