Racik Sewu, Minum Jamu Jadi Lebih Mudah Dalam Kemasan Kekinian

Dilihat 370 kali
Erwin Dianawati menunjukkan jamu serbuk “Racik Sewu”

BERITAMAGELANG.ID - Mungkin selama ini kita kenal minuman herbal tradisional hanya dari penjual jamu gendong yang berkeliling menawarkan ke rumah-rumah. Namun, kini minum jamu bisa lebih mudah dan menyenangkan. Seorang penjual jamu asal Muntilan Kabupaten Magelang, Erwin Dianawati meracik jamu dan menjualnya via online, dan ada juga yang dititipkan di sejumlah toko oleh-oleh.


Diana, demikian panggilan akrabnya, dahulu adalah penjual empon-empon di Pasar Muntilan, Kabupaten Magelang. Pelanggannya adalah para pembuat dan penjual jamu gendong. 


Sejak 2019, Diana mencoba membuat jamu seperti yang biasa dijual oleh penjual jamu gendong. Jamu pertama yang dibuatnya adalah beras kencur. Ia menggunakan bahan yang benar-benar asli. Jamu itu kemudian dikemas dalam botol berukuran 250 ml dan dijualnya ke kantor-kantor.


Ternyata peminatnya tinggi. Di awal saja, ia langsung bisa menjual hingga 50 botol. Guna memberikan identitas dan meningkatkan kualitas, perempuan berusia 40 tahun ini memberi merk jamunya "Racik Sewu".


"Permintaan terus bertambah. Lalu ada yang pesan untuk dibawa pulang. Namun, jamu cair hanya bisa tahan 18 jam. Saya pun berinovasi membuat jamu serbuk agar  bisa diseduh sendiri oleh pembeli," tutur Diana saat ditemui di rumahnya di Ngadiretno, Gang Jambu, Tamanagung, Muntilan.


Jamu serbuk juga tinggi peminatnya. Kini, Diana bahkan lebih banyak membuat jamu serbuk. Ada empat macam yang dibuatnya, yakni jahe jeruk nipis, kunyit jeruk nipis, jahe kencur dan jahe merah aren. Dalam sebulan ia bisa memproduksi hingga 2.000 bungkus jamu serbuk kemasan 100 gram. Harga jamu per bungkus Rp17.000.


Penjualan jamu kemasan ini dilakukan lewat online maupun berdasarkan pesanan. Sebagian ada yang dititipkan di toko oleh-oleh di Muntilan. Diana dibantu sang suami, Purhadi Ismawanto, 40, untuk mengatarkan pesanan jamu-jamunya. Dari promosi online yang dilakukannya, Diana bahkan mendapatkan pesanan untuk memasok jamu serbuk rutin ke rumah makan di Jakarta.


"Yang rutin sekarang membuat jamu serbuk. Kalau longgar waktunya, baru membuat jamu cair, itu pun hanya berdasarkan pesanan," katanya.


Untuk jamu cair, variannya lebih banyak dan harganya berbeda-beda dengan kemasan 250 ml. Jamu beras kencur dijual Rp7.000, kunir asem Rp7.000, gula asem Rp7.000, jahe jeruk nipis Rp8.000, kunyit jeruk nipis Rp8.000. Ada pula kemasan satu liter yang dijual Rp22.000.


Diana membuat jamu kemasan botol seperti minuman ringan selain untuk mencari penghasilan, juga untuk memberikan minuman yang menyehatkan terutama untuk anak-anak. 


"Anak-anak kan suka minuman ringan kemasan, apalagi yang berwarna-warni. Nah ini jamu juga berwarna warni dan   menyehatkan. Saya ingin mengenalkan lebih luas jamu sebagai minuman ringan sehari-hari," katanya. 


Erna mengungkapkan, ia mulai meracik jamu sendiri karena prihatin terhadap perilaku tidak baik sejumlah penjual jamu gendong. 


"Dari obrolan dengan mereka, ada beberapa pembuat jamu yang mencampurkan bahan tambahan seperti pemanis dan pewarna buatan. Dari situ saya prihatin, jamu itu seharusnya menjadi minuman yang menyehatkan," ungkapnya.


Dari obrolan juga, ia jadi tahu tentang bahan dan cara meracik jamu. 


Kini usaha jamu kemasan yang dirintisnya berkembang menjadi salah satu usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Magelang.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar