Pengungsian Sister Village Saat Pandemi Tiru Dari Jepang

Dilihat 151 kali

BERITAMAGELANG.ID - Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Edy Susanto mengungkapkan rahasia Kabupaten Magelang dalam menghadapi bencana, khususnya penanggulangan erupsi Merapi.


Kabupaten Magelang secara geografis berada di antara lima gunung yakni Merbabu, Sumbing, Andong, Telomoyo, dan Merapi. Kondisi inilah yang mengakibatkan wilayah Kabupaten Magelang rentan terhadap bencana seperti, tanah longsor, angin kencang (puting beliung), banjir, dan yang paling diwaspadai oleh masyarakat adalah erupsi Gunung Merapi.


Menurut Edy, erupsi Gunung Merapi itu bukanlah suatu hal yang baru. Gunung Merapi sendiri sudah menjadi salah satu bagian dari masyarakat di Kabupaten Magelang dan pernah erupsi beberapa kali, terakhir pada 2010.


Belajar dari setiap erupsi yang telah terjadi, maka dibentuklah suatu sistem yang sangat efektif yakni "Sister village" (Desa Bersaudara) dimana apabila suatu desa terdampak, maka warganya akan mengungsi ke desa saudaranya, yang sebelumnya sudah ada perjanjian terlebih dahulu.


Namun, saat ini ada kendala baru yaitu Pandemi Covid-19 yang membuat sistem sister village ini agak sedikit kerepotan untuk dilakukan, dimana warga harus mengungsi ke desa saudaranya dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan, salah satunya yaitu harus menjaga jarak.


"Hal inilah yang mengakibatkan nantinya tempat penampungan menjadi kurang, karena harus mengedepankan social distancing (jaga jarak) yang akan memakan tempat," kata Edy.


Namun demikian, tiba-tiba Edi mengingat saat melakukan semacam studi banding ke negeri sakura Jepang beberapa waktu lalu. Ia menceritakan bahwa di Jepang teknologi kebencanaannya sangatlah maju, selain itu kepatuhan masyarakatnya juga sangat tinggi.


"Pada saat saya ke sana, saya melihat ada suatu seperti tempat pengungsian tetapi tidak tahu bencananya apa. Tempat pengungsian itu ditata sedemikian rupa dan terbagi dengan sekat-sekat sesuai dengan kuantitas atau jumlah KK-nya," jelas Edy.


Dengan pengalamannya itu ia segera menerapkannya di wilayah Kabupaten Magelang, dimana kondisi Gunung Merapi sudah pada status siaga level III yang memaksa masyarakat pada jarak 5 Km dari puncak harus segera mengungsi. 


"Tidak berpikir panjang saya langsung perintahkan untuk membuat tempat penampungan dengan dilengkapi sekat-sekat dengan membagi per kelompok/per KK untuk mengurangi dampak Covid-19," katanya.


Rupanya hal ini mendapat apresiasi dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pada saat meninjau lokasi penampungan di Balai Desa Deyangan Mertoyudan, Jumat (6/11/2020).


Ganjar menilai Kabupaten Magelang merupakan wilayah yang paling siap menghadapi kemungkinan terjadinya erupsi Merapi dibandingkan wilayah lainnya.


"Pokoke Magelang The Best dalam mempersiapkan tempat pengungsian," ujar Ganjar.


Selain itu, Ganjar juga menilai kesiapan logistik bagi para pengungsi Merapi di Kabupaten Magelang sangat memadai. Bagi kelompok rentan juga dilakukan rapid tes sebelum masuk ke dalam bilik-bilik pengungsian untuk mengurangi resiko penularan Covid-19.


"Semoga ini bisa sebagai percontohan bagi wilayah-wilayah lainnya yang beresiko terdampak Merapi," pungkas Ganjar.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar