Generasi Muda Di Pecinan Muntilan Terus Berkembang

Dilihat 392 kali
Daya tarik Pecinan Muntilan sebagai pusat pedagangan saat ini sudah berkurang. Namun, di seputaran Klenteng Muntilan pertokoan masih ramai.

BERITAMAGELANG.ID - Meriahnya perayaan Cap Go Meh atau hari ke 15 setelah Imlek, tidak lepas dari sejarah panjang etnis Tionghoa yang masuk ke Nusantara.


Di Kabupaten Magelang sendiri, kepingan sejarah tersebut masih dapat disaksikan melalui keberadaan Pecinan, khususnya Muntilan. Dimana Pecinan atau kampung etnis Tionghoa adalah bentukan Belanda yang melokalisir etnis tersebut usai pemberontakan Tionghoa di Batavia pada 1740 hingga 1743 yang meluas ke pantai utara Jawa.


"Kemudian etnis Tionghoa dilokalisir oleh Belanda, boleh memilih tempat yang strategis dimanapun, dan difasilitasi oleh Belanda. Namun bila ingin keluar masuk kampung harus wajib lapor kepada Belanda pemerintah kala itu," ucap Tokoh Tionghoa Muntilan, Harto Juwono, yang berlatar belakang Doktor Sejarah alumni Universitas Indonesia.


Pecinan Muntilan muncul saat perang Diponegoro, dimana Belanda berusaha mematahkan perang gerilya. Pasukan Pangeran Diponegoro, dengan siasat Benteng stelsel, pada tahun 1828 di Sleko ada kampung benteng. Saat pembangunan benteng sudah disebutkan nama komunitas Tionghoa di Muntilan.


"Pemasok konsumsi dan akomodasi ke Benteng Stelsel milik Belanda tersebut adalah sebagian komunitas Pecinan," ungkap Harto Juwono.


Seiring perkembangannya, Pecinan Muntilan kemudian semakin melengkapi diri dengan beragam jasa dan tempat usaha, mulai dari Taksi Muntilan-Talun, ada pula yang jurusan ke Blabak.


Termasuk terdapat tempat judi, yang sekarang menjadi Apotik Tri Ningsih di Pecinan Muntilan, juga merupakan tempat societeite atau lokasi orang Belanda bersosialita.


"Kala itu taksi masih berwujud kendaraan Oplet, yang beroperasi mulai 1920 sampai 1949. Tempat judi tersebut berada di depan Kantor Kawedanan Muntilan, agar bila terjadi kerusuhan aparat lebih cepat melakukan penanganan," terang Harto.


Kendati pada masa lampau Pecinan Muntilan mengalami masa keemasan, namun saat ini keramaian perdagangan di Pecinan Muntilan mulai berkurang, akibat bergesernya dinamika budaya.


Menurut Harto, hal tersebut salah satunya dipengaruhi dari sistem pendidikan, dimana kurikulum sekolah China dan sekolah Belanda kala itu menerapkan sistem yang berbeda. Dimana di sekolah Tionghoa terdapat materi pelajaran berdagang.


"Dulu di sekolah Tionghoa Hwee Koan (THHK), diajari bagaimana cara menjadi pedagang. Namun Belanda juga membuat sekolah untuk warga Tionghoa, Hollandsch Chinneese School sekarang menjadi SD Yoseph. Dimana kurikulumnya siswa dipersiapkan menjadi profesional atau pegawai kantoran bukan berdagang," ungkap Harto.


Akibatnya, budaya berdagang untuk kaum muda di Pecinan lambat laun berkurang, sehingga mempengaruhi geliat perdagangan di Pecinan Muntilan.


Selain itu banyaknya sekolah Belanda di Muntilan juga memberikan pengaruh budaya yang tidak kecil. Diantaranya SMA Van Lith awalnya Kweekschool, lalu menjadi Hollandsch Indlansche Kweekschool. SMA Marsudirini dahulu bernama Schakelschool dan STM Pangudiluhur dahulu Standaarschool.


"Banyak yang jadi profesional, seperti dokter, pengacara, notaris dan lain-lain, mereka disuruh berdagang sudah tidak bisa karena memang tidak diajari atau dipersiapkan untuk berdagang," jelasnya.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar