Kepala DLH Buat Bank Pohon Lestarikan Lingkungan dan Mata Air

Dilihat 631 kali
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang Ir. Tri Agung Sucahyono

BERITAMAGELANG.ID - Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang Ir. Tri Agung Sucahyono menjelaskan, untuk menjaga kelestarian lingkungan apalagi terkait mata air, tidaklah mudah, butuh waktu puluhan bahkan ratusan tahun. Terkait permasalahan tersebut, pihaknya mengantisipasi salah satunya dengan membuat Bank Pohon. Bank Pohon menerima sumbangan atau sedekah berupa bibit pohon dari semua kalangan masyarakat. 


"Saat ini sudah ada 3.000 - 3.500 bibit pohon, tempatnya ada di Deyangan dengan luas tanah 1.000 meter, tapi sementara kita tempatkan di Kemandoran, Dangean, Muntilan. Jenis pohonnya ada Gayam, Tabebuya, Klengkeng, Jeruk, Durian, dan Trembesi. Bank Pohon ini hasil sumbangan koordinasi dari BPDAS (Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai) Wonosari, dan CSR perusahaan," demikian disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang, Ir. Tri Agung Sucahyono saat ditemui Berita Magelang di kantornya, Selasa (26/02).


Sesuai Dasa Cita Bupati dan Wakil Bupati Magelang, DLH fokus menjaga potensi wilayah berkaitan dengan lingkungan, yakni pengelolaan mata air. Hal ini termasuk dalam poin ketujuh program prioritas pembangunan Kabupaten Magelang karena wilayah ini dikelilingi gunung-gunung yang merupakan sumber mata air bagi kehidupan juga pertanian dan pariwisata, termasuk ternak. 


"Ternyata kita sinyalir mata air ini ada 10 yang sudah mati, diantaranya Kajoran, Salaman, Borobudur, Muntilan, dan Sawangan. Kalau kita biarakan terus tidak menutup kemungkinan nanti mata air akan habis dan mati. Padahal Magelang adalah daerah pertanian, juga butuh air bersih untuk penduduk sejumlah 1,2 juta orang. 


Juga kaitannya wisata ini luar biasa, terutama sekarang ada wisata tubing, air terjun, rafting. Orang kota (wisatawan) itu ke Magelang ingin melihat keindahan alamnya yang sejuk dan bersih, maka lingkungan ini harus dijaga," ungkapnya.


DLH juga melakukan langkah-langkah lain untuk menyelamatkan mata air yang saat ini berjumlah 239 di Kabupaten Magelang, salah satunya dengan membuat embung dan sumur resapan yang sudah mulai di daerah Borobudur agar air hujan dapat tertampung dan tidak langsung mengalir ke wilayah di bawahnya. 


"Kami juga rutin melakukan penanaman, reboisasi, atau revegetasi. Kami sedang memproses Perbup, diharapkan semua masyarakat peduli lingkungan dan diimbau secara massif untuk sodakoh pohon," lanjutnya. 


Selain itu, di sekitar mata air juga dibangun senderan agar tidak longsor. Tri Agung berharap, tanah-tanah di atas mataair juga dimiliki Pemerintah agar tidak bisa ditempati rumah warga. Namun hingga radius 200 meter ditanami jenis-jenis tanaman termasuk gayam, aren, dan beringin. 


"Setelah (radius) 200 meter dari mata air, bisa ditanami buah yang punya akar termasuk jambu, durian, petai, tanaman perkebunan yang mempunyai tegakan dan ada hasil buahnya. Ini bisa dimanfaatkan masyarakat. Ke depan, kami juga akan mendorong desa-desa untuk membuat Perdes terkait pengelolaan lingkungan, mata air, termasuk persampahan," pungkasnya.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar