"Watu Susu" Magnet Wisata "Majalengkanya" Magelang

Dilihat 15601 kali
Gardu pandang "Majalengkanya" Magelang di dusun Nampan Desa Sukomakmur Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang, yang kini menjadi DTW baru

BERITAMAGELANG.ID - Satu lagi Daya Tarik Wisata (DTW) yang tidak kalah menarik di Kabupaten Magelang. Namanya "Watu Susu" yang berada di Dusun Nampan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang. Dusun paling ujung barat di lereng Sumbing ini berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo.


Masyarakat setempat menjadikan 'Watu Susu" sebagai magnet untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke sini. Memang perlu nyali yang cukup untuk mencapai lokasi ini, karena lokasinya ada di lereng gunung dengan ketinggian 1.600 Dpl. Untuk mencapainya, wisatawan akan diantar dengan menggunakan roda dua trail atau kendaraan lain oleh pemuda setempat. Namun kalau ada keberanian mengendarai sepeda motor sendiri, boleh-boleh saja.


Jalur menuju Watu Susu cukup ekstrem. Meski jalanan sudah di cor beton, namun jalurnya berkelok-kelok tajam naik turun. Sekitar 500 meter sebelum sampai lokasi, jalur masih tanah. Motor terkadang tidak kuat menanjak sampai lokasi.


Lokasi Watu Susu ini berada di Bukit Munthuk Gedhe. Dari pemukiman warga berjarak sekitar 3 km. Butuh waktu 15 menit untuk mencapai lokasi itu. Selain Watu Susu, di dekatnya juga ada batu yang oleh warga di namakan Watu Jonggol. Dinamakan Jonggol karenanya letaknya yang menonjol ke atas. Ada legendanya dua batu yang dinilai warga ini memiliki keajaiban. Namun meski dinilai ajaib, warga tidak memperbolehkan Watu Susu atau Watu Jonggol sebagai tempat untuk ngalap berkah. Keberadaan kedua batu ini karena sebelumnya ada letusan gunung Sumbing.


Miharto, tokoh masyarakat setempat menjelaskan, "Watu Susu" atau Batu Susu muncul setelah letusan Gunung Sumbing. Dinamakan Watu Susu, karena batu ini terpecah dua. Di salah satu pecahan ini, ada batu yang menonjol dan bentuknya mirip puting susu. "Karenanya masyarakat menamakan Watu atau Batu Susu," kata Miharto.


Penampakan "watu susu". foto (dok.BM)

Konon, batu ini bisa terpecah menjadi dua lantaran dipecut oleh penjajah Belanda. "Saat saya kecil, saya sering mendengar cerita kakek nenek, kalau dulu ada Londo (Belanda) datang mencari seseorang yang bersembunyi di lereng Gunung Sumbing. Karena tidak bertemu, Londo itu marah kemudian menyabetkan pecutnya dan mengenai batu hingga terbelah dua. Di salah satu pecahan ada batu yang menonjol mirip puting susu," katanya.


Lain lagi cerita soal Watu Jonggol yang terletak lebih atas dari Watu Susu. Watu Jonggol berada di ketinggian dan nampak menonjol, sehingga di namakan Jonggol. Namun ada cerita di balik keberadaan batu ini. Dulu saat ada letusan hebat Gunung Sumbing, batu ini sudah menggelinding, jatuh di dasar jurang. Namun entah kapan waktunya, tahu-tahu batu itu sudah berada di atas lagi di posisinya semula. "Itu sebabnya, warga disini masih menganggap batu itu sebagai keajaiban," kata Miharto.


Namun, sebelum wisatawan naik ke kedua batu itu, mereka bisa menikmati pemandangan yang luar biasa indah di pos 2. Disini, pengelola sengaja membuat gardu pandang dan menara untuk melihat hamparan lahan tani yang sebagian besar ditanami daun loncang dan kentang. Kontur tanah yang berbukit-bukit menjadi keistimewaan tersendiri. Juga hamparan luas tanaman daun loncang, terlihat seperti karpet warna hijau. Ditambah dinginnya cuaca menambah wisatawan akan betah berlama-lama. Disini, wisatawan juga akan merasakan kabut di siang hari.


Rini, ketua pengelola obyek wisata ini mengatakan, DTW baru ini dinamakan "Majalengkanya Magelang". Karena baik pemandangan maupun suasana mirip sekali dengan lahan pertanian disana. Hanya saja yang membedakan, kalau di Majalengka Jawa barat, tidak berlatar belakang gunung. "Kalau disini langsung di lereng Gunung Sumbing," katanya.


DTW ini baru diresmikan pada akhir September lalu. Hamparan pertanian seluas 1 hektar juga dijadikan andalan. Warga Dusun Nampan berinisiatif menjadikan lahan pertanian itu sebagai DTW, mengingat di musim pandemi ini, wisatawan banyak beralih ke wisata alam.


Rini mengatakan, inisiatif ini juga muncul lantaran banyak warga luar desa yang berkunjung ke sini, setelah melihat postingan di media sosial. "Akhirnya kami berinisiatif untuk menjadikan sebagai DTW baru," jelasnya.


Hanya saja Rini mengingatkan, untuk kesini sebaiknya saat Sabtu Minggu atau weekend. Karena dikhawatirkan bila datang hari biasa, akan mengganggu para petani bekerja. Mengingat akses jalan menuju DTW ini masih sempit. Hanya sepeda motor yang bisa sampai sini.


Bila wisatawan naik mobil, maka harus di parkir di pos satu atau desa. Setelah itu, wisatawan bisa naik ojek yang disediakan pengelola. Dari pos I menuju pos II atau gardu pandang, berjarak sekitar 1 kilometer dengan melalui perkampungan penduduk. Untuk tiket tanda masuk tidak terlalu mahal, cukup membayar Rp 5 ribu saja. 

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar