Komarudin, Pionir Gula Semut Candimulyo Tingkatkan Ekonomi Warga

Dilihat 115 kali
Komarudin dengan gula semut hasil produksi petani kelapa di Kebonrejo Kecamatan Candimulyo Kabupaten Magelang

BERITAMAGELANG.ID - Perekonomian warga pembuat gula jawa atau gula kelapa di Desa Kebonrejo Kecamatan Candimulyo semakin meningkat. Sejak mereka meningkatkan nilai jual gula jawa menjadi gula semut.


Gula semut terbuat dari nira kelapa yang dimasak sekitar 3-4 jam. Setelah melalui proses yang cukup lama, nira akan mengkristal dan berubah warna menjadi kecokelatan. Kristal-kristal ini kemudian diayak dan butirannya dinamakan gula semut.


Berbeda dengan gula jawa yang bentuknya padat. Harga jualnya juga lebih tinggi dibanding gula jawa.


"Terpaut Rp5 ribu per kilogramnya. Kalau gula jawa Rp14 ribu/kg, maka gula semut harganya Rp19 ribu/kg," kata Komarudin, warga Desa Kebonrejo Kecamatan Candimulyo Kabupaten Magelang saat ditemui di rumahnya, Minggu (21/2/2021).


Komarudin merupakan pensiunan Babinsa Koramil X Candimulyo/Kodim 0705 Magelang. Sejak beberapa tahun lalu, ia mulai berpikir untuk meningkatkan taraf hidup petani gula jawa di desa tempat tinggalnya.


Sebelumnya, ia bertugas di Jakarta kemudian Banjarnegara. Saat di Banjarnegara ia banyak belajar tentang gula semut. Pucuk dicinta ulam tiba, ia ditugaskan di kampung halaman di Candimulyo. Maka saat itu, tekadnya terus membara untuk mengubah pola pikir petani setempat. Mereka yang biasanya membuat gula jawa, didorong untuk membuat gula semut.


Komarudin bisa merasakan pahitnya kehidupan para petani gula jawa, karena ia sendiri dilahirkan dari keluarga penderas nira.


"Sama-sama berbahan dasar nira, kalau biasanya dijadikan gula jawa, maka saya dorong untuk dijadikan gula semut yang nilai jualnya lebih tinggi," katanya.


Berkat kegigihannya, akhirnya banyak petani gula Jawa yang beralih membuat gula semut. Ia juga dipercaya menjadi ketua Kelompok Tani Ngudi Rejo dan Sekretaris Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Barokah.


Di Kelompok Tani Ngudi Rejo, ia memiliki anggota sebanyak 80 orang terdiri dari penderas nira dan petani. Sedangkan di Gapoktan Tani Barokah, ia ikut mengurus sembilan kelompok tani, salah satunya Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi Tani.


Kelompok Tani Ngudi Rejo dan KWT Srikandi Tani merupakan dua kelompok yang ia bentuk. Berbeda dengan KWT dan kelompok tani lainnya, Komarudin bertekad tidak akan pernah menarik iuran keanggotaan. Dana untuk membiayai dan mengembangkan kelompok tani, diperoleh dari kegiatan bersama.


Para petani laki-laki bertugas mengambil nira, sedangkan ibu-ibu KWT memproses nira menjadi gula semut. Pada awalnya, gula semut yang dibuat sudah mencapai 2 ton.


Ia pun sempat mengalami kesulitan untuk menjual gula semut ini. Namun, ia pantang menyerah untuk mencari pasar gula semut. Hingga suatu hari, didengarnya ada perwakilan perusahaan eksportir yang datang ke desa tetangga. Ia bergegas untuk menemui orang itu dan mengajaknya berkunjung ke Kebonrejo.


Perwakilan ekspotir itupun tertarik dengan berbagai syarat. Yaitu produksi gula semut harus organik dan memenuhi standar Eropa. Proses produksi harus disertifikasi.


Komarudin kembali mendorong anggotanya untuk membuat gula semut sesuai standar yang disyaratkan eksportir tersebut. Awalnya gula semut bikinan warga ditolak eksportir itu.


"Tapi saya simpan rapat-rapat penolakan itu karena saya tidak mau warga kehilangan semangat. Saya beli gula itu dengan uang pribadi sambil membimbing lagi bagaimana membuat gula semut yang sesuai pesanan eksportir," ujarnya.


Hingga akhirnya, hasil produksi sudah sesuai yang disyaratkan. Keberhasilan ini menjadi motivasi petani untuk terus meningkatkan produksi. Kini, setiap bulannya, kelompok tani Ngudi Rejo dan KWT Srikandi Tani berhasil mengekspor sebanyak 5-6 ton gula semut setiap bulannya. Sedangkan untuk produksi domestik mencapai 300 kg/bulan.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar