Tengsek Merapi Semakin Diminati Karena Kaya Fungsi

Dilihat 461 kali
Para petani yang tergabung dalam KTH Tanggulangsi Asri di Samiran Selo Boyolali sedang membuat media polibag untuk bibit pohon Tengsek Merapi

BERITAMAGELANG.ID - Pohon Tengsek (dodonaeaviscosa) Merapi yang dikembangkan Sulistyo Wadi, warga Dusun Babadan I, Desa Paten, Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang, kini mulai diminati berbagai kalangan. Pohon langka ini dinilai memiliki manfaat yang banyak seperti untuk pengobatan dan mampu bertahan hidup hingga ratusan tahun.


Saat ini, Sulistyo Wadi sedang mendampingi petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Tanggulangsi Asri di kawasan Gunung Merapi timur dan Merbabu barat tepatnya di embung Manajar, Samiran, Selo Boyolali.


Kelompok tani ini minta disediakan dua jenis bibit pohon yakni Tengsek dan bibit pohon Gondang (Ficusvariegata) sebanyak 30 ribu. Dua jenis pohon asli Merapi ini untuk program kebun bibit rakyat (KBR)," kata Sulis yang dihubungi Senin (3/8/2020) malam.


Semua bibit itu, imbuh Sulis, diambil dari lereng Merapi barat tepatnya di Babadan. Butuh waktu lama agar bibit itu bisa layak tanam atau setidaknya sudah tumbuh 50 cm. "Saya targetkan November mendatang sudah layak tanam. Pengerjaan penyemaian sudah kita lakukan sejak awal Juni lalu," paparnya.


Ia bersama-sama dengan anggota kelompok tani Tanggulangsi Asri sebanyak 40 orang, setiap hari memasukkan media tanam dalam polibag. Ia sendiri mendampingi sejak dari penyemaian, media semai sampai media untuk polibag termasuk pupuk cair organik.


Sulis mengaku semangat saat diminta untuk membantu mereka. Usaha yang dirintis tidak sia-sia walau ditengah pandemi Covid-19 ini, sempat stagnan. "Ketua KTH Tanggulangsi Asri datang langsung dan minta saya membantu mendampingi para petani sekaligus penyediaan bibit," tuturnya.


Iapun merasa terharu, karena anggota KTH rata-rata sudah berusia tua namun memiliki semangat membara. Sehingga ia kadang merasa 'pakewuh' bila harus mengajari mereka. "Generasi muda hanya sedikit, sebagian besar orang tua. Akhirnya saya buat tutorial melalui Youtube agar penyampaian saya baik dan bisa diterima, walau terkadang terkendala sinyal," ucapnya.


Sulistyo Wadi atas rekomendasi Ketua Forum Merapi Merbabu, Jatmiko, sejak tahun 2017 serius membudidayakan pohon Tengsek yang mulai langka. Pohon kayu yang dinilai bertuah ini diyakini mampu mengobati sakit kanker. Pohon ini menjadi langka karena tidak banyak yang menanam karena memang membutuhkan waktu lama agar pohon ini bisa tumbuh tinggi. Untuk mencari bibit yang akan dibudi daya, ia harus 'blusukan' hingga hutan gunung Merapi. Setidaknya ia memiliki stok 18 ribu bibit. Sebagian di sumbangkan untuk di tanam di lereng Gunung Merapi dan Merbabu, dan sebagian dijual.


Di masa pandemi Covid-19 ini, menurut Sulis, tidak ada permintaan sama sekali. Padahal, sebelum ada Corona, bibit sudah dipesan mantan presiden Megawati Sukarnoputri. Namun saat hari H-nya, ada PSBB di Jakarta sehingga semua pesanan cancel," ungkap Sulis.


Namun demikian, ia tidak pernah putus asa untuk memperjuangkan tanaman endemik Merapi ini. Pada akhir Juni lalu, ia memperkenalkan bibit asli Merapi ini ke Cangkringan, Sleman DIY, berkolaborasi dengan grup band Jikustik yang memang peduli lingkungan. Selain itu juga bergandengan tangan dengan komunitas Pagar Merapi.


Saat itu ada ulang tahun salah satu camp ground di Cangkringan (The Wonogondang) di Dusun Wonogondang, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Di acara yang juga dihadiri salah satu cucu Sri Sultan Hamengkubuwono itu, pohon Tengsek yang pernah ia sumbangkan, dibuat seremonial. Ia pun semakin bersemangat untuk mengembangkan pohon Tengsek.

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar