Sungkem Telompak Dalam Kesunyian Di Tengah Pandemi Covid-19

Dilihat 381 kali
Sungkem Telompak warga Keditan Desa Pogalan Pakis yang rutin digelar pada hari kelima lebaran
BERITAMAGELANG.ID - Di tengah pandemi covid-19, warga Dusun Keditan Desa Pogalan Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang, tetap melakukan ritual Sungkem Telompak. Tradisi yang digelar di hari kelima lebaran ini, Kamis (28/5/2020) wajib dilaksanakan untuk menghormati para leluhur desa setempat.

Namun ritual kali ini digelar dengan suasana yang sunyi. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang selalu diwarnai dengan kemeriahan. 

"Kalau dulu seluruh warga dan pendatang yang jumlahnya bisa mencapai ratusan ikut ritual ini, namun tahun ini hanya sekitar 25 orang saja," kata Riyadi, sesepuh desa setempat.

Sungkem Telompak, menurutnya merupakan penghormatan kepada leluhur yang dulu kala telah melakukan upaya mengatasi "pagebluk". Dimana saat itu rakyat sangat sulit mendapatkan sandang dan pangan akibat keadaan alam yang tidak memungkinkan. Leluhur yang sampai saat ini masih sangat dihormati bernama Prabu Singo Barong.

Saat itu Singo Barong dinilai mampu mengatasi ketidakberdayaan warga menghadapi pagebluk. Singo Barong berhasil meningkatkan hasil pertanian dan kesejahteraan lainnya.

Secara nyata, Sungkem Telompak adalah warga melakukan doa bersama di sumber mata air Telompak yang ada di desa itu. Ritual ini sudah dilakukan secara turun temurun sejak 1932 silam. Ritual ini dilakukan agar warga Keditan selalu mendapatkan kelimpahan rezeki, berupa sandang, pangan juga sanak atau silaturahmi. 

"Agar hasil tani di desa ini selalu berlimpah karena sebagian besar warga adalah petani," tutur Riyadi.

Sungkem Telompak ini juga untuk mengingatkan warga, bahwa dulu saat musim kemarau yang berkepanjangan, warga berikhtiar dengan berdoa di  mata air Telompak. Di sinilah warga mendapat  petunjuk dari penunggu mata air yang dikenal sebagai Prabu Singobarong.

Khusus tahun ini, Sungkem Telompak selain untuk menghormati leluhur, juga memanjatkan doa agar pandemi covid-19 segera lenyap dari muka bumi. Warga kembali kepada kehidupan yang normal.

Meski dilaksanakan secara sederhana dan sangat singkat, namun tidak mengurangi kesakralan dari ritual ini. Sebagai penutup, sejumlah penari kesenian Campur Bawur (sejenis kuda lumping,red) tetap melaksanakan pentas di dekat mata air tersebut dengan durasi sekitar dua menit. Mereka tetap melakukan ritual dengan protokol kesehatan yakni memakai masker.

Diadakan pula acara 'makani' atau memberi makan barongan di depan rumah juru kunci Telompak. Setelah itu, warga memohon pamit untuk pulang kembali ke Dusun Keditan.

Tak seperti tahun sebelumnya yang selalu dilanjutkan dengan hajatan pentas berbagai seni hingga sore hari. Kali ini warga langsung pulang ke rumah. Suasana kembali sunyi, karena warga lebih memilih berdiam diri di rumah untuk menghindari penyebaran virus corona.

"Memang terasa ada yang kurang karena suasana kembali sunyi, namun gimana lagi, keadaan yang tidak memungkinkan karena covid-19," kata Riyadi.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar