Sistem Lelang Cabai Untungkan Petani Lereng Merbabu

Dilihat 501 kali
Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Ade Sri Kuncoro saat melihat proses lelang di Dusun Wanteyang Desa Lebak Kecamatan Grabag

BERITAMAGELANG.ID - Petani cabai di wilayah lereng gunung Merbabu Kabupaten Magelang, mendapatkan berkah dengan tingginya harga cabai. Apalagi, penentuan harga dilakukan dengan sistem lelang sebagai upaya untuk menghindari tengkulak.


Suasana ramai selalu terjadi setiap hari di rumah Ketua Kelompok Tani Maju Wanteyang, Armando. Di sini, digelar lelang cabai. Petani sejak siang sudah menyetorkan hasil panenannya. Sebenarnya tidak hanya cabai yang dilelang, namun juga hasil holtikultura lainnya seperti kol, brokoli, terong, kacang panjang, tomat dan semacamnya.


Saat petani menyetor cabai, istri Armando bertugas mencatat berapa banyak cabai yang dilelang. Anggota kelompok tani lainnya ada yang bertugas memilah komoditas. Ada pula yang menimbang. 


"Kita bagi-bagi tugas baik laki-laki maupun perempuan," kata Armando.


Ia mengatakan, sistem lelang ini digagas oleh Kepala Desa Lebak, Anwari, sejak beberapa tahun lalu. Sistem ini dinilai sangat menguntungkan petani karena harga dipatok secara transparan dan riil. 


"Para petani ini mendapatkan angin segar di tengah pedasnya harga cabai di pasaran," ujarnya.


Bagaimana tidak, dengan menggunakan sistem lelang terbuka, para petani ini mendapatkan kepastian harga yang maksimal mengikuti pasar tanpa permainan tengkulak. 


"Yang menentukan harga para peserta lelang yang sebagian besar pedagang. Mereka akan memulai melelang usai Ashar melalui pesan singkat Whatshap," terang Armando.


Biasanya, tawar menawar lelang akan berlangsung hingga maghrib. Dirinya akan mencari harga tertinggi. 


"Kita tutup saat maghrib dan menemukan lelang dengan harga tertinggi," paparnya.


Menurut Armando, dengan sistem lelang ini, para petani hanya dikenakan biaya administrasi Rp1.000  setiap kilogramnya. Dari uang Rp1.000, sebesar Rp500 untuk kas masjid, dan sisanya untuk administrasi. 


Seperti halnya kesepakatan harga pada Kamis (30/12) yang menyentuh harga Rp63.000 rupiah per kilogram cabe rawit merah atau dikenal dengan rawit "setan",  dengan jumlah hasil panen mencapai 1,5 ton.


Dengan naiknya harga cabai saat ini, setiap petani bisa mendapatkan hasil Rp900 ribu hingga 7 juta rupiah setiap kali panen, dengan waktu dua kali panen dalam satu minggu. 


Mereka menilai keuntungan tersebut menjadi berkah karena tidak jarang para petani cabai menemukan harga anjlok yang membuat merugi. 


Petani akan mendapatkan uang hasil panennya di keesokan hari, setelah pedagang membayar lelang. Oleh Armando, uang yang diserahkan petani sudah dikemas dalam plastik dan diberi tulisan nama petani serta jumlah cabai yang disetor dan jumlah uangnya.


Widodo, salah satu petani, mengungkapkan hasil panennya cukup lumayan, kalau dibandingkan dengan teman petani lainnya dengan selisih harga Rp2.000 setiap kilogramnya. 


"Ini saya terima Rp915 ribu dengan cabai sebanyak 12,5 kg dengan harga per kilonya Rp72.000," ungkapnya.


Menurut Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang Ade Sri Kuncoro,   sistem lelang sangat positif. Pertama, karena memberikan harga kepastian kepada petani, kemudian pangsa pasarnya jelas mau dibawa kemana. 


"Jadi, petani tahu hasil panennya itu mau dibawa kemana," katanya.


Jika cabai dibawa ke pasar sendiri oleh petani, harga akan menyesuaikan saat negosiasi pasar. Di kelompok Tani Maju Wanteyan ini, imbuh Ade, petani datang membawa hasilnya kemudian ditimbang. Kemudian akan diinfo soal pergerakan harga. 


"Mereka menanti harga tertinggi saat Maghrib. Harga itulah yang akan diperoleh para petani," kata Ade. 


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar