Sejumlah Kera Turun Ke Permukiman Penduduk Diduga Terpisah Dari Koloninya

Dilihat 137 kali
Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Wiryawan

BERITAMAGELANG.ID - Turunnya sejumlah kera ekor panjang (Macaca fascicularis) di perkebunan milik penduduk lereng Merapi,  dianggap sebagai fenomena biasa. Karena kemungkinan, kera tersebut terpisah dari koloninya.


"Ini hanya peristiwa biasa, mungkin satwa itu terpisah dari koloninya karena dinamika kelompok seperti perkelahian antar kelompok," demikian disampaikan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Wiryawan, di sela sela kunjungan Kepala BNPB di TEA Deyangan Mertoyudan Kabupaten Magelang, Jumat (20/11/2020).


Menurut Wiryawan, biasanya saat kawanan primata tersebut turun ke perkampungan, jumlahnya bisa mencapai 10 hingga 15 ekor atau berkoloni.


Meskipun demikian, turunnya satwa kera tersebut tidak menutup kemungkinan dikarenakan aktivitas Gunung Merapi yang meningkat.


“Memang ada kemungkinan turunnya satwa tersebut karena aktivitas Gunung Merapi yang meningkat. Mungkin di atas (lereng Merapi) suhunya saat ini lebih panas, sehingga kawanan itu turun,” imbuhnya.


Wiryawan menambahkan, pihaknya akan melakukan pengecekan lebih lanjut, dengan fenomena turunnya satwa dikaitkan dengan tanda-tanda alam akan terjadinya erupsi di Gunung Merapi.


"Adanya tanda-tanda akan adanya erupsi tersebut merupakan kewenangan instansi lain yang menentukan," katanya.


Sedangkan masyarakat sekitar Gunung Merapi, biasanya hanya mengamati perilaku satwa-satwa yang hidup di hutan sekitarnya.


Wiryawan mengaku telah mendapatkan laporan adanya satwa kera ekor panjang yang diduga berasal dari hutan Merapi juga sudah turun sampai wilayah Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. 


“Kita masih mengecek, karena Salam cukup jauh dari hutan puncak Merapi," katanya.


Ia mengimbau masyarakat melaporkan bila mengetahui kawanan monyet masuk perkampungan. Sehingga pihaknya bisa berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah.


Ia berpesan kepada warga, untuk tidak memberi makanan apapun bagi satwa yang turun hingga perkampungan. Karena bila diberi makan, mereka akan turun dalam jumlah yang banyak. 


“Nantinya juga akan mengubah perilaku mereka," katanya.


Ia menambahkan, hingga saat ini masih banyak satwa yang hidup dan berkembang biak di hutan Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, seperti kijang, kucing hutan, burung elang, kera lutung dan lainnya.


“Sedangkan satwa harimau, hingga saat ini belum teramati oleh kamera pengawas yang kami pasang,” terang Wiryawan.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar