Sejarah Masjid Langgar Agung Diponegoro Salaman Magelang

Dilihat 299 kali
Masjid Langgar Agung Pangeran Diponegoro di tengah pandemi covid-19 tetap melakukan aktivitas ibadah Ramadan dengan menerapkan physical distancing
BERITAMAGELANG.ID - Masjid Langgar Agung Pangeran Diponegoro berada di Dusun Kamal Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, tepatnya  dalam Komplek MA/MTs Diponegoro. Pangeran Diponegoro dikisahkan pernah beribadah di sana saat terjadi Perang Diponegoro melawan Belanda.

"Tepatnya di ruang pengimaman Masjid ini, dulu Pangeran Diponegoro pernah Mujahadah di tempat itu, di sebelahnya ada pohon Belimbing untuk mengikat kuda beliau," ungkap Takmir Masjid Langgar Agung Pangeran Diponegoro, Ma'mun Hidayat, Rabu (13/5/2020).

Petilasan tersebut oleh masyarakat kemudian dibangun langgar atau musola dan seiring waktu semakin disesuaikan hingga menjadi bangunan masjid, meskipun masih disebut langgar.

Informasi sejarah lainnya, di lokasi sekitar masjid dulunya merupakan hutan belantara. Saat itu Pangeran Diponegoro akan berangkat berunding dengan pihak Belanda di Magelang. 

Ketika pasukan Diponegoro hendak melaksanakan salat, dibuatlah tatanan batu untuk alas salat, atau langgar. Hal itu menjadi awal mula bangunan tersebut berdiri dan menjadi bagian dari sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro.

Dalam perkembangannya, sekitar tahun 1960-an, atas prakarsa Jenderal Sarwo Edi Wibowo dimulailah pembuatan pondasi masjid, dengan letak pengimaman berada di atas tatanan batu alas salat itu. 

Tahun 1972 pembangunan Masjid selesai dilakukan dan kemudian disematkan nama Masjid Langgar Agung.

"Selain itu juga ada peninggalan Pangeran Diponegoro berupa Al Quran tulis tangan, keris dan kitab," ujar Ma'mun Hidayat.

Di tengah pandemi covid-19 ini, aktivitas ibadah Ramadan di Masjid Langgar Agung Pangeran Diponegoro tetap dilaksanakan, namun menyesuaikan anjuran pemerintah untuk physical distancing.

Aktivitas ibadah tetap dilaksanakan, seperti salat wajib, salat Jumat dan tarawih, namun barisan shaf diberi jarak, dan diimbau pakai sajadah sendiri.

"Pada situasi normal di bulan Ramadan ada kegiatan pengajian pagi dan tadarus malam, namun hal itu ditiadakan saat pandemi covid-19 ini," kata dia.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar