Rempah 'Empon Empon' Jadi Berkah Musim Kemarau Warga Menoreh

Dilihat 91 kali
Warga Dusun Kemloko Desa Kenalan Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang menjemur rempah empon empon.

BERITAMAGELANG.ID - Kekayaan rempah nusantara tak tertandingi. Bahkan melimpahnya tumbuhan bahan baku jamu itu pernah mengundang penjajah untuk menguasai bumi pertiwi.


Dusun Kemloko, Desa Kenalan, Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang menjadi salah satu penghasil rempah berkualitas.


Dengan 50 kepala keluarga, hasil pertanian cengkeh, laos, jahe, temulawak dan kunyit atau biasa disebut 'empon-empon' itu sudah menjadi warisan leluhur mereka.


"Kita sudah, turun temurun merajang kunyit untuk dijemur dan dijual," kata warga Kemloko, Sarwiti, Jumat (10/8).


Saat ditemui BeritaMagelang.id, wanita berusia 35 tahun ini tengah merajang dan menjemur kunyit di halaman rumahnya di perbukitan Menoreh. Kiranya musim kemarau kali ini menjadi berkah tersendiri bagi warga Menoreh.


Hasil rajang jemur bahan baku jamu empon-empon itu dijual ke pengepul yang kemudian dipasok ke berbagai pasar tradisional hingga pabrikan jamu modern.


"Empon-empon ini harganya stabil. Untuk kering dibeli Rp 10.000/kg. Sedangkan yang basah lebih murah, Rp 3.000/kg," tutur Sarwiti.


Geografis perbukitan Menoreh adalah tanah merah berhawa sejuk. Kondisi itu membuat kualitas rempah dari warga Kemloko bagus.


"Perawatannya tidak sulit dan hama pengganggu tanaman juga tidak ada sehingga warga selalu menanam empon empon di lahan," kata salah satu petani, Rohmad.


Bagi Rohmad, Sarwiti dan warga lain di perbukitan Menoreh, musim kemarau kali ini memberikan semangat tersendiri untuk mendapat rezeki. Pasalnya, hasil penjemuran empon empon bisa kering maksimal dalam jumlah yang banyak.


"Sekarang lumayan, kalau panas kita jemur banyak cepat kering dan bisa langsung dijual ke pengepul," tuturnya.


Seperti khasiatnya, empon empon hasil warga Menoreh ini juga organik. Karena, selain bertani warga juga berternak lembu dan kambing untuk tabungan pupuk kandang.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar