Ratusan Seniman Gelar Prosesi Ruwat Rawat Borobudur

Dilihat 290 kali
Prosesi pembukaan kegiatan Ruwat Rawat Borobudur, Minggu (9/2/2020)

BERITAMAGELANG.ID - Ruwat Rawat Borobudur (RRB) kembali digelar ratusan seniman tradisional di Kabupaten Magelang Jawa Tengah, Minggu (9/2/2020).


Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Restu Gunawan mengatakan, kegiatan RRB merupakan suatu penghargaan terhadap situs warisan budaya dunia Candi Borobudur.


"Ruwat Rawat Borobudur yang ke-17 ini saya kira sebuah prestasi yang luar biasa, konsisten, terus-menerus melakukan kegiatan untuk penghargaan kita pada sebuah situs sebagai warisan budaya dunia," katanya saat membuka kegiatan itu.


Pembukaan Ruwat Rawat Borobudur yang ke 17 itu diselenggarakan komunitas seni Brayat Panangkaran di Pelataran Kenari Candi Borobudur.


Menurut Restu, keberadaan Candi Borobudur banyak memberikan manfaat yang bisa dipelajari bersama dari segala aspek.


"Borobudur bisa direspon oleh seniman, arkeolog, antropolog dan lainnya," ujarnya.


Ruwat Rawat Borobudur ini, sebagai bentuk dari implementasi UU Pemajuan Kebudayaan bagaimana membangun ekosistem itu. Bagaimana masyarakat sekitar, ada dari Temanggung, Wonosobo, Purworejo dan Magelang bersama-sama akan melaksanakan kegiatan budaya yang berlangsung selama 73 hari.


"Saya kira ini sangat penting membangun sebuah pemberdayaan masyarakat sekitar untuk kemajuan kebudayaan," papar Restu.


Bupati Magelang yang diwakili Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Magelang, Ahmad Husein menuturkan, sebagai salah satu destinasi wisata super prioritas baik di tingkat nasional ataupun internasional, Borobudur perlu berbenah.


Selain menaruh perhatian pada Candi Borobudur sebagai salah satu cagar budaya yang tak ternilai harganya, pengembangan kawasan di sekitar Candi Borobudur yang disiapkan sebagai Bali baru juga harus mempertimbangkan berbagai aspek.


"Pelestarian Cagar Budaya juga memerlukan keseimbangan aspek ideologis, sosial budaya, akademis, ekologis dan ekonomis guna meningkatkan kesejahteraan rakyat," pungkasnya.


Tokoh yang juga inisiator Ruwat Rawat Borobudur, Sucoro mengatakan misi dari Ruwat Rawat Borobudur ini adalah mengembangkan destinasi wisata berbasis budaya dan tidak mungkin meninggalkan pelestarian warisan budaya.


Ruwat Rawat Borobudur merupakan bukti konkret semangat dari teman-teman yang silih berganti terlibat dalam kegiatan ini dengan kesenian masing-masing daerah.


"Kali ini antara lain yang terlibat dari Purbalingga, Boyolali, Purworejo, Temanggung, dan Magelang," ungkap Sucoro.


Ia memaparkan, sebagai wujud syukur, sejumlah petani sayuran dari lereng Gunung Sumbing dan Merapi dengan semangatnya menyumbangkan sayuran untuk masyarakat dengan total sekitar 5 ton.


Menurut dia hal ini artinya mereka merasa memiliki terhadap sebuah warisan budaya agung ini.


Ia mengungkapkan, ketika berbicara Borobudur ada beberapa hal penting, yakni Candi Borobudur merupakan warisan budaya dari nenek moyang yang berafiliasi pada agama Buddha. Tentunya dahulu diharapkan menjadi tempat ibadah, namun dalam perjalanan waktu, Borobudur sekarang menjadi tempat wisata yang mampu mendatangkan jutaan orang.


"Dua dimensi yang berbeda ini pasti ada benang merah. Kita tidak mungkin menjual Borobudur dengan arogan, kita tidak boleh menjual Borobudur dengan mengesampingkan nilai-nilainya," pesannya.


Oleh karena itu, Sucoro berharap perlu adanya sebuah ruang, bagaimana melestarikan nilai budaya dari warisan budaya Borobudur ini agar ke depan masih bisa dinikmati oleh anak cucu.


Kegiatan Ruwat Rawat Borobudur akan berlangsung mulai Februari hingga April 2020 di Kecamatan Kaliangkrik, Grabag, Windusari dan beberapa di Temanggung dan Purworejo.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar