Prospek Budi Daya Cacing Sutera Cukup Menjanjikan

Dilihat 489 kali
Julian menunjukan Cacing Sutera budi dayanya, yang saat ini favorit untuk pakan ikan hias dan ikan air tawar konsumsi.

BERITAMAGELANG.ID - Budi daya Cacing Sutera cukup menjanjikan. Hal tersebut banyak dilakoni oleh pembudi daya cacing sutera, khususnya di Desa Mertoyudan Kecamatan Mertoyudan, yang bisa dikatakan menjadi pionir budi daya cacing untuk pakan ikan tersebut.


"Saya meneruskan usaha bapak saya, dimana dulu awalnya bapak mendapat ilmu dari temannya warga Muntilan yang mengatakan banyak cacing sutera di sekitar Mertoyudan kok hanya didiamkan saja, tidak dimanfaatkan.


Kemudian pada tahun 1999 Bapak mulai menekuni usaha sampingan ini, yang awalnya tidak dalam bentuk budi daya, tetapi mencari langsung di kali," ucap Pembudi daya cacing sutera di Mertoyudan, Julian Wahyu Prasetyo, Selasa (28/12).


Julian mengatakan, cacing sutera mulai dibudidayakan 10 tahun lalu. Kala itu pencarian di kali sudah cukup sulit dan menipis karena sudah banyak orang yang melakukan hal yang sama.


Tempat budi daya dimulai dari sawah yang disewa Julian, kemudian cacing sutera yang siap panen, bisa dipindah ke ember-ember besar untuk memisahkannya dengan lumpur. Setelah itu dibersihkan lagi hingga kadar lumpur jauh berkurang.


"Dijual dengan harga 1 liter 30 ribu rupiah, atau 1 galon 100 ribu rupiah, itu sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.


Di Desa Mertoyudan sendiri terdapat 10 lebih pembudi daya cacing sutera, yang sudah mempunyai link konsumen sendiri-sendiri," papar Julian, warga RT 1 RW 2 Dusun Soka Desa Mertoyudan Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang.


Kendala dalam pembudidayaan cacing sutera ini adalah keberadaan air di sawah harus selalu ada, agar cacing sutera bisa dipanen. 


"Karena intinya saat panen harus bisa memisahkan antara cacing dan lumpur, yang mana setiap pagi hari cacing akan naik ke permukaan, saat itulah bisa dipanen dari sawah dan dipindahkan ke ember penampungan," jelas Julian, yang membudidayakan cacing sutera di 11 kotak sawah.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar