Pohon Langka Tengsek Asal Gunung Merapi Mulai Dibudidayakan

Dilihat 454 kali
Sulistyo Wadi petani lereng Merapi yang membudidayakan pohon langka Tengsek

BERITAMAGELANG.ID - Pohon kayu Tengsek yang diyakini bertuah, kini coba dikembangkan di lereng gunung Merapi Kabupaten Magelang. Pohon ini sudah semakin langka karena jarang sekali orang yang menanam. Selain karena harus menunggu bertahun-tahun agar tumbuh besar, bibit pohon ini juga semakin sulit didapat. Padahal, pohon ini memiliki manfaat yang banyak untuk mengobati berbagai penyakit diantaranya kanker.


Atas dasar itu, seorang pemuda asal lereng gunung Merapi, Sulistyo Wadi mencoba untuk mengembangkan pohon kayu Tengsek. Saat ini, ia sudah memiliki sekitar 18 ribu bibit pohon Tengsek yang siap ditanam dimana saja. Ia mulai mengembangkan pohon ini sejak akhir 2017 atas rekomendasi dari Jatmiko, Ketua Forum Merapi Merbabu.


"Saya mulai mengembangkan akhir tahun 2017 atas rekomendasi pak Jatmiko, ketua Forum Merapi Merbabu Magelang," kata Sulistyo saat ditemui di rumahnya, Babadan I Desa Paten kecamatan Dukun kabupaten Magelang.


Rekomendasi itu sengaja digulirkan Jatmiko, lantaran pohon Tengsek semakin langka. Padahal, pohon itu merupakan pohon asli dari lereng gunung Merapi. 


"Pohon ini juga dikenal dengan nama Tengsek Sulaiman atau bahasa latinnya Rhynchocarpa monophylla backer," kata Sulistyo.


Menurutnya, pohon Tengsek dikenal di Asia. Bahkan negara Oman akan mengembangkan pohon yang kaya khasiat ini. 


“Masak kita yang memiliki pohon asli lereng Merapi ini tidak mengembangkan. Karena itu saya tergerak untuk membudidayakan," jelasnya.


Ia menceritakan, meskipun tidak memiliki ilmu untuk membudidaya pohon ini, dirinya tidak segan untuk selalu belajar secara otodidak. Berbagai referensi baik dari buku ataupun internet dibaca, kemudian dicoba. Baru 9 bulan kemudian, ia berhasil membudidaya pohon ini.


Bukan hal mudah untuk membudidaya, karena ia harus mencari bibit pohon ini ke hutan lereng Merapi. Ia juga harus naik ke pohon untuk mengambil biji yang mirip biji selasih. Dari hasil budidaya itu, sebanyak 30 persen sudah ia sumbangkan untuk dilestarikan ke berbagai gunung seperti Merbabu, Andong, Sumbing, gunung Sari dan Muria. Sedangkan yang 70 persen dijual karena ia tidak memiliki serapan dana dari pemerintah. 


"Budidaya ini murni swadaya dan menyerap tenaga kerja," terangnya.


Saat paling memprihatinkan ketika budidaya tahun 2019 dimana kemarau sangat panjang. Dana perawatan bertambah banyak mencapai Rp15 juta, untuk membuat 18 ribu polybag.


Kini, bibit pohon Tengsek sudah bisa dibeli di tempatnya. Ia menempatkan bibit itu di sebuah perkebunan yang tidak jauh dari rumahnya. Tingginya juga sudah mencapai 1,5 meter. Bibit ini juga di jual secara online. Sudah banyak orang yang membeli karena tahu khasiatnya yang beragam. Di negara Arab, Australia dan India, kayu tengsek banyak diburu karena berkhasiat sebagai obat herbal dengan cara direbus daunnya.


Menurut Sulistyo, pohon Tengsek ini bisa hidup sampai ratusan tahun lamanya. Memang butuh waktu yang sangat lama agar pohon Tengsek ini bisa tumbuh besar. Kelebihan dari pohon ini, bisa ditanam dimana saja, bahkan di halaman rumah juga bisa menjadi pohon hias.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar