Petani Tomat Ngablak Ikuti Sekolah Iklim BMKG

Dilihat 186 kali
Pembukaan Sekolah Iklim Lapangan petani tomat di Jogoyasan Ngablak Kabupaten Magelang Senin (3/8/2020).

BERITAMAGELANG.ID -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menggelar Sekolah Lapang Iklim (SLI) bagi petani tomat di Desa Jogoyasan, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (03/08/2020).


Secara simbolis Kepala BMKG Dwi Korita Karnawati bersama Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Magelang Romza Ernawan membuka SLI dengan tanam perdana tanaman tomat. Tomat merupakan tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Saat ini harga tomat dari petani mencapai Rp 5000/kg.


SLI ini digelar untuk memberikan ilmu cuaca dan iklim agar para petani memahami perubahan iklim sehingga dapat mengantisipasi hal-hal sebelum terjadi seperti persiapan tanaman yng sesuai, mengantisipasi serangan hama maupun gagal panen akibat kekurangan air.


"Harapannya dengan SLI kesejahteraan petani semakin meningkat," kata Dwi Korita disela-sela kegiatan tersebut.


Dwi Korita menjelaskan, seiring berjalannya waktu kalender pertanian Jawa Pranoto Mongso semakin sulit menyesuaikan pada perubahan iklim global saat ini. Kemajuan teknologi dan transportasi juga berpengaruh terhadap perubahan iklim saat ini.


Ditambahkannya, bahwa petani juga harus beralih dari konfensional ke digital, membuka membaca iklim sebelum tanam melalui media resmi BMKG. Melalui aplikasi itu petani dapat melihat potensi cuaca pada tujuh hari kedepan.


"Inilah yang akan diajarkan dalam SLI, agar petani bisa mandiri, mahir menghadapi kekeringan terjadi," jelasnya.


SLI Tomat ini di ikuti 27 petani Ngablak dan 3 PPL Dinas Pertanian Kabupaten Magelang. Metode pembelajaran adalah interaktif dan praktek lapangan dengan menerapkan protokol kesehatan Covid 19.


Kepala Stasiun Iklim Kelas I Semarang Tuban Wiyoso mengungkapkan Sekolah Lapangan Iklim Tanaman Tomat merupakan kerjasama BMKG dengan Pemerintah Kabupaten Magelang dan Anggota DPR RI Komisi V, Sujadi.


SLI Tomat ini merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan khususnya Pajale yang meluas ke hortikuktur  melalui pengolahan iklim. Petani mampu melakukan adaptasi terhadap iklim ekstrim seperti banjir dan kekeringan.


"SLI dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani memanfaatkan informasi iklim cuaca dalam pertanian," papar Tuban.


Bupati Magelang Zaenal Arifin, SIP melalui Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Magelang Romza Ernawan mengungkapkan wilayah Kabupaten Magelang memiliki luas 1800 hektar, terbagi dalam 21 kecamatan, 367 desa dan 5 kelurahan. Lahan sawah yang diolah petani 27 ribu hektar dan lahan kering 39 ribu hektar.


"Sehingga secara kumulatif 70 persen luas lahan di Kabupaten Magelang digunakan di sektor pertanian yang dikerjakan 57 persen", papar Romza.


Dijelaskan Romza, jumlah penduduk Kabupaten Magelang diperkirakan kisaran 1,2 juta jiwa lebih. Sedangkan secara geografis Kabupaten Magelang berada pada ketinggian 200-2000 mdpl yang cocok untuk perkebunan, pertanian, peternakan dan perikanan.


Kabupaten Magelang seperti cawan karena dikelilingi lima gunung yang berfungsi sebagai area tangkapan air. Keseimbangan alam itu harus kita jaga dengan mengelolanya secara bijaksana.


Antisipasi dari dampak fenomena iklim serta pengetahuan dan keterampilan petani dalam memahami informasi iklim menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.


"SLI ini meningkatkan literasi iklim dan pendapatan ekonomi petani," tegasnya.

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar