Petani Ngablak Antisipasi Perubahan Iklim Melalui SLI Operasional BMKG

Dilihat 308 kali
Panen raya tomat hasil SLI BMKG di Jogoyasan Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang

BERITAMAGELANG.ID - Pemahaman cuaca dan iklim melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI) Operasional yang digelar Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjadikan kemandirian petani di Kabupaten Magelang. 


Sebab, saat ini petani sudah mahir dalam menyusun strategi dan rencana tanam untuk meningkatkan hasil panen.


“Panen ini berhasil berkat kerja keras dari para petani dan penyuluh, serta berkat strategi perencanaan yg jitu," kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati usai melakukan panen perdana tanaman tomat bersama petani di Desa Jogoyasan Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jumat (6/11/2020).


Budidaya tomat hasil dari Sekolah Lapangan Iklim tersebut memberikan keuntungan besar bagi para peserta petani. Karena hasil panen meningkat hingga 50 persen.


Luas demplot SLI tanaman tomat di Desa Jogoyasan ini mencapai 1.000 meter persegi. Hasil panen mencapai tujuh kuintal lebih atau meningkat dua kuintal dibandingkan pola tanam biasa di kisaran lima kuintal saja.

 

Menurut Dwikorita, keberhasilan tanaman tomat itu tidak lepas dari pemahaman cuaca dan iklim para peserta SLI Operasional BMKG. Sebab SLI membuat mahir para petani dalam menyusun strategi dan rencana tanam untuk meningkatkan hasil panen.


"Kini petani dapat memanfaatkan musim kemarau yang basah berdasarkan analisis dari BMKG untuk menyesuaikan tanaman, agar tidak puso," ujar Dwikorita.


SLI Operasional ini diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan di masa Pandemi Covid 19.


Meski ditanam pada musim kemarau, hasil panen tanaman tomat di Desa Jogoyasan secara umum mengalami peningkatan, baik dari segi produktivitas maupun harga.


Saat ini harga jual buah tomat cenderung tinggi yakni Rp7.000/kg. Harga itu naik signifikan dibanding sebelumnya yang hanya di kisaran Rp2.000 per kilogramnya.


Dalam SLI BMKG juga membekali para petani cara mengatasi berbagai persoalan dari dampak iklim pada tanaman. Materi SLI itu sangat berguna bagi para petani karena kemudian dapat diaplikasikan dalam bercocok tanam sehingga minim resiko gagal panen.


"Yang dipelajari pengolahan lahan, dan pemilihan bibit yang berkualitas dan waktu tanam pas musim kemarau," kata salah satu peserta SLI BMKG Munirul Anam.

 

Menurut Munir, kemajuan teknologi dan perubahan iklim menuntut dirinya dan petani lain untuk berubah. Untuk mengetahui perkembangan cuaca, lanjut Munir, dirinya akan memanfaatkan informasi aplikasi android dan media sosial BMKG.


Ia mengaku semakin terbuka wawasan mengenai iklim, maka petani dapat mengantisipasi kerugian akibat serangan hama dan gagal panen.


"Hasilnya di daerah sini (dahulu) gak seperti ini, ini ada peningkatan setelah adanya sekolah SLI ini," ungkap Munir.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar