Petani Cengkih Menoreh Raih Berkah di Musim Kemarau

Dilihat 102 kali
Motheli cengkih petani Menoreh Desa Ngargoretno Salaman KabupatenMagelang

BERITAMAGELANG.ID - Para petani cengkih di perbukitan Menoreh Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang tengah bersemangat memasuki musim kemarau kali ini lantaran hasil panen cengkih mereka melimpah.


Setiap malam rumah warga diwilayah dataran tinggi itu pun tak pernah sepi dari aktifitas 'motheli' cengkih. Lampu setiap rumah menyala, menerangi aktifitas gotong-royong memisahkan cengkih dari tangkainya itu.


Proses motheli itu dilakunan malam hari karena setelah getah dari cengkih hilang. "Motheli bersama ini dilakukan malam setelah cengkih dipetik siang hari," kata petani cengki Menoreh Sigit dalam pekan ini.


Pagi harinya cengkih itu dijemur dengan panas matahari penuh selama beberapa hari hingga kering. Warna cokelat tua hingga kehitaman menandakan cengkih kering benar.


Fluktuatif harga dasar pembelian cengkih membuat petani Menoreh menjadikan rempah ini sebagai simpanan. Mereka menjualnya saat butuh atau disimpan selama beberapa waktu hingga harga tinggi.


"Harga cengkih merosot tajam. Basah hanya Rp. 18.000- Rp. 19.000/kg," kata petani lainnya Ahmad Soim.


Harga beli cengkih basah menurut Soim memang lebih murah dibanding cengkih kering yang saat ini tembus Rp. 40.000/kg. Jika dibanding masa sebelumnya cengkih Menoreh pernah menjadi idola yang memiliki harga fantastis hingga Rp. 100 ribu perkilogramnya.


Seperti tanaman lain, hasil panen cengkih Menoreh juga sangat tergantung dengan cuaca sekitar. Jika curah hujan tinggi disertai angin maka hasil panen akan berkurang karena bunga cengkeh rontok.


Namun jika angin dan hujan sedikit seperti sekarang ini maka kualitas panen cengkih melimpah. "Lumayan panennya bisa disimpan untuk kebutuhan kedepan," ujar Soim bersemangat.


Kemarau kali ini kiranya menjadi berkah tersendiri bagi petani cengkih perbukitan Menoreh karena selain tanaman cengkih perbukitan Menoreh juga memiliki potensi pertanian palawija yang menjadi andalan hidup petani setempat.

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar