Penuh Makna dan Kreativitas, Karnaval Desa Krogowanan Sawangan

Dilihat 264 kali
Tari Jingkrak Sundang mengawali karnaval HUT Kemerdekaan RI di desa Krogowanan Kecamatan Sawangan, Minggu (18/8).
BERITAMAGELANG.ID - Meski hanya tingkat desa, kemeriahan sangat terasa saat karnaval HUT ke 74 Kemerdekaan RI, yang diadakan warga desa Krogowanan kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang, Minggu (18/8). Ratusan warga berjalan kaki sepanjang empat kilometer dari jalan raya desa setempat hingga Tlatar.

Karnaval ini diawali dengan Tari Jingkrak Sundang, karya seniman Sujono. Berbeda dengan penampilan biasanya yang menggunakan gamelan, kali ini komposisi tari diiringi lagu dari Nusa Tenggara Timur, Gemu Fa Mi Re. 

"Sengaja kita pakai musik ini karena sedang ngetrend di desa ini," jelas Sujono.

Musik Gemu Fa Mi Re  ini membuat tarian lebih meriah dan bersemangat. Lagu ini belakangan memang populer dalam mengiringi berbagai gerakan, terutama senam. Sujono menggunakan lagu ini dipadukan dengan gerakan enerjik Tari Jingkrak Sundang.

Jingkrak Sundang ini pada dasarnya tercipta atas kegelisahan Sujono atas penambangan pasir yang semakin merusak alam. 

Jingkrak diartikan sebagai wujud kemarahan. Sehingga gerakannya sangat dinamis.

Berbagai hewan, mulai sapi, kerbau, kera, gajah, anjing, landak, celeng, kijang, kelinci, ular, singa, macan, tikus, trenggiling, sampai regul mengekspresikan kemarahan mereka. Sundang berarti tanduk yang menjadi simbol angkara murka.

Sujono mengatakan, semua karakter binatang sengaja diberi tanduk. Hal itu sebagai ekspresi kalau mereka sedang marah, karena ekosistem mereka direnggut oleh keserakahan manusia.

Tari Jingkrak Sundang  sengaja ditampilkan di barisan depan, menurut Jono, karena seseorang harus memiliki jiwa yang kuat, untuk menuju Indonesia yang unggul. Kesemangatan seperti Jingkrak Sundang dan harus memiliki wawasan yang luas dan indah.

Untuk keindahan, diwujudkan dengan fashion show yang ada di belakang Jingkrak Sundang.

Setelah indah, dibutuhkan jiwa yang  sehat.

 "Maka kita tampil kan senam," paparnya.

Salah satu yang melambangkan kesehatan adalah tampilnya bapak-bapak dan ibu petani.

Barisan paling belakang adalah cacing dan naga, yang memiliki arti pilihan hidup.

"Kalau kita mau sukses menuju yang lebih unggul, maka harus berani melawan tantangan, ejekan dan sesuatu yang dipikiran kita tidak mungkin tercapai, maka harus diterjang. Itu ada di sifat Naga," terang Jono.

Sedangkan cacing melambangkan orang yang ingin hidup aman saja, hidup dalam tanah dan hanya di seputaran itu. 

"Tapi aman dan kembali kepada pilihan hidup," lanjutnya.

Dalam karnaval juga ditampilkan tari Kukilo Gunung. Yang menarik, patung Naga dan cacing sengaja dibuat dengan menggunakan bahan limbah bambu. Busana untuk fashion show juga banyak menggunakan dari bahan alami dari desa setempat.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar