Pengungsian Banyurojo Dan Deyangan Hentikan Sementara Trauma Healing Dari Luar

Dilihat 299 kali
Trauma healing di TEA Banyurojo oleh Babinkamtibmas Mertoyudan
BERITAMAGELANG.ID - Lokasi pengungsian Merapi di Tempat Evakuasi Akhir (TEA) Banyurojo dan Deyangan tidak lagi menerima trauma healing dari pihak luar, menyusul peningkatan kasus Covid-19 di Kabupaten Magelang, terutama Kecamatan Mertoyudan.

"Ya kita mohon maaf tidak lagi menerima trauma healing dari luar, untuk mengantisipasi penyebaran kasus Covid-19," kata Kepala Desa Banyurojo, Ikhsan Maksum, Kamis (26/11/2020).

Ia mengatakan, sejak TEA ini ditempati pengungsi dari lereng Merapi Dusun Babadan I Desa Paten Kecamatan Dukun, pada 6 November lalu, banyak pihak luar yang ingin mengisi trauma healing untuk pengungsi. Bahkan jadwalnya sudah tersusun sampai beberapa waktu ke depan. 

Ikhsan mengatakan, trauma healing memang sangat disukai pengungsi. Karena mereka menjadi terhibur dan tidak jenuh di tempat pengungsian. Selain itu, mereka juga bisa mendapatkan pengetahuan baru. 

"Para pengungsi senang dan mereka bisa ceria gembira tidak jenuh," kata Ikhsan.

Namun karena kasus Covid di wilayah Mertoyudan naik cukup banyak, maka terpaksa trauma healing dari luar tidak diziinkan. 

Trauma healing nantinya akan diisi oleh relawan yang sudah terdaftar dan juga tim yang menangani pengungsi dari Banyurojo. Tim ini ada seksi kerohanian, pendidikan maupun trauma healing. Mereka yang diperbolehkan memberi trauma healing juga harus sudah menjalani rapid test. 

"Jadi sekarang tidak bisa sembarangan orang luar masuk ke lokasi pengungsian," tegasnya.

Hal sama juga disampaikan Kepala Desa Deyangan Mertoyudan, Risyanto, yang juga tidak lagi menerima trauma healing bagi pengungsi dari pihak luar. 

"Ya untuk mencegah penularan Covid-19 karena kasusnya sudah semakin banyak," katanya.

Untuk trauma healing bagi pengungsi nantinya akan dihandle langsung oleh tim penanganan pengungsi di Deyangan. Kebetulan di TEA Deyangan, didampingi tim dari Universitas Muhammadiyah Magelang untuk menangani pengungsi termasuk trauma healing. 

Bersama tim, pengungsi diajak bermusyawarah apa saja yang mereka inginkan selama di tempat pengungsian, untuk mengatasi rasa jenuh. Apalagi saat ini sudah hari ke 20 mereka mengungsi ke sister village.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar