Peneliti ESDM Ungkap Letupan Gas Di Salaman Aman

Dilihat 349 kali
Lokasi semburan gas di Kali Tangsi Dusun Drojogan Desa Sriwedari Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang

BERITAMAGELANG.ID - Sejumlah ahli didatangkan untuk meneliti munculnya letupan api dari tengah Sungai Tangsi di Dusun Drojogan Desa Sriwedari Salaman Kabupaten Magelang yang masih menyala hingga Minggu (18/4/2020).


Staf Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah Muhammad Mustangin memperkirakan fenomena tersebut timbul dari endapan sampah organik di dasar sungai tersebut.


"Bisa saja dari sampah tumbuhan yang tertimbun begitu lama yang akhirnya mucul gas metan," kata Mustangin usai melihat titik semburan api.


Menurutnya, gas metan itu muncul bersama gelembung air dan lumpur karena berada di tengah sungai Tangsi. Sedangkan munculnya api terjadi karena ada pemicunya. Jika tidak ada pemicu akan muncul rembesan-rembesan gelembung.


"Itu kan dipicu dengan anak-anak yang bermain api di sekitar lokasi, gas metan jadi menyala," ujarnya.


Ia menilai terdapat beberapa lubang cukup besar di bawahnya yang cukup menimbulkan hembusan lebih besar. 


Meski demikian, Mustangin menegaskan gas metan itu tidak berbahaya bagi kesehatan manusia dan hewan. Dicontohkan Mustangin jika kesimpulan dari gas metan itu seperti halnya biogas dari endapan kotoran hewan ternak yang bisa dijadikan sumber energi alternatif.


Hanya saja Mustangin berpesan dari sisi blowup (hembusan) tidak membahayakan karena tidak ada letusan. Namun gas itu jangan dihirup apalagi terlalu banyak karena berupa gas yang dapat berakibat sesak nafas dan pingsan.


 "Dari munculnya sampai sekarang sudah habis artinya potensi tidak besar," tegasnya.


Pendataan ESDM Jawa Tengah fenomena munculnya gas dari dalam tanah sering terjadi. Namun yang munculnya di tengah sungai baru pertama kali ini terjadi. 


Beberapa fenomena lain umumnya terjadi di daerah bekas rawa purba yang kebanyakan di daerah pesisir pantai.


Hal senada diungkapkan Kepala Desa Sriwedari, Supriyati. Menurutnya, diduga munculnya titik api itu setelah dilakukan normalisasi pengerukan sendimentasi alur Sungai Tangsi.


Normalisasi itu dilakukan dari Maret dan berakhir pada awal April 2020.


Lokasi titik semburan berada di tengah sungai yang merupakan tanah endapan sedimentasi. Sedimentasi yang membentuk daratan itu tidak jauh dari DAM irigasi Tangsi yang sudah ada sejak era kolonial Belanda di Indonesia. 


Saat cuaca cerah aliran sungai sangat dangkal dan menjadi arena bermain anak-anak setempat.


Supriyati menceritakan pertama kali gelembung gas ditemukan oleh anak-anak yang bermain di sekitar alur Sungai Tangsi yang kemudian dinyalakan menggunakan korek pada Jumat (17/4/2020). Semburan gas itu muncul di beberapa titik lubang yang beberapa hari sebelumnya terjadi hujan deras.


"Api sempat padam karena aliran sungai tinggi setelah hujan, tapi kemudian surut dan gelembung muncul lagi," ungkapnya.


Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan pihak pemerintah Desa Sriwedari memasang peringatan di sekitar lokasi. Masyarakat yang melihat pun diminta menjaga jarak untuk keamanan dari wabah Covid-19.


Pihak desa juga sudah melaporkan kejadian ini ke BPBD Kabupaten Magelang dan dilanjutkan dengan pengecekan lokasi oleh sejumlah pihak.

 

"Kemungkinan adanya gas alam ini dari timbunan sampah akan tetapi pihak terkait yang akan memastikan," jelas Supriyati. 


BPBD Kabupaten Magelang sudah melakukan pengecekan ke lokasi.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar