Pandemi Covid-19, Perayaan Hari Warisan Dunia Digelar Secara Daring

Dilihat 304 kali
Diskusi Perayaan Hari Warisan Dunia secara daring oleh BKB
BERITAMAGELANG.ID - Merayakan Hari Warisan Dunia, Balai Konservasi Borobudur (BKB) dan UNESCO menggelar kegiatan menarik upaya pelestarian di tengah ancaman wabah Covid-19 bersama sejumlah narasumber menarik.

Diskusi publik Borobudur dan Digital Heritage dengan tema utama 'Shared Cultures, Shared Heritage, Shared Responsibility' itu berlangsung selama satu jam.

Dua narasumber yakni Direktur Perlindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Fitra Arda dan tokoh masyarakat pelestari nilai budaya Sucoro mencoba menampilkan kolase budaya kasat mata dari Candi Buddha terbesar di dunia, Borobudur.

Kedua narasumber tersebut mengemukakan tentang konsep digital heritage, perkembangannya saat ini, dan bagaimana perannya dalam pelestarian Borobudur.

"Pelestarian warisan budaya yang melibatkan masyarakat itu penting. Sesuai dengan program Kemendagri tentang cagar budaya dalam UU otonomi daerah," papar Fitra.

Ditambahkan olehnya, tentang sebuah cagar budaya, ketika sudah menjadi kebanggaan dari masyarakat maka akan timbul interaksi dan reaksi sebagai bentuk pelestarian sesuai UU no. 5 tentang warisan budaya tangible intangible.

"Itu dengan masyarakat sebagai jembatan pelestarian yang hakiki, dan harus diapresiasi," imbuh Fitra.

Sejalan dengan konsep itu, tokoh masyarakat Borobudur Sucoro sudah mengawalinya. Dengan dedikasinya ia telah melakoni kegiatan Ruwat Rawat Borobudur (RRB) hingga memasuki tahun ke 17.

Menurut Sucoro, kegiatan RRB merupakan kegiatan masyarakat dalam rangka pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya yang diselaraskan.

Proses panjang telah dijalani untuk konsisten menggelar kegiatan RRB tersebut. Dedikasi terhadap budaya tradisional sekitar Candi Borobudur itu pun bisa bertahan dengan peran serta masyarakat dalam setiap kegiatannya.

"17 tahun lebih kita coba 'nguri-uri' tradisi, kebudayaan yang ada di sekitar Borobudur yang sebagian mulai ditinggalkan," ujar Sucoro.

Diskusi online pada Sabtu (18/4/2020) siang itu juga diikuti oleh berbagai kalangan, seperti akademisi, UNESCO, Taman Wisata Candi Borobuduru (TWC) mahasiswa, pelajar dan pelaku budaya tradisi dari berbagai wilayah.

Apresiasi kegiatan RRB diberikan oleh Andi Said dari Cagar Budaya Trowulan Jatim dan Kepala BKB Tri Hartono.

Mereka menilai bahwa RRB merupakan satu-satunya event di Indonesia yang berhasil mengajak masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan pelestarian warisan budaya.

Tak dipungkiri wabah Covid-19 menjadi ancaman dunia saat ini. Namun demikian setiap orang masih dapat berperan dalam melestarikan Borobudur secara aktif dari rumah masing-masing.

Hal itu dapat dilakukan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan sosial media seperti diskusi kali ini.

"Dalam kondisi ini pentingnya penguatan identitas dari komunitas komunitas penyelenggara kegiatan pelestarian warisan budaya itu," tegas Diana S. Hendratmo dari UNESCO Jakarta.

Rencananya diskusi ini akan rutin digelar guna meningkatkan minat masyarakat tentang arti melestarikan warisan dunia dari sisi nilai budaya dan tradisi.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar