Nasib Bajak Sawah Tradisional, Dibuang Sayang

Dilihat 15888 kali
Seorang petani di wilayah Kabupaten Magelang Jawa Tengah menggunakan bajak sawah tradisional yang mulai hilang tergerus jaman (foto Asef Armani)

BERITAMAGELANG.ID - Sebagai penduduk negara agraris, siapa yang tak kenal bajak sawah? Dahulu, alat tradisional yang ditarik hewan ternak untuk mengolah tanah tersebut sangat diandalkan. Namun seiring berkembangnya teknologi pertanian, keberadaan bajak sawah tradisional itu mulai hilang sehingga mengancam pola pertanian terpadu antara tanaman dan ternak. 
 
Di masa lampau, bajak sawah menjadi alat andalan para petani mengolah tanah pertanian menggantikan cangkul yang dirasa kurang praktis.
 
Namun, kini keberadaan alat pertanian yang mengandalkan hewan ternak seperti sapi, kuda, maupun kerbau tersebut mulai langka, karena tergeser oleh kemudahan mesin traktor berbahan bakar minyak.
 
Salah satu petani, pemilik bajak sawah tradisional di lereng Gunung Merapi, Desa Sedayu, Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang Jawa Tengah, Karyanto mengaku saat ini dirinya sudah jarang mendapat order dari para petani di daerahnya.
 
"Hewan kerbau di kandang ada dua ekor, sekarang lebih banyak nganggur, hanya sebagai klangenan (peliharaan hobi) saja karena sudah jarang dipakai mbajak," ungkap Karyanto.
 
Dahulu, lanjut Karyanto, pekerjaan membajak sawah sangat menjanjikan. Setiap minggu tak pernah sepi order dari para petani dari desa-desa wilayah Muntilan.
 
"Karena dahulu banyak pekerjaan membajak sawah, saya sampai memiliki tiga ekor kerbau dan dua ekor sapi dengan enam luku (rangkaian kayu bajak sawah). Namun kini sudah tidak bisa diandalkan lagi," lanjutnya.
   
Harga jasa penyewaan bajak sawah tradisional di pelosok dusun lebih murah hanya Rp. 50.000 sampai Rp. 75.000 per hari dibanding traktor mesin yang minimal Rp. 100.000 per hari.
 
Selain itu traktor sawah tradisional memiliki banyak keunggulan, salah satunya tekstur kondisi tanah atau dalam bahasa Jawa biasa disebut 'angleran' hasil pekerjaan bajak tradisional teksturnya lebih halus serta pori-pori tanah lebih mengembang, sehingga air mudah membantu proses ubah limbah organik paska panen menjadi humus.
 
"Bajak sawah menggunakan hewan memiliki kelebihan, yakni kaya akan pupuk organik dari kotoran hewan ternak yang digunakan tersebut," jelas Karyanto. 
 
Lebih lanjut, petani berusia 49 tahun ini mengungkapkan, proses kerja traktor mesin memiliki kekurangan juga, diantaranya tanah yang diolah menggunakan traktor strukturnya kasar karena pijakan mesin traktor tidak intensif dibanding dengan pijakan hewan kerbau maupun sapi.
 
"Kesuburan tanah menjadi berkurang dikarenakan bahan kimia sebagai bahan bakar penggerak traktor akan mencemari tanah menjadi lebih keras," tuturnya.
 
Nasib semua kelengkapan bajak sawah milik Karyanto pun kini teronggok, lebih banyak menganggur, menunggu lapuk.
"Mau dijual sayang, karena dua alat bajak sawah yang masih tersisa di rumah banyak kenangannya," tutupnya.  

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar