Museum Sebagai Sumber Belajar

Dilihat 490 kali
Museum dapat menjadi sumber belajar yang efektif bagi peserta didik. Wayang kulit Menak koleksi Museum Wayang Sasana Guna Rasa Borobudur

Seiring dengan gencarnya program pemerintah dalam mencanangkan gerakan sekolah menyenangkan, tentunya perlu diimbangi dengan peran guru. Dalam era sekarang, guru bukannya sosok yang serba tahu, namun hanya sebatas sebagai fasilitor yang mengantar peserta didik memahami dan mengaplikasikan materi yang disampaikan.


Pembelajaran di dalam kelas yang cenderung monoton, dapat menjadikan peserta didik jenuh. Imbasnya tujuan pembelajaran yang diharapkan tidak tercapai karena situasi di kelas tidak kondusif. Guru dapat mengantisipasi kejenuhan di kelas dengan membuat variasi pembelajaran di luar kelas, seperti halnya kunjungan ke museum.


Museum memiliki peranan yang sangat penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran, terutama ilmu-ilmu sosial. Selain sebagai sumber belajar juga dapat menjadi media pembelajaran.Sebagai sumber belajar, museum menjadi tempat peserta didik memperoleh informasi dan pengetahuan. Sedangkan sebagai media pembelajaran, museum memberikan kemudahan bagi peserta didik menerima sarana pengetahuan dari guru. Sehingga media sebagai komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi intruksional di lingkungan peserta didik, dapat merangsang peserta didik untuk belajar lebih aktif. Kegiatan observasi di museum, tidak hanya meningkatkan motivasi peserta didik, tetapi juga merangsang peserta didik untuk berpikir kritis.


Salah satu aset bangsa dalam menjaga dan melestarikan budaya warisan bangsa Indonesia di setiap daerah ialah melalui museum. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No.19 Tahun 1995, pengertian museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.


Sarana Komunikasi


Bila ditelisik lebih jauh lagi, sejatinya museum memiliki fungsi kompleks. Museum juga berkaitan erat dengan pelestarian dan pewarisan kebudayaan dalam kehidupan masyarakat sehingga museum juga dianggap sebagai lembaga penyimpanan, pengamanan, perawatan dan pelestarian hasil karya, cipta dan karsa manusia yang mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai simbol  identitas kehidupan masyarakat setempat (Sarkowi, 2020).


Lebih jauh lagi keberadaan museum sangat penting karena memiliki tanggung jawab dan fungsi untuk melestarikan, membina, sekaligus mengembangkan budaya masyarakat baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud. Melalui pesan-pesan yang dirangkai lewat display dan ruang pameran, museum di Indonesia berfungsi sebagai sarana komunikasi dan jembatan penghubung yang dapat memicu kesadaran dan pengetahuan bagi masyarakat. Keberadaan museum di Indonesia menjadi sangat penting mengingat museum tidak hanya memiliki fungsi sebagai pelindung benda cagar budaya, melainkan juga sebagai tempat pembentukan ideologi, disiplin, dan pengembangan pengetahuan bagi publik.


Museum di samping sebagai tempat koleksi budaya, studi dan penelitian juga terbuka luas untuk masyarakat umum. Dalam bidang penelitian museum berfungsi sebagai sarana  kegiatan riset dan penelitian bagi serta menyebarluaskan hasil penelitian tersebut untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Bagi dunia pendidikan dan masyarakat umum, museum juga terbuka untuk kepentingan pengembangan pembelajaran dan rekreasi. Oleh sebab itu, museum sudah semestinya bersentuhan langsung dengan kalangan milenial sebagai generasi yang menempati posisi terbesar dalam masyarakat.


Sumber Belajar


Keberadaan museum beserta koleksinya dapat menjadi sumber belajar peserta didik. Implikasi sumber belajar adalah semua bahan yang dapat memberikan informasi baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dipakai peserta didik dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar. Dengan melakukan observasi langsung ke lapangan dalam mencari sumber belajar, peserta didik di samping mendapatkan informasi baru, juga mendapatkan variasi pembelajaran yang menarik sekaligus menyenangkan.


Sebagai misal, dalam mata pelajaran seni budaya, guru dapat menugaskan peserta didik untuk mengunjungi Museum Wayang Sasana Guna Rasa Borobudur. Berbagia jenis wayang ada disini kulit,kayu,bambu dan batu. Ada juga topeng. Lukisan dan seperangkat Gamelan. Sekitar 600an judul buku tentang wayang dengan berbagai bahasa ada disini. Bahkan di museum ini ada sekitar 80an kaset rekaman wayang sejak 1971 hingga 1994, dan 50an kaset video rekaman pergelaran wayang sejak 1980 hingga 1990.


Adapun Koleksi wayang di museum itu berasal dari sejumlah daerah di Indonesia dan Luar Negeri seperti Jawa, Cirebon, Bali, Lombok, China, Kamboja, dan Turki. Museum itu juga mengoleksi wayang Kedu yang dibuat pada 1880.  Selain untuk menyimpan berbagai koleksi wayang di Tanah Air dan luar negeri, pengelola Museum Wayang Sasana Guna Rasa juga mendorong pemanfaatan objek itu sebagai sarana pendidikan budi pekerti bagi anak-anak sekolah, penelitian tentang seni budaya oleh kalangan akademisi, dan pelestarian wayang melalui pementasan wayang secara berkala terutama oleh para dalang muda.


Untuk mengoptimalkan peran museum sebagai sumber belajar, guru perlu mendampingi peserta didik pada saat melakukan kunjungan observasi. Mulai dari persiapan awal, guru perlu memberikan gambaran isi museum tersebut, termasuk menyiapkan angket pertanyaan yang akan digali selama kunjungan. Sedangkan, ketika kunjungan dilaksanakan, peserta didik didampingi agar semua yang direnanakan dari sekolah, seperti menggali informasi dapat terealisasikan.Pasca kunjungan peserta didik, diharuskan membuat laporan hasil observasi untuk dapat dipresentasikan.


Kunjungan ke museum tidak hanya sekadar berwisata, namun dapat dijadikan sumber belajar peserta didik yang nantinya sangat diperlukan untuk dapat melakukan observasi lebih mendalam sehingga kemampuan berpikir kritis mereka dapat berkembang.Dengan mengelaborasikan kemampuan berpikir kritis, memungkinkan peserta didik dapat memroses informasi peristiwa masa lampau sebagai pengalaman yang bermakna untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


(Oleh: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar