Wisatawan Dilarang Naik Lantai 9 Dan 10 Candi Borobudur

Dilihat 516 kali
Mulai Kamis (13/2) pengunjung Candi Borobudur Magelang tidak boleh naik ke lantai 9 dan 10, seiring dilakukannya kegiatan monitoring oleh Balai Konservasi Borobudur (BKB)

BERITAMAGELANG.ID - Pengunjung Candi Borobudur Kabupaten Magelang, mulai Kamis (13/2/2020) tidak dibolehkan naik ke lantai 9 dan  10. Larangan naik di kedua lantai itu dikeluarkan Balai Konservasi Borobudur (BKB) dengan berbagai pertimbangan. 


"Mulai hari ini Kamis (13/2/2020) kita membatasi kunjungan pada teras lantai 9 dan 10 candi Borobudur untuk kunjungan umum, sunrise maupun sunset," kata kepala Balai Konservasi Borobudur, Tri Hartono.


Tri menyampaikan, pembatasan kunjungan itu dalam rangka kegiatan monitoring struktur stupa teras dan stupa induk oleh BKB.


Tri mengatakan, pihaknya belum mengetahui sampai kapan penutupan teras 9 dan 10 ini akan diberlakukan.


Menurut Tri, permohonan pembatasan ini sudah disampaikan ke General Manager Manohara dan Taman Wisata Candi Borobudur. Karena kedua unit ini yang memiliki kepentingan dengan Candi Borobudur.


Ia menambahkan, kegiatan monitoring ini bertujuan mengetahui kerusakan di lantai 9 dan 10. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan BKB, lantai mengalami kerusakan sekitar 30 persen, sedangkan untuk tangga hampir 40 persen.


Untuk tingkat kerusakan juga bermacam- macam, antara 1 mm sampai 6 cm.


"Bahkan di beberapa lokasi ada yang membahayakan pengunjung karena ada yang terpeleset," ungkapnya.


Tri menyebutkan, keputusan untuk melakukan monitoring dan evaluasi di lantai 9 dan 10 ini, agar bagian yang paling suci di stupa Arupadatu ini lebih terawat.


"Kalau kerusakan dibiarkan terus, jelas akan kehilangan satu warisan budaya bangsa," ujarnya.


Padahal, imbuh Tri, pihaknya ingin warisan budaya bangsa ini tersambungkan pada generasi yang akan datang. Bukan eksploitasi bangunan sebesar-besarnya, namun menyebabkan kerusakan parah.


Di satu sisi, kata Tri, BKB masih memberi kesempatan pada masyarakat menggunakan lantai 9 dan 10, untuk kegiatan keagamaan,  dengan persyaratan tertentu.


Kepala Seksi Konservasi Balai Konservasi Borobudur Yudi Suhartono menambahkan,  Candi Borobudur sebagai ikon wisata di Indonesia, menjadikan jumlah kunjungan terus meningkat dari tahun ke tahun sampai menembus angka 4 juta per tahun. Pada saat peak season bahkan mencapai 58.000 orang/hari, dan kisaran 4.000-7.000 orang/jam menaiki struktur Candi Borobudur.


Kunjungan wisatawan yang cukup besar tentunya selain membawa dampak positif, juga membawa dampak negatif utamanya bagi kelestarian struktur Candi Borobudur itu sendiri. 


Apabila terjadi kerusakan pada bangunan cagar budaya tentunya sudah tidak akan pernah bisa diperbaharui lagi dan tidak bisa kembali seperti semula atau tidak bisa tergantikan. 


Keberadaan Candi Borobudur sebagai monumen terbuka sangat rentan terhadap pengaruh iklim yang dapat menyebabkan kerusakan, di sisi lain tingginya jumlah pengunjung yang naik ke atas struktur candi juga merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap laju kerusakan. 


Selain rentan terhadap pengaruh iklim mikro, Candi Borobudur juga rentan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh kunjungan wisata.


Gesekan alas kaki pengunjung dan pasir yang terbawa kaki dapat mengakibatkan keausan lantai tangga/selasar/undakan/teras candi. 


Yudi juga menyebutkan, perilaku pengunjung masih banyak dijumpai yang belum mendukung pelestarian candi. Seperti duduk-duduk atau memanjat dinding/pagar langkan candi atau stupa. 


"Padahal sudah diingatkan dan didekatnya ada papan peringatan dilarang coret-coret, menggeser, mencungkil, menggores . Karena juga membahayakan kelestarian batu-batu candi, " terangnya.


Perilaku pengunjung lain yang kurang mendukung kelestarian candi adalah membuang sampah sembarangan, menempelkan permen karet pada batuan candi, merokok dan mematikan puntung ditekankan pada batuan serta menyelipkan puntung pada nat batuan candi. Bahkan melompat-lompat di atas stupa atau langkan candi (parkour), menyentuh dan bersandar pada relief candi,  dan membawa benda yang berpotensi merusak batuan/relief candi. 

 

Menurut Yudi, perilaku pengunjung yang kurang mendukung pelestarian tersebut lebih sering dijumpai di bagian teras tingkat 8, 9, dan 10 Candi Borobudur. 


Salah satu akibat yang bisa dilihat pada stupa yang sering diduduki atau dipanjat adalah ausnya padma pada bagian lapis stupa, nat-nat bantu di lantai teras dan stupa 9 dan 10. 


Meskipun lantai 9 dan 10 candi ditutup, pengunjung masih bisa melihat dan menikmati puncak stupa dari lantai 8.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar