Muda Berkarya Di Tengah Pandemi Covid-19, “Pakai Masker Kain Tradisional”

Dilihat 207 kali

BERITAMAGELANG.ID-- Meskipun masih dalam masa pandemi Covid-19, namun hal itu tidak menjadi penghalang kreativitas bagi lebih dari 50 wirausahawan muda. Mereka menggelar Karya Masker Kain Tradisional yang dilaksanakan secara Live Virtual Show pada Rabu (16/9) malam.


Meskipun Gelar Karya Masker Kain Tradisional dilaksanakan secara Virtual ternyata banyak menginspirsi pemirsa yang mengikuti melalui canal Kanal YouTube Kita Muda Kreatif - https://s.id/KitaMudaKreatif, Instagram Live Kita Muda Kreatif - https://www.instagram.com/kitamudakreatif/, atau dan Facebook Live Kita Muda Kreatif.


Gelar Karya Masker Kain Tradisional bertajuk "Pakai Masker Kain Tradisional" merupakan sebuah kampanye membuat masker orisinal menggunakan kain tradisional Indonesia, termasuk ulos, batik, tenun endek, dan tenun Lombok. Masker-masker hasil karya para wirausaha muda yang mengikuti kampanye ini juga dapat dilihat di akun Instagram Kita Muda Kreatif (@kitamudakreatif). Selain itu masyarakat juga bisa menyaksikan siaran ulangnya melalui saluran youtube di https://www.youtube.com/watch?v=bluquo1MSdo.


Para wirausahawan muda yang tergabung mereka berasal dari beberapa daerah seperti Denpasar, Tabanan, Kota Tua Jakarta, Klaten, Jogjakarta, Borobudur, Lombok, dan Toba, yang turut serta dalam kampanye "Pakai Masker Kain Tradisional".


Sajian utama di acara ini adalah busana dan masker kain tradisional karya para peserta kampanye Pakai Masker Kain Tradisional. Kampanye tersebut merupakan bagian dari proyek Creative Youth at Indonesian Heritage Sites yang dijalankan oleh UNESCO Jakarta dan Citi Indonesia, dengan dukungan oleh Citi Foundation.


Karya-karya masker kain tradisional yang ditampilkan di acara tersebut sangat unik dan mengandung pesan-pesan budaya yang menarik. Seperti misalnya masker-masker kain tradisional karya wirausaha muda dari Borobudur, Jawa Tengah, yang diusung Putri Mara Widyastuti dari desa Wringin Putih dibawah brand Putri Batik yang mengangkat tema pesona warna alam dengan menggunakan kain ecoprint sebagai bahan masker dengan dominasi warna abu dari daun sawo.


"Saya ingin ingin mengajak si pemakai masker makin cinta dan bersahabat dengan lingkungan dan alam Indonesia," jelas Dyass Putri dari Putri Batik.


Karya lain dari peserta asal Borobudur adalah Masker dan Outfit karya Kelompok Batik Borobudur, yang mengambil inspirasi dari relief-relief di Candi Borobudur. Seperti masker dan outfit motif Wayang Jataka.


"Masker ini terinspirasi relief sisi timur lantai 3 lorong 1 pagar langkan atas bidang H, panil 10-12," ungkap Sisca Wahyanti, salah satu anggota kelompok Batik Borobudur.


Cerita-cerita penuh pesan kebajikan dari relief tersebut diangkat dan dituangkan dalam masker dengan kombinasi warna hitam dan coklat.


Sementara tiga wirausaha dari Klaten, Jawa Tengah, mereka adalah Sri Lestari dari kelompok Danke membuat karya masker Parang Lurik, yaitu batik parang yang disandingkang dengan lurik. "Masker ini mengandung filosofi "jangan menyerah" yang terinspirasi dari kondisi pandemi saat ini," ujarnya.


Ada pula masker dengan tampilan cerah ceria dengan tema HUT RI hasil karya dari Cori yang berasal dari Bayat, Klaten dari brand Batik Cemethik, berupa masker dari kain batik tulis motif truntum dikombinasikan dengan gambar peta kepulauan Indonesia, dengan warna dasar merah dan putih. Dari gabungan motif klasik batik truntum yang menyimbolkan cinta yang tulus abadi dan tanpa syarat, dengan peta Indonesia dan warna merah putih.


"Masker ini membawa pesan kecintaan pada bangsa dan negara Indonesia," Cori menjelaskan makna masker kain tradisional karyanya.


Masih dengan tema kemerdekaan, Rekna Indriyani yang juga dari Bayat, Klaten dibawah brand Danke membuat karya Masker "Gurdo" dalam bahasa Indonesia berarti Garuda. Motif "Gurdo" yang mana merupakan visualisasi dari burung garuda.


"Garuda ini melambangkan harapan untuk kemakmuran serta keberanian, semakin terasa maknanya dengan perpaduan warna merah dan putih," jelas Rekna Indriyani.


Selain dari Jawa Tengah, masker-masker kain batik yang ditampilkan di gelaran karya malam itu ada pula yang berasal dari kawasan Danau Toba dengan masker dari motif kain ulos, dari Kota Tua Jakarta dengan batik Betawi Terogong, Jogjakarta dengan batik, Bali yang menampilkan kain tenun endek, serta Bayan dan Pringgasela, Lombok, NTB yang menampilkan masker dari kain tenun Lombok.


"Inovasi membuat masker dari kain tradisional ini adalah sebuah terobosan baru sehingga para wirausaha muda di sektor kreatif dapat tetap menjalankan roda ekonomi keluarga mereka," kata Puni Ayu Tunjungsari, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia.


"Pandemi COVID-19 memberikan tantangan besar bagi kita semua di segenap sektor kehidupan. Pada saat bersamaan, hal tersebut juga memberi kita kesempatan untuk berpikir secara berbeda dan tetap tangguh. Segera setelah larangan pergerakan publik dan mengumpulkan massa diumumkan di Indonesia, UNESCO Jakarta segera mengubah bentuk kegiatan workshop dari pertemuan langsung di ruang kelas menjadi daring, memanfaatkan platform media sosial. Ini memungkinkan kami terus terhubung dengan para wirausaha muda kami dengan lebih sering. Kampanye Pakai Masker Kain Tradisional ini adalah salah satu dari hasil pelatihan-pelatihan daring kami," kata Prof. Shahbaz Khan, Direktur dan Perwakilan UNESCO Jakarta.


Antusiasme para pemirsa mengikuti acara ini sangat menggembirakan, ini dapat dilihat dari angka live streaming di YouTube yang mencapai lebih dari 2.500 penonton.


"Wah, Indonesia memang adibudaya," komentar Dwi Bambang di live chat YouTube ketika acara berlangsung.

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar