MTCC Unimma Dukung Kenaikan Cukai Rokok Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani

Dilihat 127 kali
Jumpa pers MTCC Unimma terkait dukungan kenaikan cukai tembakau, Jumat (18/9/2020)

BERITAMAGELANG.ID- Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) mendukung kenaikan kenaikan cukai rokok, sebagai upaya peningkatan kesejahteraan petani. Sudah seharusnya, Dana Bagi Hasil Cukai Hasil tembakau (DBHCHT) kembali kepada pemangku kepentingan dan sudah seharusnya peruntukan lebih fokus untuk petani dan buruh tembakau.


Ketua MTCC UNIMMA Retno Rusdjijati kepada wartawan, usai jumpa pers, Jumat (18/09/2020), mengatakan, MTCC UNIMMA sebagai organisasi yang concern pada kesejahteraan petani, berupaya untuk menyuarakan aspirasi petani ditengah polemik cukai. Dari petani dampingan MTCC UNIMMA, yang tergabung dalam Forum Petani Multikultur, menganalisa, masalah cukai dari perspektif alokasi pemanfaatan DBHCHT.


Mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 7 Tahun 2020, alokasi DBHCHT tersebut digunakan dalam lima kegiatan. Meliputi peningkatan kualitas bahan baku, pembinaan Industri, pembinaan lingkungan sosial, sosialisasi kebutuhan di bidang cukai, dan pemberantasan barang cukai ilegal. Penerimaan cukai merupakan kontributor ketiga terbesar dalam penerimaan dalam negeri, dimana 95 persen berasal dari Cukai Hasil Tembakau (CHT).


Menteri Keuangan Sri Mulyani telah mengeluarkan PMK Nomor 152/PMK.010/2019 tentang tarif cukai hasil tembakau. Dalam aturan ini pemerintah akan menaikkan cukai rata-rata mencapai 21,55% mulai Januari 2020. Dengan demikian, tarif cukai sudah mengalami kenaikan 73,53 persen sejak tahun 2015 hingga awal tahun 2020. Fakta inilah yang memunculkan polemik di semua media. Cukai selalu dikaitkan dengan pernyataan terkait peran Industri Hasil Tembakau (IHT) yang sangat strategis, sehingga selalu muncul polemik yang berkepanjangan.


"CHT justru lebih berorientasi pencapaian target penerimaan, daripada pengendalian atau pembatasan konsumsi rokok dan upaya peningkatan kesejahteraan petani," katanya.


Retno menyampaikan, bahwa sampai saat ini petani tembakau selalu ada dalam pihak yang dirugikan. Harga tembakau tahun 2020 dinyatakan petani sebagai harga terburuk selama 10 tahun terakhir. Demikian juga petani multikultur, harga panen sayuran berbagai jenis sangat rendah, menunjukkan bahwa belum ada dukungan kebijakan yang sinergis untuk peningkatan kesejahteraan petani.


"Kami minta agar petani dibantu pasca panen, bukan bantuan berupa bibit atau pupuk. Tapi pasca panen, belilah hasilnya dengan harga yang pantas," kata Panggung, salah satu petani bawang yang hadir dalam kegiatan tersebut. 

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar