Mengulik Serunya Permainan Tradisional di Kampoeng Dolanan Borobudur

Dilihat 607 kali
Bermain congklak atau dakon jadi salah satu pilihan permainan tradisional di Kampoeng Dolanan Desa Bumiharjo, Borobudur Kabupaten Magelang

BERITAMAGELANG.ID - Siapa sangka di Desa Bumiharjo, Borobudur Kabupaten Magelang menyimpan potensi wisata yang sangat menarik. Warisan leluhur berupa permainan tradisional yang belum termanfaat dengan baik menjadi latar belakang berdirinya Kampoeng Dolanan.


Kampoeng Dolanan mengedepankan konsep belajar sambil bermain dengan mengaktualisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap permainan tradisional.


Abbet Nugroho, pendiri Kampoeng Dolanan di tahun 2012 melihat kala itu belum ada potensi pariwisata yang berkembang di daerahnya selain Candi Borobudur.


Dengan memilih tagline atau tema dolanan tradisional, harapannya bisa menjadi ciri khas atau potensi wisata di Desa Bumiharjo. Di Kampoeng Dolanan ada ratusan permainan tradisional yang dipajang, disimpan, dan bisa dimainkan.


Berawal dari kecintaannya terhadap mainan tradisional, membuat Abbet mempunyai tekad besar untuk mengajak anak-anak merawat warisan Nusantara.


"Sejak kecil mainan saya jarang dibelikan tapi dibuatkan oleh bapak saya. Saat ini juga tidak menyangka, kok saya ngopeni (merawat) dolanan tradisional. Nah baru ketika sudah beranjak dewasa, saya belajar membuat sendiri," tuturnya.


Berbagai macam permainan tradisional yang tersedia di Kampoeng Dolanan merupakan buatan warga dan sebagian produksi dari UMKM di desa sekitar. Selama di sana, pengunjung dapat memanfaatkan waktu untuk bermain dengan beberapa permainan tradisional.


"Yang paling banyak diminati adalah Paket Dolanan Latar, kita bisa bermain permainan tradisional seperti gasing, bakiak, egrang bambu atau egrang bathok, dan gratis ikut workshop kerajinan dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar kita. Selama bermain kita juga ada pemandu dolanan," jelasnya.


Terdapat Paket Edukasi yang tidak kalah menarik yaitu bermain angklung, gamelan, tari tradisional, membuat gerabah, kreasi bahan alam, menyablon, mewarnai, melukis, hingga membuat jamu.


Paket berikutnya adalah Paket Edufarm, namun paket ini dapat dilakukan dengan melihat situasi kondisi yang ada karena kegiatannya lebih banyak di luar ruangan dan berada di sawah atau perkebunan.


Berbagai kegiatan yang ditawarkan antara lain menangkap ikan, tandur atau tanam padi, dan bajak sawah. Selain bermain, Abbet berharap anak-anak juga dapat belajar dari permainan tradisional yang ada di Kampoeng Dolanan ini.


"Dari permainan gasing, dapat mengajarkan anak untuk melatih fokus, ketelatenan, serta kekuatan permainan egrang dapat melatih keseimbangan, kekuatan, sinkronisasi motorik antara otak dan tubuh. Kemudian ada juga permainan bakiak atau gapyak. Nah, bakiak juga dapat mengajarkan arti kekompakan dan kerja sama," jelasnya.


Salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan anak-anak dengan gadget adalah dengan permainan tempo dulu. Selain mengajarkan cara bersosialisasi, empati, gotong royong, kejujuran, dan sportivitas, permainan tradisional dapat berpengaruh juga terhadap kesehatan anak.


"Saya tidak anti dengan teknologi atau modernisasi, namun kita sandingkan modernisasi dengan tradisional. Tetapi jangan meninggalkan yang tradisional, paling tidak tetap ada keseimbangan, jangan HP saja, tetapi anak dikasih ruang untuk bermain dengan temannya," tutur Abbet.


Terdapat pilihan paket lain yaitu Kamdol go to School dimana kegiatan ini dilakukan oleh tim Kampoeng Dolanan dengan mengunjungi berbagai sekolah dan mengajak anak-anak bermain di lingkungan sekitarnya.


Kegiatan yang diakukan dapat berupa outbond indoor atau outdoor hingga dolanan latar. Selain itu juga terdapat workshop seni budaya, seperti tari kesenian rakyat, angklung harmoni, dan pembuatan kerajinan bahan alam.


Tidak hanya itu, Abet mengajak pengunjung untuk praktik membuat dolanan tradisional dengan bahan alam sekitar yang ada. Seperti daun ketela dan rumput ilalang yang dapat digunakan untuk membuat wayang, dari janur dapat dibuat menjadi keris-kerisan hingga terompet.


Selain itu Kampoeng Dolanan juga memberikan sisipan seni budaya dengan mengadakan pelatihan tari dan latihan musik. Abbet menyebutkan ada 1.000 angklung yang bisa dibagikan pada pengunjung. Angklung ini disebut Angklung Kebangsaan atau Nusantara karena memainkan lagu-lagu tradisional dan dolanan, hingga lagu kebangsaan atau nasional seperti lagu dari Sabang sampai Merauke.


"Salah satu wujud nasionalisme, Kampoeng Dolanan mengajak anak-anak untuk mengamalkan nilai Pancasila serta cinta tanah air melalui cara yang menyenangkan dengan media seni budaya, pungkasnya.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar