Masker Lukis Digital Print Karya Yasumi Seniman Borobudur

Dilihat 343 kali
Yasumi, pelukis Borobudur membuat masker digital print dengan corak karya lukisnya
BERITAMAGELANG.ID - Masker wajah, kini sudah menjadi bagian penting dalam mencegah penyebaran covid-19. Masker ini diyakini mampu menghalau penyebaran virus saat kita berada di luar rumah.

Bahkan, kini masker sudah menjadi gaya hidup bagi banyak orang. Banyak corak dan model masker yang ditawarkan para pebisnis, terutama yang bergerak di bidang usaha jahit.

Namun siapa sangka, di tangan seorang pelukis perempuan, masker ini nampak sangat manis. Bahkan untuk satu lembar masker, harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.

Adalah pelukis Yasumi Ishii, yang tinggal di Dusun Tingal Kulon Desa Wanurejo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang, memiliki inisiatif membuat corak-corak masker dari hasil lukisannya. Untuk setiap corak dibuat dengan jumlah terbatas atau limited edition.

Secara sederhana, hasil karya maskernya dipamerkan secara virtual pada Minggu (14/6/2020), dengan tajuk "Mask Art Project 2020" Virtual Exhibiton. Pembukaan pameran dilakukan dengan sederhana di galeri Limanjawi Borobudur. Pemilik galeri ini tidak lain suaminya sendiri yang merupakan Ketua Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI) Umar Chusaeni.

"Kita gelar sederhana saja tidak ada kerumunan orang karena harus mengikuti protokol kesehatan," terang Yasumi.

Menurut Yasumi, pameran dan workshop merupakan hal penting bagi para perupa untuk sarana berkumpul dan diskusi. Namun, dalam masa pandemi covid-19, hal itu menjadi hambatan. Banyak event dan kegiatan seni yang tertunda dan bahkan dibatalkan.

"Namun, karena sekarang teknologi sudah semakin maju, maka saya sebagai pelukis mau tidak mau harus berkreasi bagaimana memamerkan hasil karya. Dalam kesempatan pertama ini, saya memanfaatkan masker sebagai medianya," ucapnya.

Masker dimanfaatkan sebagai pengganti media kanvas dalam proses berkarya.

"Masker saya pilih karena saya juga ingin mengajak para audiens untuk lebih memperhatikan gaya hidup 'New Normal"," katanya.

Masker buatannya berupa digital print karya lukisan. Namun ada juga batik tradisional yang dijahit sendiri oleh dirinya.

Ia menerangkan, untuk masker digital print, ia sengaja memilih beberapa hasil lukisan bertema binatang, seperti burung dan kucing. Namun ada juga lukisan manusia dan seni tradisional.

Pertama-tama yang dilakukan adalah dia memotret hasil karya lukisnya. Hasil potret kemudian ia olah kembali pada komputer, terutama untuk pewarnaan. Setelah pengolahan selesai, ia kirimkan ke perusahaan digital print yang ada di Jakarta. Setelah itu, hasil print dituangkan ke dalam bahan dan langsung dijahit menjadi masker.

"Khusus untuk masker digital print, semuanya dikerjakan di Jakarta. Kita tinggal terima jadi, hanya saja desain saya yang bikin," ungkap Yasumi.

Ia juga yang menentukan bahan untuk masker digital print. Bukan sembarang bahan yang digunakan, namun bahan Polyester yang memiliki kelebihan awet serta tahan terhadap kuman. Bahan ini juga tidak mudah berkerut, cepat kering dan tahan air.

Untuk lapisan dalam, Yasumi sengaja menggunakan kain katun berkualitas baik.

"Sehingga jatuhnya memang mahal karena semuanya dari bahan terbaik," imbuh Yasumi.

Satu lembar masker, harganya bisa mencapai Rp150 ribu.

"Mahal karena corak dan desainnya unik serta limited edition," katanya.

Selain masker bercorak lukisan, ia juga membuat masker dari bahan batik tulis. Ia sengaja memilih batik motif Mega Mendung dari Cirebon, karena ia pecinta batik itu. Untuk masker batik, ia juga melapisinya dengan kain batik tradisional. Dipilihnya kain batik tulis karena awet dan tidak mudah rusak bila harus berkali-kali dicuci.

"Untuk harga lebih murah sedikit dibanding masker digital print," katanya.

Yasumi juga mengatakan, ia membuat masker dengan corak lukisan karyanya, atas dorongan dari teman-teman. Banyak temannya terutama dari Jepang yang menyukai masker buatannya.

"Karena katanya dinilai unik dan bagus. Jadi tidak salah aku produksi masker lain daripada yang lain," tuturnya.

Ia pun bersyukur karena masker buatannya banyak yang menyukai dan akhirnya memesan.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar