Waktu Yang Berharga Untuk Sukseskan Eliminasi Tuberkulosis 2030

Dilihat 133 kali
Sukseskan Eliminasi Tuberkulosis (TBC) 2030

Seorang ilmuwan bernama Robert Koch yang berasal dari Jerman pada 24 Maret 1882 menemukan bakteri Mycobacterium Tubercolosis (MTB). Bakteri ini adalah penyebab penyakit Tuberkulosis (TBC). Oleh karena itu, setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS). Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian negara-negara di dunia terhadap penyakit TBC.


Tahun 2021 ini, HTBS mengusung tema The Clock is Ticking untuk menyampaikan kesan bahwa dunia kehabisan waktu untuk menindaklanjuti komitmen yang dibuat oleh para pemimpin global memberantas TBC. Hal ini sangat genting dalam konteks pandemi COVID-19 yang menimbulkan risiko pada progress mengakhiri TBC dan memastikan akses yang setara pada pencegahan dan perawatan. Upaya ini sejalan dengan World Health Organization (WHO) untuk mencapai cakupan universal. Merujuk dari tema dunia tersebut, maka tema nasional yang diambil dalam peringatan HTBS adalah “Setiap Detik Berharga Selamatkan Bangsa dari Tuberkulosis”. Tema ini menyampaikan dan menunjukkan bahwa setiap detik waktu yang kita miliki beharga dan perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kembali memperkuat komitmen dan upaya kita bersama dalam Eliminasi TBC dan Pencegahan Stunting (kondisi gagal pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama)


Apa itu TBC?


TBC adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis. Sebagian besar MTB  menyerang paru tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lain seperti: ginjal, tulang belakang, kulit, otak dan organ lainya. Penyakit ini menjadi penyebab kematian akibat infeksi tertinggi di dunia. Ada sekitar 1,7 juta orang meninggal akibat TBC, sedangkan di Indonesia diperkirakan ada 98.000 orang meninggal akibat TBC. Artinya dalam satu jam, orang meninggal karena TBC.


Tidak hanya dialami orang dewasa, TBC juga dapat dialami oleh orang yang memilki imunitas rendah seperti anak, pasien HIV (Human Imunodeficieny Virus), para lanjut usia dan yang memiliki penyakit penyerta. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tercatat jumlah penderita TBC terhitung mulai Januari sampai dengan Juni 2020 berjumlah 23.919 jiwa. Angka ini masuk dalam kategori tinggi.


Kenali Gejala TBC dan Penularan


Perlu kita ketahui, apa saja gejala TBC agar dapat terhindar. Batuk berdahak atau tidak berdahak, batuk berdarah atau ada darah di dahaknya, demam meriang, berat badan menurun dan letih, nafsu makan menurun, berkeringat tanpa sebab. Gejala tersebut patut kita waspadai. Semakin dini gejala diketahui maka akan mempermudah penanganannya.


Cara penularan TBC atau penyebaran TBC diawali dari kuman TBC keluar ke udara (melalui percikan dahak) pada saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Setiap orang dengan TBC aktif akan menularkan ke 10-15 orang di sekitarnya. Jika daya tahan tubuh lemah akan mudah terkena TBC. Orang yang terkena TBC terbagi menjadi dua jenis yaitu TBC laten dan TBC aktif. Orang dengan TBC laten tidak menyadari dirinya tertular bakteri TBC karena tidak merasakan sakit sebagaimana orang dengan TBC aktif. TBC laten tidak menunjukkan gejala, tetapi bakteri TBC tetap ada dalam tubuhnya. Biasanya kondisi ini dialami oleh orang dengan kekebalan tubuh yang kuat. Saat kekebalan tubuh melemah atau memiliki penyakit komorbid atau penyakit penyerta di kemudian hari, orang tersebut memiliki risiko tinggi menjadi TBC aktif. Berbeda halnya dengan orang dengan TBC aktif yang menyadari adanya infeksi dalam tubuh dan memeriksakan dirinya secara rutin ke rumah sakit serta melakukan terapi secara teratur.


Pengobatan TBC


Untuk mendukung eliminasi TBC tahun 2030, pemerintah Indonesia memberi fasilitas dengan memberikan obat secara gratis. Pengobatan TBC harus dilakukan selama 6-8 bulan pada pasien yang positif TBC. Memang membutuhkan waktu lama untuk pengobatan TBC karena bakteri TBC sulit dibasmi. Hal ini dikarenakan sebagian bakteri berada di luar dan di dalam sel. Sebagian obat TBC bekerja pada saat bakteri sedang aktif membelah, sementara pembelahan bakteri TBC sangat lambat. Jika diobati dengan singkat masih ada bakteri TBC yang tersisa dan menyebabkan kekambuhan penyakit.


Penyakit TBC dapat disembuhkan dengan cara cepat periksa, tepat hasil pemeriksaan dan taat menjalani pengobatan sampai sembuh dan tuntas. Bila tidak patuh berobat sampai sembuh dan tuntas maka bakteri akan menjadi resisten atau kebal terhadap obat sehingga pengobatan akan menjadi lebih lama dan mahal.


Cara pencegahan TBC sebagai berikut:


Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat


1. Makan makanan yang bergizi seimbang untuk meningkatkan daya tahan tubuh

2. Mencuci tangan dengan sabun

3. Olahraga  teratur

4. Ventilasi yang baik

5. Tidak merokok


Hal terpenting yang terkadang sering dilupakan untuk mencegah TBC adalah menjaga sirkulasi udara yang baik. Misalnya di rumah dengan cara rutin membuka jendela agar mendapatkan sinar matahari dan udara yang cukup, selain itu dapat juga menjemur kasur dan alas tidur serta tikar secara teratur agar tidak lembab. Menanam tanaman di dalam rumah, selain mempercantik ruangan membantu menghilangkan racun dan polutan (bahan yang menyebabkan polusi atau pencemaran) di udara sehingga udara terasa lebih segar.


Etika Batuk Yang Tepat


Perlu diketahui bahwa TBC akan identik dengan batuk, maka harus mematuhi etika batuk sebagai berikut:


1. Selalu gunakan masker

2. Jika batuk atau bersin, tutuplah mulut dan hidung menggunakan tisu. Buang tisu yang digunakan di dalam tempat sampah

3. Bila tidak ada tisu, maka jika batuk atau bersin tutup mulut dan hidung  menggunakan lengan baju atau siku bukan ke tangan kita.

4. Lakukan kebersihan tangan dengan air mengalir dan sabun atau antiseptik.


Dengan menaati pencegahan dan pengobatan tersebut maka kita ikut berperan dalam eliminasi TBC 2030, cegah TBC dan TOSS (Temukan Obati Sampai Sembuh).


Isti Maryunani, S.Kep.Ns

Perawat Ahli Muda

RSUD Muntilan Kabupaten Magelang


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar