Sosok Intelektual Seniman

Dilihat 1024 kali
Foto: jatengdaily.com

Pada umumnya publik menilai seniman merupakan profesi yang tidak jelas. Hidupnya nggak teratur, sosok visualnya  lain dari orang kebanyakan, terlalu idealis, impiannya seperti mau menggapai langit, dan masih banyak stigma lain yang kadang kala memandang sebelah mata potensi seniman. 


Namun bila ditelisik lebih jauh seniman adalah seorang intelektual, setara dengan para ilmuwan dan filsuf. Dalam seni terdapat aktivitas pengamatan, penelitian, dan perenungan atau kontemplasi untuk memulai ide proses kreatifnya atau pada saat evaluasi dari hasil karyanya. 


Seniman menuangkan hasil penelitian dan perenungannya melalui bentuk-bentuk simbol indrawi. Sedangkan para filsuf melalui bentuk verbal-logik. Para ilmuwan melalui verbal-logik-empirik. 


Semua karya seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan merupakan produk kesadaran subjektif masing-masing. Ketiga kegiatan intelektual manusia tersebut bertujuan sama, yaitu memberi cahaya, realitas, dan pencerahan kepada publik.


Realitas faktual


Urusan seniman pada prinsipnya adalah membuat hidup ini lebih layak untuk dihidupi atau hidup dalam dinamika realitas faktual. Hidup ini mengandung nilai-nilai yang terus muncul  dan hanya mampu ditangkap oleh kesadaran umat manusia. Eling lan waspada (selalu ingat dan waspada) adalah laku kesadaran yang membuat realitas faktual yang kacau balau ini menjadi suatu yang tertata dalam pikiran. 


Kesadaran yang membuat hidup ini lebih kaya makna adalah hasil dari tanggapan seniman terhadap realitas faktual. Tanggapan ini bukan semata-mata rasional, tetapi juga tanggapan emosiaonal dan intuitif yang tertuang dalam karyanya masing-masing baik itu, seni pertunjukan, seni rupa, seni sastra, atau seni media rekam. 


Karya seni adalah realitas kesadaran seniman yang  diwujudkan dalam bentuk-bentuk simbol publik, yakni budaya, sehingga realitas kesadaran itu dapat dihayati dan dipahami secara publik pula. Dengan demikikian bisa ditarik suatu tautan benang merah antara realitas kesadaran karya seniman dengan publik pendukungnya atau objek seninya.


Objek seni dapat berupa realitas faktual, yakni kata-kata, peristiwa, dan benda-benda. Taruhlah peristiwa Diponegoro yang sudah menjadi fakta dan kata-kata. Pertanyaannya, apakah hakikat Diponegoro itu? Kualitas apa yang terkandung dalam peristiwa tersebut? Untuk menjawab pertanyaan reflektif  tersebut, seniman memerlukan serangkaian penelitian secara intensif (Jacob Sumarjo, 2006).


Bila seniman akan membuat karya, baik teater, tari, atau seni rupa dengan tokoh sentral Diponegoro, tentunya ia perlu  mengumpulkan sebanyak mungkin data tentang Diponegoro. Mengunjungi tempat-tempat dimana Diponegoro singgah saat perang gerilya dengan Belanda. Mempelajari potret-potret  dan gambar-gambar dokumenter abad  19.  Mengunjungi istana Yogyakarta, mengunjungi istana kepangeranan, pusaka-pusaka kerajaan dan banyak lagi sebagai objek seni. 


Dengan melacak data-data tersebut, pengetahuan dan penghayatan atas Diponegoro menjadi semakin luas intens. Bila seniman mempu mengorelasikan satu dengan yang lain, akan menjadikan penemuannya lebih bermakna, walaupun belum banyak orang yang melihatnya. Semua data dan penghayatannya akan dapat memperkuat bangunan makna  yang diyakini merupakan substansi dari Pangeran Jawa dari Yogyakarta tersebut. Maka seniman akan lancar bila akan  menyusun struktur dan menyusun bangunan dalam proses kreatifnya, entah itu novel, teater, seni tari, lagu, lukisan, patung, dan sebagainya. 


Inti kreativitas


Kemampuan seniman menjalin berbagai hubungan realitas, baik itu realitas kesadaran maupun realitas faktual sudah masuk ke tahap inti kreativitas. Pola relasi yang ditemukannya merupakan titik tolak kausalitas wujud seninya. Pola hubungan yang dirajut dari berbagai sumber tersebut akan semakin memperkuat kualitas seni yang akan dihasilkan. 


Dengan demikian riset seni itu amat diperlukan, karena ia dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuwan dari sudut pandang seni. Kedudukan karya seni yang demikian tersebut setara dengan karya ilmiah dan filsafat. 


Metode semacam itu dapat diamati dari berbagai studi empiris para seniman. Sardono Waluyo Kusumo, penata tari Indonesia sebelum menciptakan tari Dongeng dari Dirah tahun 1974, ia harus tinggal berbulan-bulan di Desa Teges Kecamatan Ubud Gianyar Bali untuk menghasilkan karya tari yang membumi. Banyak juga sutradara teater yang harus berinteraksi lama dengan objek sasarannya untuk menghasilkan karya yang diharapkan. Seperti hidup dengan anak jalanan, hidup di rumah sakit, tinggal bersama di biara, dan sebagainya. 


Kembali proses kreatif suatu karya itu, juga butuh pengkajian dan pengalaman yang nantinya bisa menjadi referensi karya  seninya. Dengan demikian seniman tersebut bisa disejajarkan dengan sosok intelektual disiplin ilmu lain, walaupun langkah dan strategi yang dilakukan berbeda dalam menghasilkan suatu karya.


 

Ch. Dwi Anugrah

Ketua Sanggar Seni Ganggadata  

Jogonegoro, Kec. Mertoyudan 

Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar