Senjakala Teater Tradisional Ketoprak

Dilihat 106 kali
Foto: tamanismailmarzuki.co.id

Ketoprak merupakan teater tradisional sangat legendaris sejak puluhan tahun lalu disajikan dalam bentuk drama bahasa Jawa yang sangat merakyat. Eksistensinya telah tercatat dalam sejarah dan telah menempuh perjalan cukup berliku menapaki waktu dari masa ke masa dengan segala dinamikanya. Ada suatu keunikan dan keasyikan yang kini memang tinggal kenangan. 


Dulu orang satu desa berbondong-bondong datang berkumpul di rumah Bapak Kepala Desa untuk menyaksikan siaran ketoprak di televisi hitam putihnya. Jauh waktu sebelum acara dimulai, mereka sudah datang satu persatu berebut duduk paling depan dengan saling ribut dan berbisik. Mereka baru tenang ketika menyaksikan Mbakyu Waljinah berdendang menawarkan Anggur Beras Kencur 5.000 Gemini kepada Pak Gito dan Pak Gati. Selanjutnya mereka larut dengan cerita-cerita yang ditayangkan pada televisi hitam putih satu-satunya yang ada di desa itu.


Beberapa cerita ketoprak sangat berkesan dalam ranah ingatan mereka waktu itu. Ada cerita “Istana Yang Suram” oleh grup ketoprak Among Mitro, cerita “Mangir Wanabaya” dengan grup Sapta Mandala, cerita “Jambul Kramayudha” oleh grup kenamaan PS Bayu, dan sederet cerita-cerita lain yang sangat kaya akan kandungan nilai humaniora.  


Pagi harinya anak-anak seusia sekolah dasar ketika waktu istirahat bermain ketoprak-ketoprakan seolah-olah menirukan apa yang mereka saksikan tadi malam. Ada yang berperan sebagai tokoh antagonis atau protagonis juga tokoh prajurit. Mereka dengan penuh totalitas memerankan tokoh-tokoh tersebut sambil tak lupa memeragakan adegan perang yang menjadi kebanggaan mereka. 


Sementara itu Pak Guru atupun Ibu Gurunya secara diam-diam memperhatikan mereka dari kejauhan sambil tersenyum. Ada sebersit kebanggaan dalam wajah mereka. Anak-anak didiknya secara tidak langsung sudah punya kepedulian untuk nguri-uri kesenian tradisional Jawa yang adiluhung itu.


Panorama itu selalu ada di benak komunitas Jawa yang hidup di pedesaan perkiraan tahun 1970-an. Pada waktu-waktu tertentu, mereka berbondong-bondong baik laki-laki maupun perempuan, besar-kecil, untuk menuju ke lapangan kecamatan atau tempat tertentu guna menonton ketoprak tanggapan.


Ketoprak sebagai teater atau drama rakyat yang mengangkat cerita-cerita  dengan setting kerajaan, cerita-cerita Panji, cerita fiksi sejarah, sampai cerita-cerita yang mengadopsi  naskah mancanegara ini pada masa-masa tersebut terbukti  pernah menjadi seni pertunjukan yang  diminati oleh komunitas luas sampai ke pelosok-pelosok pedesaan. 


Kiat-kiat khusus


Kini ketoprak semakin sayup sampai tak terdengar lagi suara kepraknya. Kebanyakan orang punya gawe sudah tak lagi nanggap ketoprak. Mereka lebih senang nanggap organ tunggal. Alasannya lebih ngirit, dan bisa diolah menjadi musik apa saja termasuk ndangdhut atau campursari yang kini banyak digandrungi. Sedangkan tayangan rutin di TVRI pun kini tak menentu. Maka, semakin sempurnalah terpuruknya ketoprak, apalagi pesaingnya stasiun-stasiun televisi swasta yang lebih glamor menayangkan selera-selera pop yang spektakuler (Majalah Gong: edisi 57 tahun 2004).


Memang di antara realita dan mimpi, perjalanannya ke depan ketoprak dituntut untuk mempunyai naluri yang peka terhadap dinamika dan modernisasi agar bisa tetap survive. Maka jika ketoprak ingin butuh lestari perlu kiat-kiat khusus guna bersaing secara kompetitif dengan budaya pop yang punya energi kuat terhadap publik. Adapun alternatif solusinya antara lain sebagai berikut.


Pertama, ketoprak menjadi seni panggung. Dengan mengembalikan menjadi seni panggung lengkap dengan lighting, sound system, dan skeneri yang ditata secara profesional dapat menjadi daya tarik publik. Kedua, menghimpun penonton baru. Kiat ini dapat dilakukan dengan teknis menarik penonton yang bekerjasama dengan pihak sponsor. Ketiga, membuat gagrak (gaya) baru mengenai format pertunjukan maupun makna kontekstualnya. Dengan membuat gaya  inovasi selaras dengan era kekinian yang dekat dengan komunitas pendukungnya dapat menjadi pintu masuk ketoprak menjadi media hiburan yang punya tempat tersendiri. 


Keempat, kejelian mencari maecenas atau impresario didukung dengan manajemen profesional. Salah satu faktor stagnasinya kesenian ketoprak di antaranya ketidakmampuan pengelola mencari penyandang dana dengan teknis manajemen yang profesional. Untuk itu kiat-kiat tersebut perlu menjadi bahan pemikiran agar langkah-langkah ke depannya tidak terlalu banyak batu sandungan.


Keprihatinan bersama


Dengan demikian tergesernya ketoprak sekarang ini perlu menjadi keprihatinan bersama. Kiranya semua pihak perlu juga memberikan kontribusi pemikiran agar ikon seni pertunjukan legendaris ini tetap bisa menjadi media hiburan yang mendidik. Menyinergikan tata teknis pentas ketoprak dengan perkembangan sains dan teknologi merupakan suatu upaya positif. 


Memang globalisasi budaya seperti yang terjadi saat ini merupakan sesuatu yang tak dapat dielakkan dan perlu diadaptasi oleh para seniman ketoprak karena banyak benefit yang bisa diperoleh. Harus diakui bahwa teknologi komunikasi sebagai salah satu produk dari modernisasi sangat bermanfaat besar bagi terciptanya  dialog dan demokratisasi budaya secara massal dan merata. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah kesiapan mental masyarakat dalam menerima pengaruh budaya asing yang disebarkan melalui kemajuan teknologi komunikasi. 


Perlu juga diingat bahwa tradisi tidak dapat membiakkan atau mengembangkan dirinya sendiri. Hanya komunitas sekarang yang hidup, mengetahui, dan menginginkannya sajalah yang dapat menghidupkan  dan menyesuiakan  tradisi  dengan kondisi yang hidup  di masa kini. 



Ch. Dwi Anugrah

Ketua Sanggar Seni Ganggadata

Jogonegoro, Kec. Mertoyudan

Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar