Senja Kala Tembang Dolanan Anak

Dilihat 237 kali
Dakon (congklak) salah satu permainan anak tempo doeloe yang kini sudah jarang ditemukan. Foto: wordpress.com

Kupu kuwi tak encupe

Mung abure ngewuhake

Ngalor ngidul ngetan bali ngulon

Mrana mrene mung saparan-paran

Mbok ya mencok tak encupe

Mentas mencok cegrok banjur mabur kleper

Tembang dolanan anak laras pelog pathet nem itu dulu sering didendangkan oleh anak-anak seusia Sekolah Dasar ketika malam terang bulan purnama, terutama pada saat malam libur. Tembang itu merupakan ajakan pada teman-teman sebaya di lingkunganya untuk ramai-ramai bermain di halaman rumah. Bentuk permainan itu antara lain berupa jilumpet, gobag sodor, jamuran, dan permainan yang mengasyikkan lainnya.

Kini seiring dengan perkembangan sains dan teknologi, telah mampu menggeser norma-norma sosial kemasyarakatan yang berpengaruh besar pada perilaku anak-anak. Kalau dulu perilaku anak-anak lebih mengedepankan prinsip-prinsip kebersamaan, kini mereka lebih memiliki sifat-sifat individual dalam bermain. Meskipun masih dijumpai mereka bermain bersama pada waktu-waktu tertentu, khususnya di sekolah.

Terlebih lagi waktu dulu bila anak-anak akan bermain pasti berusaha mencari teman-temannya. Bedanya saat ini permainan modern banyak yang dilakukan secara individual misalnya game watch, play station,dan segudang jenis lainnya. Anak-anak sekarang justru akan marah bila ketika bermain diganggu temannya. Kasus tersebut tentunya juga berpengaruh pada pembentukan sifat dan perilaku pada diri anak-anak.

Yang sangat terasa sampai saat ini, justru dari jenis permainan yang dikatakan modern itulah egoisme anak semakin ditumbuhkan dan kepekaan sosialnya semakin dibutakan. Akan sangat berbeda dengan dolanan anak tempo doeloe yang lebih mengedepankan pola-pola olah rasa dan olahraga. Tak bisa dinafikan dolanan anak tempo doeloe dapat lebih mengakrabkan si anak dengan lingkungan dan juga sesamanya.

Pendidikan Budi Pekerti

Kemajuan teknologi itu juga berimbas besar pada elaborasi tembang dolanan anak. Meski di sekolah tembang dolanan anak kadangkala masih diajarkan, tetapi anak-anak jarang melantunkan di rumah. Kini jangankan mendendangkan tembang dolanan dari mulutnya, syairnya saja tidak hafal. Bahkan sebagian besar tidak mengenalnya. Padahal lirik-liriknya sarat akan makna pendidikan budi pekerti. Hal itu juga diperkuat oleh Peter Fletcher dalam tulisannya Education and Music (1987) yang menegaskan bahwa lagu ataupun tembang menentukan peran yang sangat signifikan dalam proses pendidikan. Berdasarkan pengamatannya, pencapaian musikal yang riil akan berdampak besar terhadap akses perkembangan kepribadian anak.

Dari sekian jenis tembang dolanan anak semula memang hanya dinyanyikan anak-anak sambil bermain dan manari-nari. Kemudian untuk lebih menarik dan indah dinikmati, tembang itu diaransir dengan iringan gendhing yang dikenal dengan gendhing dolanan bocah.

Tembang dolanan anak merupakan seni budaya leluhur yang sarat makna lewat gubahan lirik-liriknya. Diantaranya dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Menumbuhkan dan membimbing kedewasaan jiwa anak, menanamkan budi pekerti luhur, tanggung jawab, serta menumbuhkan rasa cinta pada lingkungan dan sesama. Selain itu, lirik lagunya kadang-kadang bernuansa kocak, bisa menyingkirkan watak degsura (sewenang-wenang), adigang adigung adiguna (congkak) dan makna semiotika lainnya yang sangat berguna sebagai bekal kehidupan.

Aktualisasi Diri

Seperti diketahui dunia anak adalah bermain, bergembira, berekspresi yang muaranya pada totalitas untuk mengaktualisasikan diri. Untuk itu semua jenis lagu yang dikonsumsi anak-anak hendaknya dapat memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak-anak untuk menikmati dunianya. Oleh karena itu apabila dilihat dari aspek isinya, lagu-lagu itu juga bersifat mendidik dan memanusiakan.

Hal itu dapat dicermati lewat lirik-lirik tembang yang dibawakan. Tembang Jamuran, misalnya. Di dalamnya mengandung makna yang bersifat mendidik, karena lirik dan permainannya mendidik anak untuk selalu membina relasi baik dengan teman-temannya ataupun lingkungan alamnya.

Lain lagi lirik tembang Menthog-Menthog berisi nasihat yang ditujukan pada anak yang malas. Anak malas itu digambarkan seperti seekor unggas yang disebut Menthog. Binatang itu sangat memalukan, karena betahnya mendekam dan tidur di kandangnya. Meskipun begitu, binatang itu dapat membuat tertawa terpingkal-pingkal, karena jalannya yang megal-megol kaya para penyanyi ndangdut sedang in action. Liriknya pun bersifat mendidik anak untuk tidak malas dan saling instrospeksi bahwa dalam diri manusia itu pasti ada unsur baik maupun buruk.

Dengan demikian di era globalisasi yang serba konsumtif ini, dibutuhkan kepedulian semua pihak untuk tetap melestarikan eksistensi tembang dolanan anak guna memfilter pengaruh budaya asing yang membanjir bagai air bah baik melalui media massa ataupun elektronik. Alternatif solusi yang dapat ditempuh, alangkah idealnya pemerintah dapat memasukkan tembang dolanan anak itu dalam kurikulum pendidikan apresiasi seni di semua sekolah.

Resultansi dari pendidikan apresiasi tersebut dapat dilihat parameter keberhasilannya dengan menampilkan dalam ajang festival baik itu tingkat kecamatan, kabupaten, ataupun tingkat provinsi. Sehingga anak-anak akan terpacu untuk mendalami dan mencintai tembang dolanan tersebut karena terdapat media untuk berekspresi. Di samping itu peran orang tua di rumah dalam mendampingi anak sangatlah signifikan, karena pilar utama keberhasilah pendidikan anak adalah keluarga.

Adapun sosialisasi tembang dolanan anak sebagai alternatif lain dapat melalui penerbitan buku-buku pelajaran yang di dalamnya termuat kandungan tembanng-tembang dolanan anak. Isi buku tersebut seyogyanya padat, singkat, mudah dimengerti, komunikatif dan menghibur. Kampanye ke sekolah-sekolah dapat diestafetkan melalui buku-buku tersebut. Tentunya, guru juga punya peran yang sangat signifikan untuk menyosialisasikan tembang dolanan anak tersebut. Guru perlu memberikan materi tembang dolanan berdasarkan buku panduan dengan efektif, efisien, menghibur, dan familiar.


Ch. Dwi Anugrah

Ketua Sanggar Seni Ganggadata

Jogonegoro Mertoyudan Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar