Seni Pertunjukan Rakyat Dalam Dinamika Industri

Dilihat 311 kali
Tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan seni pertunjukan rakyat yang hidup dan berkembang sampai saat ini lebih banyak ditopang secara penuh oleh pola budaya komunitas agraris. Tatkala mulai dari pagi, siang hingga sore mereka bekerja seharian di sawah dan tegalan, pada malam harinya menghibur diri dengan aktivitas berkesenian. Dalam implikasinya seni rakyat dapat memberikan kontribusi, yakni menghibur diri dan memberikan semangat kepada para petani yang suntuk  bekerja di sawah.
 
Di pelosok-pelosok pedesaan dan di puncak-puncak gunung dapat dijumpai  para petani melakukan aktivitas kesenian di malam hari. Adapun jenis kesenian yang digeluti di antaranya kudalumping, slawatan larasmadya, santiswara, laras pitutur, madya pitutur, srothul, srandhul, rodhat, kobrasiswa, kuntulan, trengganon, badhui,  mandrawanara, wayang wong, kethoprak, dan sebagainya. Seni rakyat itu dijadikan  sebagai alat untuk mengadakan upacara ritual, misalnya upacara mertidesa atau bersih desa. Upacara-upacara itu dilakukan oleh para petani, karena ada harapan  lahan pertaniannya akan menjadikan  subur, apabila sebelumnya telah diadakan pentas seni.  
 
Di balik itu, saat ini telah terjadi distorsi  kehidupan seni rakyat, sehingga ada masyarakat yang sudah meninggalkan tradisi-tradisi seperti di atas. Lebih ekstrim lagi, bahwa ada di antara anggota masyarakat, termasuk generasi mudanya banyak yang sudah tidak mengenal lagi berbagai kesenian yang telah disebutkan di atas. Fenomena tersebut kiranya perlu diurai sampai tingkat kedalamannya.
 
Semakin Memudar

Kehidupan seni rakyat pada masa ini terasa semakian memudar dan terpinggirkan. Walaupun di beberapa daerah kelompok kesenian bertumbuh seperti jamur, namun fenomena tersebut hanya sesaat alias temporer. Ketika marak-maraknya pentas mereka muncul, namun kontinuitas bila tidak banyak job organisasi ini lama kelamaan nyala apinya  meredup. Fenomena ini dialami oleh beragam kesenian yang hidup di seluruh wilayah Indonesia.
 
Dalam proses perjalanan waktu, ketika elaborasi industri mulai digalakkan, secara fisik telah mengubah wajah desa menjadi kota. Sosok kota selalu merupakan pusat-pusat: pendidikan, pemerintahan, dan ekonomi. Sebagai pusat pendidikan, di kota terlihat adanya kampus, sekolah, kursus, dan pusat-pusat latihan keterampilan.  
 
Dengan demikian suatu kota pasti di dalamnya terdapat beragam kesibukan. Aktivitas masyarakat kota yang lebih banyak dipengaruhi pembangunan industri menumbuhkan budaya konsumerisme, dalam arti segala sesuatu yang dimiliki seseorang selalu diukur dengan nilai  dan kepentingan ekonomis.
 
Melihat situasi dan kondisi masyarakat kota seperti itu, berarti arus budaya industri telah dibawa masuk ke kawasan kota. Masyarakat perkotaan yang identik dengan masyarakat industri biasanya melakukan aktivitas kesenian hasil kemasan dari suatu perindustrian. Sebagai contohnya adalah mendengarkan kethoprak, wayang wong,  musik campursari lewat media audio: radio dan tape recorder,  serta media audio-visual: televisi dan VCD.  
 
Berkaitan dengan hal tersebut, tidak dapat dipungkiri bila pada dasawarsa terakhir ini tumbuh kesenian populer sebagai akibat dari produksi  massal kesenian yang disebabkan oleh pembangunan industri, termasuk industri kesenian. Dalam fenomena budaya ini pentas-pentas seni rakyat juga diolah secara populer.
 
Seni populer cenderung mengarah pada pertunjukan yang melayani selera publik dan mengabdi pada tujuan pasar (market oriented). Para seniman (pengolah seni) harus takluk pada selera publik.  Mereka secara realistik menyatakan bahwa seniman butuh makan demi melangsungkan kehidupannya. Para seniman melakukan pertunjukan yang digemari oleh masyarakat saat ini. Pentas seni yang dimaksud cenderung pentas-pentas seni yang bersifat vulgar, jenaka, tampak ramai, dan tidak menjadikan penonton mengantuk.
 
Sampai saat ini bisa ditengarai seni rakyat hanya menjadi barang industri yang dianggap mampu menyesuaikan kondisi zaman. Menghadapi realita demikian, seni rakyat perlu menata diri agar tidak larut dan tunduk pada arus global
 
Dalam proses industrialisasi, hanya produk-produk industri yang biasanya berorientasi profit (menguntungkan) atau barang yang bisa diukur berdasarkan kategori ekonomis. Bentuk barangnya biasanya berupa packing atau kemasan yang menarik. Salah satu dampak  industrialisasi adalah munculnya konsumerisme, karena barang-barang kemasan yang dihasilkan didistribusi secara massal dengan harga yang dapat dijangkau oleh seluruh kalangan masyarakat.
 
Di dalam dimensi industri, masyarakat tidak harus pergi jauh-jauh mencari tempat hiburan, atau meninggalkan rumah untuk melihat pertunjukan langsung, misalnya wayang kulit semalam suntuk, kuda lumping  dari siang hingga sore, kethoprak dari jam 20.00 hingga 24.00, dan berbagai pertunjukan lainnya. Dalam arti, jika mereka hendak mencari hiburan tidak harus masuk ke arena pertunjukan.
 
Masyarakat sebagai penggemar tidak perlu membeli tiket untuk menyaksikan sebuah pertunjukan. Lewat barang-barang industri, bisa menyaksikan pertunjukan di rumahnya sendiri, tanpa harus keluar rumah. Mereka cukup menyaksikan wayang orang, wayang kulit, kuda lumping, kethoprak lewat TV, video, tape recorder, VCD, dan laptop. Untuk mencari hiburan cukup memanfaatkan barang industri (Sutiyono, 2012).
 
Munculnya media elektronik seperti TV, video, tape recorder, VCD, laptop juga membawa dampak pada bentuk kesenian yang tadinya utuh harus terpaksa dipadatkan atau diringkas bentuk penyajiannya  karena masuk industri rekaman. Sebagai contoh, bila suatu gendhing atau lagu dalam seni karawitan yang tadinya disajikan selama satu jam, maka setelah masuk industri rekaman harus disajikan selama 15 menit saja. Inilah pengaruh industri yang memaksa kesenian dijadikan sebagai barang kemasan dalam pelipatan ruang dan waktu.
 
Dilipat artinya terjadi pelipatan ruang dan waktu. Melipat waktu artinya memperpendek jarak waktu, dengan meingkatkan kecepatan atau menperpendek durasi. Sebagai contoh seni rakyat yang tadinya biasa dipertunjukan dari siang hingga sore bisa dilipat waktu pertunjukannya menjadi satu jam dalam bentuk pita kaset. Barang ini bisa dibawa masuk kamar tidur, mobil, ruang kerja di kantor, dan sebagainya.  
 
Sebagai pengaruh dari industri, seni yang tadinya merupakan seni serius, sekarang cenderung menjadi seni pop. Perlu diperhatikan, bahwa sendi dari kebudayaan pop adalah sifat pembawaan masyarakat yang materialistis, karena pola kehidupannya telah masuk dalam taraf industrial yang modern. Pembawaan masyarakat ini juga mudah untuk membeli dan mendapatkan barang industri yang dijajakan oleh penjual di berbagai tempat.
 
Munculnya media elektronik sebagai dampak proses industri seperti tape recorder, TV, video, VCD, DVD, membawa dampak pada bentuk seni rakyat misalnya Jathilan yang tadinya disajikan secara utuh harus terpaksa dipadatkan atau diringkas bentuk penyajiannya karena telah masuk dapur rekaman. Sebagai contoh, jika pertunjukan Jathilan biasanya disajikan selama enam jam dari jam 12.00 siang hingga jam 18.00 sore, maka setelah masuk industri rekaman harus mengalah disajikan dalam tempo satu jam.
 
Demikian pula ketika menghadapi arus global, seni rakyat seharusnya  tidak begitu saja mudah tergerus. Seni pertunjukan rakyat  harus mampu menata diri dengan kembali pada  muasalnya, yakni  tetap setia pada konvensi atau pakem yang sudah turun temurun.  Yang dimaksud kembali ke muasalnya  bukan berarti kaku atau sempit dalam menghadapi arus industrialisasi. Tetapi harus konsisten terhadap muatan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai penyangga kebudayaan.

Atas dasar itu, dapat disinyalir bahwa seni rakyat yang hidup di daerah pedesaan dengan jumlah mencapai ratusan kelompok dapat dipastikan memiliki nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) dan kejeniusan lokal (local genius).  Hanya saja nilai-nilai kearifan lokal tersebut belum banyak digali secara optimal.
 
 
Ch. Dwi Anugrah
Ketua Sanggar Seni Ganggadata
Jogonegoro, Kec.Mertoyudan
Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar