Seni Musik Untuk Bela Rasa

Dilihat 218 kali

Oleh Ch. Dwi Anugrah


Dalam upaya mencegah mata rantai penularan Covid-19, dibutuhkan kepedulian dari semua pihak termasuk seniman. Karena itu, Didi Kempot  menggelar konser amal yang salah satu tujuannya, mencegah penyebaran Covid-19 dengan mengajak jutaaan penggemarnya yang tergabung dalam Sobat Ambyar untuk tidak mudik.

 

Konser amal yang berlangsung dari rumahnya mendulang sukses luar biasa. Yang pasti semua kerja keras yang dilakukan oleh seorang Didi Kempot dalam menggelar konser tak sia-sia. Sukses menyita jutaan pemirsa, termasuk Presiden Joko Widodo, donasi yang terkumpul dalam konser amalnya pun tembus angka di atas Rp 5 miliar. Benar-benar ambyar dan spektakuler untuk sebuah seni pertunjukan yang dikemas dalam konser amal (https://www.kompasiana.com, 11/4-2020).


Sukses besar konser amal Didi Kempot tersebut mengindikasikan bahwa fungsi seni tidak hanya sekadar sebagai hiburan namun mempunyai multi fungsi yang  sangat kompleks. Sebagaimana sepak bola, ternyata  musik dapat menjadi magnet semua komunitas untuk terlibat dalam berbagai aksi termasuk kepedulian  terhadap sesama.


Musik Campursari


Nama Didi Kempot tidak bisa dilepaskan dengan musik campursari  yang sampai sekarang melekat dalam titian kariernya sebagai seniman. Campursari adalah formula paling akhir dari sinkretisme kesenian Jawa dalam hal ini musik. Bisa diingat kembali perjalanan musik di Jawa Tengah, taruhlah misalnya di tahun 40-an dengan munculnya lagu "Bengawan Solo" yang sampai saat ini masih membikin orang-orang mancanegara kesengsem. Karya komponis gesang itu disebut keroncong (semacam musik Portugis yang diartikulasikan secara lokal). Musik jenis itu mengalami evolusi lebih lanjut dengan munculnya generasi pencipta pada dekade berikutnya setelah Gesang di antaranya adalah Anjar Any. Di tahun 60-70 an mulai populer musik yang disebut berjenis langgam antara lain karya Anjar Any Yen ing tawang ana lintang.  


Kemudian pada era 1980-1990 an musik-musik yang ada sebelumnya dicampur aduk sedemikian rupa dengan lagu-lagu lama yang diarensemen dengan format baru. Genre musik tersebut sering dikenal dengan sebutan campursari. Tokoh yang tidak asing pada waktu itu  adalah Almarhum Manthous dengan lagu-lagu legendarisnya seperti, Nyidhamsari, Tak Eling-Eling, Potretmu , Panjerina dan masih banyak lainnya yang telah diproduksi menjadi ribuan kaset maupun CD di pasaran bebas. 


Kekuatan campursari sebagai genre musik tradisional adalah mampu menggiring semua jenis musik masuk dalam garapannya. Di samping praktis, juga dapat  "mewakili" genre musik untuk memenuhi banyak keperluan. Bermula dari perpaduan keroncong dengan gamelan, sekarang malah bisa apa saja, dangdut, pop, musik rakyat, dan elemen musik jenis lainnya. Dia juga sangat menghibur. Mudah dicerna, tak banyak tuntutan kualitas atau profesionalisme konvensi yang ketat seperti genre musik klasik (Majalah Gong, 2001).


Maka tak mengherankan dalam konser amal, dari lima  belas lagu yang dilantunkan Didi Kempot di antaranya Ketaman Asmara, Banyu Langit, Cidro, grafik statistik pemirsa yang memberikan donasi cukup tinggi. Fenomena yang tak terbantahkan tersebut  menandakan,  bahwa musik campursari sampai sekarang cukup melegenda dan mendapat tempat di komunitas pendukungnya. 


Fungsi Sosial 


Pada prinsipnya selama karya seni  tersebut disuguhkan atau dipamerkan  untuk orang lain, maka dari situlah fungsi sosial akan hadir. Dalam hal ini, kehadiran seni haruslah  dapat dinikmati oleh banyak orang. Sebagai contoh karya seni yang berujud lagu perjuangan, kepahlawanan, atau tematik kehidupan. Kehadirannya di berbagai acara strategis  akan mempunyai nilai sosial tinggi, karena dapat menstimulai  perasaaan manusia untuk memantik semangat atau empati sosialnya  pada publik. 

Adapun terciptanya fungsi sosial seni  dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor determinan. 


Pertama, ada kecenderungan  memengaruhi perilaku kolektif. Penciptaan dalam dunia seni mengandung makna untuk mewujudkan sesuatu dengan situasi yang sudah ada. Situasi Indonesia yang sedang dilanda pandemi ini, tentunya peran seni sangat dibutuhkan untuk memberikan  stimulasi agar mata rantai sumber pandemi tersebut dapat diputus. Melalui seni  kolektifivitas komunal dapat disatukan agar tujuannya dapat tercapai.


Kedua, penciptaan seni ditujukan atau dipergunakan dalam situasi publik. Dalam situasi publik apapun, seni mempunyai fungsi strategis untuk dapat memberikan pencerahan agar publik dapat termotivasi. 


Ketiga, mengekspresikan aspek-aspek sosial atau bela rasa. Ekpresi seni pada dasarnya tidak hanya sekadar  menonjolkan aspek estetika, namun dibaliknya mengandung nilai-nilai humaniora yang sarat akan pesan-pesan moral. Seperti dalam lagu Ora Iso Mulih, Didi Kempot menghimbau lewat lagunya, agar  semua masyarakat perantau tidak mudik dulu. Sebab di tengah pandemi  seperti sekarang ini, akan sangat berbahaya jika masyarakat melakukan mudik. 


Dengan demikian bisa diambil tautan benang merah, bahwa dibalik kesuksesan konser  amal Didi Kempot beberapa waktu lalu, di dalam seni memuat kekuatan luar biasa pada aspek solidaritas. Dalam solidaritas terdapat aspek bela rasa yang mencakup kemurahan hati dan belas kasih. Dalam saat-saat kita merasa sakit, hancur, bahkan menderita, seseorang hadir bersama-sama di tengah kita. Kehadiran tersebut akan dapat memberi pencerahan, perhatian, dan cinta kasih. 


Tak bisa dinafikan, bahwa kita harus saling peduli dengan sesama untuk menghadapi pandemi Covid-19. Kepedulian tersebut bisa dilakukan dengan cara apa saja. Bisa berbagi, saling mengingatkan, tetap berada di rumah,  jaga kesehatan, termasuk jangan mudik. Medianya bisa apa saja, termasuk seni musik.  Ternyata musik  bisa menjadi magnet yang mampu menggerakkan banyak orang untuk ikut beramal dan berdonasi membantu sesama yang membutuhkan.


Ch. Dwi  Anugrah

Ketua Sanggar Seni Ganggadata

Jogonegoro, Mertoyudan, Kab. Magelang



Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar