Sang Maestro Penembus Lintas Generasi

Dilihat 337 kali
Oleh Ch. Dwi Anugrah

Tak bisa disangkal, walaupun Didi Kempot telah meninggalkan kita semua pada 5 Mei 2020, namanya tetap akan dikenang sebagai sosok yang sangat fenomenal dalam sejarah musik populer di tanah air. Ia bukan sekadar bintang, melainkan juga katarsis bagi banyak orang  untuk melewati zaman yang penuh kegalauan ini.
 
Sosok fenomenal tersebut ditandai dari awal kariernya sampai sekarang masih konsisten dengan gaya dan aliran lagu yang dibawakan. Sejak awal meniti kariernya dalam blantika musik, ia tak pernah keluar dari jalur campursari dengan lirik lagu berbahasa Jawa. Dengan kata lain, ia selalu konsisten, tidak bergeming ataupun terhanyut dalam industri rekaman yang hanya mengejar royalti. Dalam diri Didi Kempot secara implisit juga mengemban misi menjaga kesetiaan Budaya Jawa.

Tidak sedikit seniman yang berganti-ganti genre musik karena semata-mata mengejar peluang pangsa pasar dan tren rekaman industri musik demi mengejar pendapatan. Tidak demikian untuk Didi Kempot. Seniman yang meniti kariernya sebagai pengamen ini, tetap setia pada genre musiknya sampai saat-saat terakhir. 

Menembus Batas

Didi Kempot, mantan pengamen yang sudah mencipta ratusan lagu tersebut merupakan sosok musisi tradisional yang mampu menembus batas. Mulai dari kalangan milenial sampai Presiden sangat akrab dan familiar. Penyanyi yang mempunyai nama asli Dionisius Prasetyo ini  dijuluki "The Godfather of Broken Heart" atau Bapak Patah Hati Nasional oleh penggemar generasi baru  yang dikenal dengan Sobat Ambyar.

Didi menjadi fenomena tersendiri dalam sejarah musik populer. Lewat musik campursari yang dulu terstigmatisasi sebagai musik hajatan dan lagu-lagu umumnya bertutur tentang tragedi cinta dan patah hati, ia malah mampu menghimpun penggemar fanatik lintas generasi, kelas, agama, gender, dan pandangan politik. 

Meski tema lagunya patah hati, namun dikemas dalam nada riang gembira  dengan adagium yang segar, otentik, dan menarik. Didi Kempot boleh patah hati, putus cinta, diingkari janji dalam semua lagunya. Tetapi publiknya selalu bergoyang  riang. Kalau sampai lagu Banyu Langit apalagi Kalung Emas dan Pamer Bojo dilantunkan, Sobat Ambyar pasti  menyambut dengan gegap gempita. 

Meski berdesakan di sekitar panggung mereka hangat menyambar dengan yel-yel, "Cendhol dhawet, cendhol dhawet. Pira? Limang atusan!" mengalahkan ingar bingar ataupun gegap gempitanya  yel-yel politik apapun yang pernah ada di seantero Nusantara. 

Lalu ribuan orang itu bergelora  meneriakkan respon balik "Ji, ro, lu, pat, ma, nem, pitu, wolu….tak kitak kitak kitung, … tak kitak kitak kitung…… tak kitak kitak kitung, ya ya….." menggetarkan hati mereka yang ambyar atau patah hati menjadi tegar kembali. 

Dalam lagunya yang bernada guyonan juga terselip nada spiritualitas. Dalam lagu Pamer Bojo misalnya, ada sebuah pesan untuk tetap tabah  dan menerima apapun keadaannya dengan selalu pasrah kepada kehendak Tuhan Pencipta Alam, karena nasib manusia ibaratnya jentera bianglala yang sudah ada garis yang mengaturnya. 

Dengan cerdas Didi Kempot, mampu melihat letupan emosi penggemarnya yang galau dari generasi ke generasi dengan mentransformasikan pesan-pesan patah hati dan kesedihan menjadi  musik yang enak didengar dan dibuat goyang. Lagu-lagu tersebut menjadi semacam katarsis bagi mereka yang galau dengan meluapkan totalitas ekspresinya.

Belajar Hidup

Didi Kempot banyak belajar hidup dan seni dari ayahnya, Ranto Gudel yang juga seniman pelawak. Dalam lagu Ambyar, ia melukiskan kondisi sosial, ekonomi, dan politik di negeri ini dengan lugu. Bila dikorelasikan dengan situasi sekarang, kata-kata Didi Kempot seakan-akan adalah ramalan tentang ambyar yang kemudian menjadi realita, sebaimana almarhum ayahnya pernah mencipta lagu Anoman Obong di awal tahun 1998 yang situasinya bersamaan dengan krisis politik pada saat itu. 

Kalau Covid-19 bagaikan Lord Voldemort yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan, Didi Kempot adalah The Lord of Ambyar yang  mewartakan bahwa ambyar adalah kebenaran, dan hidup ini sesungguhnya rapuh dan mudah berantakan. Kenyataannya warta itu benar. Ketika manusia yang merasa serba mumpuni, ternyata bisa dirobohkan oleh Covid-19, yang kecilnya melebihi seperseribu debu (Sindhunata, 2020).

Pada Didi Kempot, ambyar bukan sekadar kata. Ambyar adalah perjalanan hidupnya. Ia tidak banyak mengenyam pendidikan sekolah karena terlahir dari keluarga miskin. Untuk  mulai mengamen, ia harus menjual sepedanya agar bisa membeli gitar. Ia mulai mengamen di Stasiun Solo Balapan. Kemudian menjadi pengamen di Jakarta dengan menamakan dirinya grup "Kempot" akronim dari Kelompok Penyanyi Trotoar. Dengan demikian, nama Didi Kempot sungguh berasal dari pengalaman hidupnya dari merintis awal  kariernya sampai reputasinya dikenal publik. 

Kepergian mendadak  The Lord of Ambyar di tengah pandemi Covid-19 ini kiranya meninggalkan banyak pesan. Didi tidak hanya sekadar bicara, namun sudah memberikan teladan. Pada saat Indonesia terpapar Covid-19, ia mempunyai ide cerdas menggelar konser amal dari rumah. Konser itu  mampu menghimpun dana sekitar Rp 7,6 milliar untuk disumbangkan kepada mereka yang dirundung malang. Aktualisasi ini membuktikan bahwa sebuah perjalanan ambyar tidak harus berakhir pula dengan ambyar. 

Didi menjadi monumen abadi. Tempat di mana segala kenangan atas kesedihan dapat dirayakan lewat deretan lirik-lirik lagunya. Musik yang selama ini dinikmati sebagai sebuah bunyi mampu menyublim atau mengasah kepekaan rasa yang berpendar melintasi batas-batas diktumnya. Sebagaimana dalam lagu Sewu Kutho, terdapat lirik "umpama kowe uwis mulyo, lila aku lila", menegasikan bahwa kerelaan atau sembuh dari sakit hati adalah upaya yang harus dilakukan oleh setiap orang.
 
Lirik-lirik lagu Didi Kempot dapat dinikmati oleh semua orang yang tak mengerti bahasa Jawa sekalipun. Dalam konteks ini menunjukkan kecerdasan Didi dalam mengolah sisi estetika musik, susunan bunyi dan kekuatan alur melodinya.

Kini ia pergi selamanya menuju terminal terakhir. Ia pergi sebagai pemenang, karena sampai sekarang sepak terjang pengabdiannya bagi revitalisasi seni dan kemanusiaan tak tertandingi.
  
Selamat jalan Sang Maestro. Karya dan dedikasimu akan selalu abadi dan menjadi inspirasi pencerahan bagi kami yang tak akan lekang dimakan waktu. 

Ch. Dwi Anugrah
Ketua Sanggar Seni Ganggadata
Jogonegoro, Mertoyudan, Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar