Relasi Keluarga Saat Pandemi Covid-19

Dilihat 450 kali

Oleh Ch. Dwi Anugrah


Bergulirnya kebijakan pemerintah yang membelajarkan peserta didik di rumah sampai saat ini masih berlangsung dengan tujuan untuk memutus mata rantai penyebaran virus covid-19. Tidak ada tatap muka secara langsung baik itu di sekolah, perguruan tinggi, atau tempat-tempat lain untuk berinteraksi langsung antar peserta didik, antar guru, serta antara peserta didik dengan guru. 


Banyak guru dan peserta didik melakukan aktivitas di rumah, dalam konotasi positif. Mereka harus belajar dan bekerja dari rumah masing-masing. Ketika peserta didik belajar dari rumah dengan mendapatkan banyak tugas maupun instruksi dari guru, di sini peran orang tua sangat dibutuhkan untuk melakukan pendampingan secara faktual. 


Di balik pandemi covid-19 ini, tentunya dapat diambil hikmahnya, yaitu relasi orang tua  dengan anak dapat terajut secara optimal karena mereka dapat berkumpul setiap hari. Selama ini banyak orang tua yang jarang bertemu dengan anaknya karena alasan kesibukan masing-masing.


Konsep Trisentra


Proses pembelajaran  anak di rumah dan orang tua pun harus bekerja dari rumah, mau tidak mau mereka mesti bertemu dan berkomunikasi serta bertatap muka dalam keluarga. Dengan demikian berjalanlah konsep pendidkan keluarga yang digagas oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara.


Ki Hadjar Dewantara, secara filosofis  menunjukkan bahwa pendidikan akan bisa berjalan dengan baik apabila trisentra antara keluarga, sekolah, dan masyarakat bisa merajut kolaborasi yang seiring sejalan. Trisentra tersebut menunjukkan dimensi sosialitas  manusia, termasuk di dalamnya  menyediakan pendidikan bagi anak.


Namun seiring dengan proses modernisasi, beberapa dekade belakangan ini, ajaran luhur tersebut banyak tidak diimplementasikan. Kita terbuai serta terlau mengultuskan konsep Pendidikan Eropa yang dianggap lebih canggih. Padahal kita mempunyai konsep pendidikan yang lebih representatif gagasan putra-putra bangsa sendiri. 


Kolaborasi trisentra tersebut tidak dapat berjalan optimal. Malahan ada kecenderungan saling menyalahkan satu sama lain. Orang tua menyalahkan guru karena ketidakmampuannya mendampingi anak-anaknya. Sebaliknya guru juga merasa tidak mampu mendampingi anak-anak dari keluarga tidak harmonis dan dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat yang tidak sejalan dengan nilai-nilai karakter yang diajarkan di sekolah sebagai satuan pendidikan.


Pembentukan Karakter


Bila ditelisik lebih jauh dalam konteks pembentukan karakter, keluarga adalah pembentuk karakter pertama dan utama bagi anak-anaknya yang masih belajar di sekolah. Keluarga sesungguhnya adalah penyemai nilai-nilai luhur yang dialami oleh individu pertama kalinya. Bila keluarga telah menjadi sumber pembentukan nilai-nilai mulia pertama bagi anak, sekolah semestinya  menindaklanjuti tugas mulia tersebut dengan  memperkokoh dan memperkuat agar  fondasi karakter anak  semakin terbangun (Doni Koesoema A., 2018).


Keluarga, sekolah, dan lingkungan memiliki peranan spesifik dalam rangka pembentukan karakter individu. Memahami porsi tanggung jawab setiap individu dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan menjadi sangat penting. Kesadaran akan tanggung jawab dan peranan setiap individu dapat menjadi dasar untuk membangun sinergi yang baik dalam rangka pembentukan karakter anak. 


Untuk itu, dalam konteks pembentukan karakter, sekolah perlu mendefinisikan  peranan dan tugas mereka bersama dengan orang tua.  Kadang kala,  meskipun di sekolah  sudah memiliki definisi yang jelas tentang  peranan ini, namun malahan definisi ini banyak belum muncul  secara eksplisit dalam kebijakan pendidikan. 


Agar orang tua mampu memahami dengan jelas peranan mereka dalam pembentukan karakter peserta didik yang juga anak-anaknya, sekolah perlu membuat norma dan aturan yang menjelaskan bagaimana orang tua bisa ikut ambil bagian dalam pembentukan karakter anak pada saat berada di rumah.


Keluarga memang merupakan sumber pertama yang menyemai nilai-nilai keutamaan sebagai aktualisasi  dari pendidikan bermakna. Kualitas sebuah keluarga menentukan kualitas pola perilaku, cara berpikir, dan bersikap terhadap  sebuah peristiwa. Cara seseorang bertindak sering kali diperoleh  dalam pengalaman kebersamaan bersama keluarga. Proses imitasi biasanya menjadi langkah awal sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai tersebut.


Proses pembentukan karakter bisa digambarkan sebagai sebuah perjalanan yang bermula dari rumah, menuju ke masyarakat luas, bahkah bisa melanglang dunia. Di sini  peran keluarga sebagai penyemai nilai-nilai keutamaan dalama diri anak sejak kecil. Sesuatu yang dilihat, didengar, dan dipahami dalam keluarga inilah yang membentuk habituasi dalam wujud pembiasaan serta konsentrasi nilai individu bagi anak tersebut. Proses akuisisi nilai-nilai ini pada gilirannya akan membentuk keseluruhan kepribadian individu.


Pendidikan keluarga merupakan faktor utama pembentuk nilai utama ini. Kalau boleh jujur, beberapa dekade ini pendidikan keluarga sudah memudar, karena terlalu suntuk dengan pendidikan akademis di sekolah. Hanya ketika Mendikbud pada masa Anies Baswedan, pendidikan keluarga mulai digaungkan kembali dengan mengusulkan direktorat baru di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Direktorat  Pembinaan Pendidikan Keluarga. Harapannya agar kolaborasi antara orang tua dan sekolah semakin baik dan efektif.


Sekarang pendidikan keluarga yang pernah hilang itu telah kembali. Selayaknya kita dapat memanfaatkan momentum  ini sebaik mungkin. Jangan menganggap sepele pada pendidikan keluarga. Justru pendidikan keluarga ini masa depan anak sangat ditentukan. 


Dengan dukungan orang tua ketika anak-anak di rumah, diharapkan pembelajaran berjalan sesuai harapan. Anak merasa diperhatikan dan terbantu dengan kehadiran orang tua yang memberikan motivasi, pendampingan, dan pencerahan sehingga bisa terajut kedekatan emosional yang harmonis. 


Kesadaran akan rumah dan keluarga sebagai  sekolah pertama perlu digelorakan dari situasi nyata seperti sekarang ini agar nafas dan hakikat pendidikan keluarga semakin membumi.  


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar