Refleksi Hari Film Nasional

Dilihat 102 kali
Foto: Cakrawala Film Magelang

Hari Film Nasional yang diperingati setiap tanggal 30 Maret tidak lepas dari proses berkarya seorang Usmar Ismail. Pada tanggal 30 Maret 1950, Usmar Ismail selaku sutradara sekaligus sebagai produser Perfini memulai pengambilan gambar film hitam putih berjudul Darah dan Doa.


Peringatan Hari Film Nasional merupakan hari bersejarah yang diperingati oleh seluruh masyarakat, yang dapat mendorong lahirnya film-film dengan nilai pendidikan dan budaya beragam. Peringatan Hari Film Nasional tahun ini juga menjadi momentum masyarakat Indonesia untuk bersama kembali ke bioskop sebagai apresiasi atas karya anak bangsa.


Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid menyebutkan bahwa kemajuan perfilman Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada saat
terimbas pandemi Covid-19, para kreator film malah semakin kreatif berkreasi dan mencari solusi dari berbagai hambatan, mengingat antusiasme masyarakat menonton film cukup tinggi.


Hilmar Farid juga mengapresiasi keterlibatan pemerintah daerah dan seluruh masyarakat untuk memajukan perfilman Indonesia dalam wujud penguatan pendidikan dan literasi, yang bertujuan menumbuhkan semangat cinta Tanah Air, pembangunan karakter bangsa, serta peningkatan nilai-nilai budaya (https://www.antaranews.com).


Reputasi Internasional


Dalam proses dinamika perjalanan waktu, film Indonesia juga secara rutin terseleksi di festival-festival film penting yang memiliki reputasi penting tingkat internasional, seperti Cannes, Berlin, Toronto, Sundance, dan Venice. Momentum tersebut menandakan bahwa film di Tanah Air masih eksis dan mandapat perhatian publik.


Ajang festival tersebut menjadi etalase penting yang dipilih oleh para produser film untuk mengamankan jalur distribusi internasional. Contohnya Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak dengan sutradara Mouly Surya, bekisah tentang janda bernama Marlina yang tinggal seorang diri di puncak perbukitan sabana di Sumba dengan liku-liku kehidupannya. Film tersebut telah terseleksi di Festival Film Cannes (Perancis) tahun 2017. Dampak positifnya, film itu terdistribusi di 40 negara, termasuk rilis di bioskop Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Italia (Fauzan Zidni, dalam Kompas 30/3/2019).


Apresiasi tinggi juga diberikan kepada pemerintah yang selalu menstimulasi dan mendukung industri film semakin progres. Di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, bidang film ditangani Direktorat Perfilman, Musik, dan Industri Baru. Tahun ini agenda kegiatan perfilman diinisiasi oleh insan perfilman dan didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta bersinergi dengan pemerintah daerah, asosiasi dan komunitas film.


Momentum penting dalam memperingati Hari Film Nasional ke-71 ini tak lain adalah pada tanggal 30 Maret 1950 untuk pertama kalinya, sebuah film diproduksi oleh perusahaan Indonesia dan disutradarai oleh orang Indonesia yaitu Usmar Ismail.


Hari Film Nasional tahun 2021 kali ini sekaligus merupakan momentum 100 tahun kelahiran tokoh perfilman Indonesia H. Usmar Ismail. Pria yang dikenal sebagai Bapak Film Nasional ini lahir di Bukittinggi pada 20 Maret 1921.


Usmar Ismail adalah figur yang multitalenta. Selain sudah dikukuhkan sebagai Bapak Film Nasional, sederetan karyanya-karyanya tidak diragukan lagi. Usmar Ismail adalah sineas komplet, karena tidak hanya sebagai aktor, penulis naskah, sutradara dan produser, beliau juga berani membawa film karya anak bangsa yang berjudul Pedjuang ke kancah Festival Film Internasional di Moskow, Rusia tahun 1960. Karya-karyanya sampai sekarang menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering bagi para sutradara ataupun para sineas Tanah Air.


Proses kreatif


Bila ditelisik lebih jauh, secara faktual kuantitas industri film memang terkena imbas dari pandemi Covid-19, namun hikmah di balik peristiwa tersebut malahan muncul proses kreatif para pelaku industri perfilman semakin kreatif.


Sebut saja Tri Setyo Nugroho, sutradara dan produser Cakrawala Film Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Di tengah kelesuan industri perfilman, dengan keberaniannya produser film ini, pada tahun 2020 ketika badai Covid-19 menerpa Tanah Air telah menghasilkan karya film bertajuk Kendang Kriuk.


Film tersebut bertutur tentang seorang seniman kendang yang terkena dampak pandemi, mata pencahariannya sebagai tukang kendang hilang. Karya film yang diproduksi bersamaan dengan pandemi Covid-19 itu, terasa aktual dengan situasi terkini. Para seniman dan pekerja seni banyak yang kehilangan mata pencaharian karena larangan menyelenggarakan pertunjukan dengan menghadirkan kerumunan banyak orang. Adapun yang sangat membanggakan film Kendang Kriuk masuk dalam Festival Film KPK RI tahun 2020.


Tema yang diangkat dari Hari Film Nasional ke-71 ini adalah Film Indonesia, Budaya Bangsa. Dari tema tersebut dapat diambil suatu refleksi bahwa pada dasarnya film bisa menjadi media komunikasi yang memberikan fungsi penerangan, pendidikan, pengembangan budaya, ekonomi, selain juga memberikan fungsi hiburan kepada masyarakat.


Harapannya ke depan, para produser film dapat lebih menoleh pada potensi budaya dan kearifan lokal dalam melakukan proses kreatifnya. Sumber budaya lokal tidak akan kering untuk menjadi sumber inspirasi. Film Berdirinya Candi Borobudur sangat ditunggu untuk kembali ditayangkan. Di samping itu profil maestro seniman lokal baik itu seni pertunjukan maupun seni rupa bisa difilmkan.


Dengan demikian, melalui film dapat mengedukasi generasi milenial juga masyarakat untuk lebih memahami nilai kearifan lokal yang bisa menjadi tuntunan dalam penguatan nilai karakter bangsa Indonesia ke depan dengan segala dinamikanya.


Selamat Hari Film Nasional ke-71.


Ch. Dwi Anugrah

Ketua Sanggar Seni Ganggadata

Jogonegoro, Kec. Mertoyudan

Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar