Penulisan Sejarah Kesenian

Dilihat 125 kali

Sebenarnya sangat menarik bila kita mau mendengar dan memaknai apa yang diungkapkan oleh Sartono Kartodirjo mengenai historiografi Indonesia. Bahwa penulisan sejarah Indonesia pada umumnya  lebih mengedepankan pandangan orang dalam (pribumi) dalam memahami dan memaknai apa yang ada dan terjadi dalam kultur komunitasnya.


Paling tidak dalam konteks pemikiran Sartono terkandung cara pendekatan yang berbeda dari apa yang  telah dilakukan oleh para sejarawan   Indonesia sebelumnya. Pada umumnya penulisan sejarah yang dilakukan oleh para sejarawan terdahulu mudah diprediksi. 



Kelangkaan tulisan


Sebut saja tulisan RM Soedarsono yang telah menjadi acuan wajib para peneliti baik di lingkungan akademisi ataupun komunitas umum. Di samping itu juga ada beberapa tokoh internasional  yang concern pada kesenian di antaranya Claire Holt, James R. Brandon, Th. Pigeaud, dan Raffles. Selain itu ada beberapa praktisi sejarah dan budayawan yang telah menulis sejarah biografi para tokoh seniman abad ke-20, seperti biografinya Gendhon Humardani, Martopangrawit, Rusman, I Mario, Nartosabdho, Tjetje Sumantri, dan lain sebagainya. 


Bukan berarti tidak menghargai pada penulis-penulis sebelumnya dan  memandang rendah jerih payah mereka. Persoalannya bukan itu. Namun bila diamati secara jeli, memang  kurang ada perimbangan bila yang ditampilkan hanya memuat sepenggal atau rentetan kisah besar atau faktu besar tanpa pernah mengangkat kisah-kisah atau fakta-fakta yang kecil. Karena perlu disadari,  dari kisah kecil inilah yang kemudian akan mengantarkan pada kisah besar.


Dengan meminjam teori dekonstruksi, sejarah memang tidak hanya berarti penulisan masa lalu yang ditulis oleh dan atas nama penguasa atau politik kekuasaan. Namun, bisa juga diinterpretasikan sebagai aktivitas merombak sistem, cara pandang, pendekatan dan penulisan sejarah kesenian yang baru. Tentunya diharapkan tulisannya lebih utuh, lengkap, komprehensif, serta dapat memberi pencerahan baru dengan disertai pertanggungjawaban ilmiah yang rasional. Karena,  pada dasarnya ilmu sejarah merupakan cabang ilmu humaniora yang selalu memiliki rentang waktu, baik masa kini maupun masa depan.


Kadang yang perlu dikritisi adalah terkait dengan generalisasi data. Meskipun disertakan uji analisisnya, seperti asumsi penari Ronggeng yang ditulis Raffles dalam The History of Java (1965) yang mengulas bahwa terminologi  Ronggeng terbentuk dari  kata wrong dan gang sebagai tanda untuk memberi stigma rendah suatu profesi perempuan yang sudah turun temurun di Pulau Jawa ini. Apakah benar pemaknaannya begitu kalau  kita runut dari komunitas Ronggeng sendiri yang  sampai saat ini diyakini oleh komunitas setempat para penari Ronggeng itu sebagai pembawa berkah kesuburan dan sudah menjadi milik komunal ?


Perimbangan penulisan

Kasus lain, tak jarang dijumpai kecenderungan penulisan yang lebih mengedepankan seorang tokoh lantaran   kekuasaan, kepemimpinan, kharisma, tanpa pernah mengungkap korelasi atau peran pelaku-pelaku lain yang terlibat langsung di dalamnya. Bagaiman mungkin kita akan tahu karya seni  yasan Dalem (ciptaan raja) kalau  karya tersebut cukup hanya dicipta oleh sang raja tanpa pernah berpikir tokoh-tokoh siapa pelaku-pelaku kecil yang terlibat dalam proses penciptaaan tersebut.


Adapun hal lain, kondisi data oral belum banyak diungkap  sebagai bagian  dari sejarah kesenian Indonesia. Bagi sebagian kelompok etnis di Indonesia mungkin kesulitan atau tidak mempunyai data literer yang komprehensif mengenai sejarah kesenian yang mereka miliki.


Mereka tahu sejarah, hanya mengandalkan ingatan yang ditularkan  dan digariskan secara turun temurun kepada generasi yang lebih muda. Mereka kebanyakan menggunakan simbol-simbol yang dipakai oleh para pendahulunya dalam mengungkapkan  asal-usulnya. Dengan banyak realita yang muncul di lapangan, apakah berarti mereka tidak mempunyai sejarah yang layak ditulis sebagai obyek sejarah?


Di sinilah perimbangan penulisan sejarah kesenian layak menjadi bahan pertimbangan. Sekarang ini sangatlah dibutuhkan penulisan sejarah kesenian yang tidak lagi terfokus pada satu perspektif  kepentingan tertentu, melainkan yang mampu mengakomodasi segala lapisan kepentingan dalam komunitas yang pluralis.


Penulisan sejarah kesenian  diharapkan mampu membuka ruang penggalian data terkait dengan pemikiran yang tersimpan  dalam khalayak masyarakat dari semua lapisan. Dengan   kata lain penulisan sejarah kesenian harus mampu mengangkat data-data lama yang terpendam. Selain memperhatikan aspek kesinambungannya baik yang terjadi sekarang maupun prediksi dan sasarannya bagi masa depan.



Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd.

Ketua Sanggar Seni Ganggadata

Jogonegoro, Kec. Mertoyudan

Kabupaten Magelang                                                                                                                                                             

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar