Pengelolaan Manajemen Seni Pertunjukan

Dilihat 196 kali
Seni tradisi memerlukan pengelolaan manajemen profesional demi keberlangsungan organisasi.

Tak sedikit organisasi seni pertunjukan yang dilihat dari perspektif artistik sangat bagus dan menarik, namun keberlangsungannya banyak yang tidak bertahan lama. Tidak kurang pula organisasi seni pertunjukan terutama seni tradisi yang sampai sekarang eksistensinya ibaratnya hidup enggan mati tak mau. Padahal keberadaan organisasi tersebut sangat dibutuhkan untuk memberi santapan estetis pada komunitas luas, tempat seniman mengekspresikan diri, ataupun sebagai sumber penghidupan.


Pada dasarnya manajemen tersebut merupakan infrastruktur, seperti halnya komputer. Alat ini dapat dipakai dimana saja, baik di sekolah, organisasi bisnis, organisasi profit, non profit, atupun pemerintah. Memang aplikasi manajemen tersebut berbeda satu dengan lainnya. 


Misalnya organisasi non profit lebih menekankan untuk tujuan menghasilkan produk atau karya yang berkualitas, kemudian menawarkan kepada lembaga donor dengan catatan manajemen produk dan pemasaran terencana dengan baik. Pemasaran bukan hanya berarti menjual produk ke komunitas, melainkan juga menjual ide atau program ke pihak donator (Yayasan Kelola, 2000).


Mitra Kerja Sama


Untuk itu kiranya juga perlu memahami karakter costumer (pelanggan) yang akan diajak sebagai mitra kerja sama. Jika pelanggannya penonton langsung, bisa diyakinkan dengan memberi informasi supaya menonton pertunjukan yang ditawarkan. Kalau pemerintah/instansi sebagai pelanggan bisa diupayakan untuk meyakinkan bahwa program yang ditawarkan itu baik dan bisa dipertanggungjawabkan.


Terlebih lagi bila pelanggannya itu lembaga donor, maka harus meyakinkan bahwa program itu dapat berjalan dengan baik, terukur, kapabel, serta jelas akuntabilitas publiknya. Komponen tersebut terkait dengan marketing, sehingga diperlukan presentasi organisasi sebaik-baiknya.


Pada awalnya memang seni tradisi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, baik di pedesaan maupun di kota. Seiring dengan perkembangan zaman, mulai terjadi pergeseran dan perubahan fungsi. Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu organisasi yang mampu mengakomodasi nilai-nilai tradisi serta mengarahkan kegiatan sesuai dengan perkembanan zaman.


Pada umumnya organisasi seni masih menitikberatkan pada aspek artistik. Sedangkan aspek manajemen kurang mendapat perhatian. Hal ini seringkali nampak pada ketidakjelasan rencana kerja dan job description (uraian kerja) yang berimbas pada cara kerja. 


Ada kegiatan yang lupa dilakukan, juga pekerjaan yang dilakukan terburu-buru dan seadanya alias asal jalan. Tak jarang juga muncul pembengkakan anggaran, jadwal kegiatan molor, kualitas dan hasil kerja tidak kapabel.


Kesemuanya itu ujung-ujungnya akan dapat berbuntut pada komplain dan krisis kepercayaan. Di sisi lain, seringkali pencatatan dan pelaporan keuangan tidak dilakukan dengan baik, sehingga menimbulkan kekurangpercayaan anggota maupun pihak lain yang bekerja sama pada organisasi tersebut. 


Kurangnya upaya promosi dan fundraising (penggalangan dana) juga dapat menyebabkan suatu pertunjukan kurang penonton dan kurang dana sehingga beberapa aspek artistik terpaksa dikorbankan.


Kegiatan Penunjang


Permasalahan lain yang sangat krusial, banyak organisasi seni yang melakukan aktivitasnya kalau ada proyek. Memang sebaiknya, di luar proyek ada kegiatan lain sebagai penunjang, misalnya diskusi, pelatihan, penggalian naskah, penulisan, sehingga ada kegiatan rutin sebagai media aktualisasi yang mengindikasikan organisasi itu survive.


Dengan demikian nantinya diharapkan kegiatan itu merupakan pengembangan kompetensi, baik penulisan seni, pelatihan, penggalian naskah, akting, artistik,  perbaikan organisasi, dan lain-lain. Suatu saat ketika ada proyek, kompetensi maupun sumber dayanya sudah siap.


Salah satu kiat agar organisasi bisa berjalan berkesinambungan di antaranya mengikat anggota dengan kegiatan. Adapun prinsip utama yang perlu mendapat perhatian adalah seniman maupun pelaku seni jangan sampai melupakan komitmennya untuk mempertahankan dan mengembangkan kompetensi organisasi.


Jika dilihat dari kumulatifnya, organisasi kesenian itu sampai sekarang telah merebak luas. Namun yang dapat mengaplikasikan roda organisasi sesuai dengan manajemen proporsional masih dapat dihitung dengan jari. 


Sekadar menyebut sebagai contoh Yayasan Didik Ninik Thowok, Teater Koma, Sanggar Tari Kembang Sore, Yayasan Kelola, telah bisa dikatakan berhasil menerapkan manajemennya masing-masing.


Keberhasilan organisasi tersebut tidak bisa lepas dari peran dan kiprah pimpinan organisasi dengan segala perangkat pendukungnya. Di sini konsep leadership sangatlah diperlukan, karena banyak organisasi tak berlangsung lama karena krisis kepercayaan dan kurang mampunya pemimpin mengendalikan organisasi.


Salah satu contoh yang umumnya kurang mendapat perhatian adalah masalah promosi, yaitu kiat memperkenalkan dan meyakinkan kepada target penonton atau pelanggan dengan tahapan mereka tahu, senang, memilih, akhirnya membeli. Kalau perlu penonton atau penikmat sampai loyal terhadap organisasi.


Adapun yang sering terjadi saat ini kebanyakan promosi sekadar pemberitahuan. Kalau hanya sebatas pengumuman kekuatannya sangatlah tidak signifikan untuk mengajak peminat datang dan membeli. Di era sekarang promosi bisa dilakukan lebih intensif karena dapat menggunakan media digital.


Faktor yang tak kalah penting dalam pengembangan sistem manajemen dan kerja organisasi yakni sikap terbuka untuk menerima saran dan kritik, baik oleh pegurus maupun para anggota. 


Sikap tersebut akan menumbuhkan motivasi, dedikasi, tanggung jawab, kreativitas atas pemikiran, serta toleransi. Dengan menumbuhkan sikap ini akan menumbuhkan rasa saling menghargai dan menghormati dengan tujuan agar organisasi bisa eksis dan berkembang.

 

(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Mertoyudan Kabupaten Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar