Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal

Dilihat 224 kali
Salah satu objek wisata alam di Kabupaten Magelang

Tak bisa dipungkiri, sebelum pandemi Covid-19 menerpa Indonesia, sektor pariwisata mampu menjadi andalan penerimaan devisa dan penyerapan tenaga kerja. Bahkan pada 2018, pariwisata mampu menjadi penghasil devisa terbesar di Indonesia dengan angka mencapai 17 dolar AS.


Angka tersebut sudah mengalahkan CPO (Crude Palm Oil) atau minyak kelapa sawit juga minyak dan gas bumi. Terlebih lagi dengan dioptimalkannya wisata MICE (Metting, Incentive, Conference, Exhibition), Indonesia dapat menjadi primadona wisatawan dan penghasil devisa nomor satu (Kompas, 13/2/2019).


Saat pandemi, sektor pariwisata menjadi sektor yang paling terpukul. Dampak pandemi Covid-19 setahun terakhir bagaikan tsunami yang menjungkirbalikkan dan mengandaskan banyak kapal dan perahu.


United Nation World Tourism Organisation (UN-WTO) atau Organisasi Pariwisata Dunia menyebut tahun 2020 sebagai tahun terburuk dalam sejarah pariwisata. Secara global jumlah kedatangan wisatawan internasional anjlok 74 persen atau 1 miliar orang lebih kecil dibandingkan dengan tahun sebelumnya seiring pembatasan perjalanan akibat Covid-19.


Khusus di Indonesia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang tahun 2020 hanya 4,022 juta kunjungan atau turun 75,03 persen dikomparasikan dengan tahun 2019 yang bisa mencapai target 16,1 juta kunjungan.


Hantaman pandemi Covid-19 terhadap sektor pariwisata yang terdampak langsung, yakni kamar hotel, penginapan yang kosong, jumlah penumpang pesawat, serta moda transportasi lain banyak yang anjlok.


Ketiadaan turis juga membuat penyedia makanan dan minuman khususnya di destinasi wisata, tak mendapat pemasukan bahkan gulung tikar. Jasa kesenian, hiburan, dan rekreasi yang mengandalkan kegiatan wisata banyak yang menganggur.


Tidak sekadar destinasi


Membicarakan sektor pariwisata tentunya tidak sekadar dalam konteks destinasi wisata. Namun, berkorelasi sinergis dengan hal lain, di antaranya perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, makan, minum, menginap, kondisi sosio kultural, dan penyediaan cinderamata di lokasi wisata.


Berdasarkan penelitian Sedarmayanti yang tertuang dalam buku Membangun dan Mengembangkan Kebudayaan & Industri Pariwisata (2014) menegaskan dinamika pembangunan pariwisata di Indonesia menjadi bagian integral dalam arah pembangunan ekonomi jangka panjang, yaitu dengan terus mengembangkan dan meningkatkan daya saing global perekonomian yang bertumpu pada peningkatan produktivitas dan inovasi.


Pandemi Covid-19 kiranya dapat menjadikan momentum merumuskan kembali elaborasi pariwisata nasional di masa depan. Pariwisata semestinya tidak dimaknai parsial dari segi ekonomi, tetapi juga lingkungan, sosial, budaya, politik, pertahanan, dan keamanan.


Untuk langkah-langkah penyelamatan sektor pariwisata pemerintah dan pelaku usaha perlu melakukan terobosan yang tidak hanya sekadar membangun pariwisata yang eksploitatif seperti pembangunan infrasruktur spektakuker, atau properti yang elegan.


Untuk sekarang ini, perlu menoleh pengelolaan sektor pariwisata melalui optimalisasi peran kearifan lokal yang dikelola dengan standar kebersihan, keamanan, dan kenyamanan yang baik akan banyak diminati. Sebut saja wisata belajar batik di Solo, atau pekalongan, belajar membikin patung di Prumpung Muntilan Magelang, atau belajar menari Panyembrama di Bali.


Kepekaan Sosial


Berdasarkan prediksi banyak pihak, pandemi Covid-19 akan mempercepat lahirnya era baru pariwisata. Tren pariwisata di masa depan adalah pariwisata yang lebih mengedepankan kepekaan sosial berbasis kearifan lokal.


Dalam hal ini, komunitas lokal diberdayakan menjadi pelaku ekonomi itu sendiri, bukan hanya menjadi penonton atau pencari kerja. Mengingat saat ini pariwisata minat khusus menjadi daya tarik spesifik.


Kebiasaan yang terbentuk selama pandemi ini akan membentuk perubahan ikon pariwisata. Dalam dinamika elaborasinya ke depan, pariwisata akan lebih terarah sesuai minat khusus wisatawan berupa rombongan kecil dan personal. Di samping itu, pariwisata akan lebih memanfaatkan perkembangan sains dan teknologi.


Menyikapi hal tersebut pemerintah dan pelaku usaha pariwisata sekarang sudah berbenah untuk menyambut pemulihan sektor pariwisata antara lain dengan mengubah mindset orientasi pembangunan pariwisata yang bukan sekadar infrastruktur, tetapi perlu juga dibarengi dengan pembanguan pariwisata berbasis pusaka budaya (cultural heritage).


Pada 2021, pemerintah merencanakan akan mengembangkan lima kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) super-prioritas yang dikembangkan secara masif sebagai destinasi pariwisata andalan baru di luar Bali. Satu di antaranya terkait pusaka budaya (cultural heritage), yakni Borobudur. Sedangkan dua lainnya yaitu Labuhan Bajo (Nusa Tenggara Timur) dan Danau Toba (Sumatera Utara) yang ditetapkan sebagai warisan alam (natural heritage).


Harapannya setelah vaksinasi, semua obyek pariwisata bisa dibuka agar segera bisa menggeliat kembali. Dengan demikian pemulihan industri pariwisata perlu dibarengi dengan strategi baru untuk membangkitkan industri pariwisata. Strategi tersebut tidak hanya sekadar mengandalkan keindahan wisata, seni, budaya, tetapi juga harus mengedepankan keunggulan lain, yaitu diterapkannya protokol kesehatan dan pengawasannya di sejumlah obyek wisata.


Kiranya kerjasama sinergis antara pemerintah, pelaku usaha, dan wisatawan perlu digencarkan kembali.


Pemerintah membuat regulasi, pelaku usaha menyediakan infrastruktur yang standar agar wisatawan nyaman. Sedangkan wisatawan perlu menaati dan menjalankan regulasi tersebut, agar dinamika pariwisata berjalan nyaman, menyenangkan, dan berkesan untuk untuk dikunjungi kembali.


Isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.



Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd.

Guru Seni Budaya

Bidang Keahlian Pariwisata

SMK Wiyasa Magelang


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar