Musik Tradisional Gamelan Dalam Gempuran Budaya Global

Dilihat 596 kali
Foto: Viva.co.id

Masih terbayang dalam memori penulis ketika masih kecil. Tiap sore pendopo desa ramai didatangi anak-anak baik yang masih usia sekolah dasar maupun dewasa. Anak- anak tersebut seminggu dua kali latihan menabuh gamelan dan menari. Mereka yang latihan menari, diiringi langsung dengan iringan gamelan. Selang dua minggu dilakukan rolling. Mereka yang belajar menabuh gamelan, bergantian latihan menari dan sebaliknya.


Penulis pun, yang pada dasarnya senang menari, harus pula belajar menabuh gamelan untuk dapat lebih mendekatkan kepekaan irama dalam setiap titi larasnya. Penulis merasakan manfaatnya, ketika menari diiringi gamelan langsung. Penari dapat merasakan ketepatan melakukan gerakan sesuai dengan ketukan tempo dalam lantunan iringan gamelan. 


Sebagai bentuk apresiasi, setiap perayaan hari besar, seperti ulang tahun kemerdekaan, hasil dari kegiatan tersebut dipentaskan. Suatu bentuk kolaborasi estetis terpadu antara gamelan, tembang, dan tari. Peristiwa tersebut tiap tahunnya menjadi ajang kebanggaan anak-anak dan remaja untuk unjuk kebolehan berolah seni.


Namun, momentum tersebut saat ini sudah jarang dilakukan. Anak-anak dan remaja lebih suka bermain dengan gawainya. Dengan berbagai aplikasi yang dapat diunduh, dunia seakan sudah dalam genggamannya. 


Pemaknaan mendalam


Bila ditelisik lebih jauh musik tradisional sebenarnya memiliki pemaknaan yang sangat mendalam ditinjau dari sisi filosofisnya. Pengertian musik tradisional adalah musik masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dan berkelanjutan dalam masyarakat suatu daerah yang dipakai sebagai perwujudan dan nilai budaya  sesuai dengan tradisi di lingkungannya (Edi Sedyawati, 1992).


Sebagai contoh musik tradisional gamelan yang ada di Jawa. Di dalam gamelan memiliki berbagai makna, berlapis, dan terus berubah seiring perkembangan zaman. Pemaknaannya yang berbeda-beda tak lepas dari kedalaman dan keluasan pengetahuan mereka yang membaca, menyaksikan, atau mengapresiasi karya seni tersebut. 


Yudith Becker, ahli etnomusikologi dari Arizona State University, melakukan penelitian komprehensif, bahwa  gamelan memiliki konsep estetika unik yang mengandung dimensi spiritual.  Hasil kajiannya disajikan buku monografi bertajuk Gamelan Stories: Tantrism, Islam, and Aesthetitics in Central Java (Arizona State University, 1993). Di dalam buku tersebut secara eksplisit dipaparkan bahwa gamelan bukan hanya sekadar karya seni suara. Di dalamnya terdapat narasi yang sarat nilai-nilai filosofis. 


Dengan demikian, gamelan merupakan wahana pengungkap berbagai perasaan yang dikemas dalam rasa keindahan. Perasaan senang, susah, marah, dan sebagainya dapat digarap melalui bentuk keindahan musikal. Semua pengolahan unsur-unsur tersebut  diwujudkan melalui tanda-tanda atau simbol musikal yang sarat akan nilai filosofis. 


Alternatif pencerahan


Suara gamelan tiap sore di pendopo atau balai desa sekarang sudah tidak berkumandang lagi. Mereka yang punya kerja hajatan ataupun lainnya karena pertimbangan praktis cukup memakai organ tunggal saja dengan satu dua orang penyanyi.  Anak-anak dan remaja sekarang sudah sibuk dengan dunianya. Ponsel yang seharusnya menjadi alat komunikasi, sekarang menjadi kompensasinya. Sulit bagi kita untuk menampik perubahan peradaban yang radikal ini. Namun, tentu kita tak akan membiarkan kuasa budaya itu ditentukan oleh teknologi semata.


Di tengah gempuran budaya global ini, masih ada harapan agar musik tradisional gamelan dan musik di seluruh Nusantara dapat survive. Adapun beberapa anternatif yang dapat dipakai sebagai pencerahan adalah, pertama mengampanyekan musik tradisional gamelan dan musik-musik tradisional nusantara lainnya lewat kebijakan pemerintah.


Beberapa tahun lalu sudah ada kebijakan lewat Peraturan Gubernur sampai dengan Bupati/Walikota bahwa setiap minggu ASN atau karyawan BUMN wajib memakai pakaian tradisional. Hal itu juga bisa diberlakukan setiap seminggu sekali di instansi pemerintah atau BUMN wajib memutar musik tradisional. Harapannya dengan dilantunkannya musik tradisional, kecintaan, perhatian, atau empati mereka sudah menjadi habituasi (pembiasaan) yang memperkuat rasa memiliki.


Kedua, mengoptimalkan pembelajaran seni budaya di sekolah. Diseminasi musik tradisional bisa lebih efektif dilaksanakan di sekolah. Setiap hari, bila nantinya sudah pembajaran luring, peserta didik setiap istirahat kedua diputarkan musik tradisional Nusantara. Di samping itu pembelajaran seni budaya lebih dioptimalkan dalam ranah praksis. Misalnya dalam materi kompetensi musik tradisional,  guru bisa mengajak peserta didik keluar melihat dan bermain musik tradisional di beberapa sanggar seni. Dalam setiap kesempatan apabila peserta didik langsung dapat  memainkan dan mendengarkan, secara alami naluri kepekaan  estetika mereka semakin terasah.


Ketiga, kepedulian semua pihak. Kepedulian ini sangat dibutuhkan untuk bisa mempertahankan musik tradisional. Tentunya tidak hanya dari kalangan pemerintah saja, para pengusaha pun dapat ikut ambil bagian dalam ranah penyelamatan ini. Misalnya menyisihkan sebagaian dana CSR (Corporate Social Responsibility) bagi kelompok kesenian agar memiliki gamelan dan musik tradisional lainnya untuk melakukan proses kreatif. Di samping itu dana desa yang digulirkan pemerintah bisa untuk membikin program pengadaan, pelatihan musik tradisional atau festival musik gamelan di lingkup desa tersebut.


Beberapa alternatif tersebut paling tidak dapat memberikan pencerahan. Namun semua itu dapat terealisasi apabila semua pihak dapat bergerak serentak dengan visi sama, yaitu komitmen akan solidaritas dan empatinya agar musik tradisional tetap eksis walau diterpa gempuran budaya global.


Selamat Hari Musik Nasional tahun 2021


Ch. Dwi Anugrah

Ketua Sanggar Seni Ganggadata

Jogonegoro, Kec. Mertoyudan

Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar