Menulis Menjaga Harmoni Jiwa

Dilihat 448 kali
Pandemi Covid-19  menjadi pukulan amat keras yang berdampak secara global hingga personal. Banyak orang limbung, karena pendapatannya goyah atau kebiasaan yang terpaksa berubah. Orang-orang yang biasa  bekerja dan berkegiatan di luar kini sebisa mungkin beraktivitas di rumah.

Dengan berkegiatan di dalam rumah, maka ide kreatif untuk melepas kejenuhan ternyata tumbuh subur. Sungguh tak diduga, selama pandemi ini minat membaca dan menulis meningkat. Paling tidak hal ini, bisa diamati di jagad virtual. Perpustakaan daring diserbu netizen, grup-grup menulis di media sosial ramai dikunjungi dan diunggahi beragam tulisan kreatif. Banyak tema yang bermunculan, mulai dari tema asmara sampai kehidupan keseharian. Itu cara mereka  menjaga harmoni jiwa. 


Refleksi diri
Menulis di masa krisis seperti pandemi Covid-19 memberikan dampak terapeutik, yaitu upaya untuk mengeluarkan beban pikiran yang selama ini menghimpit secara kejiwan. Untuk mengeluarkan beban pikiran dapat dilakukan dengan  berbagai cara. Salah satunya dengan menulis. Dengan menulis akan terurai permasalahan di dalam diri yang akhirnya akan ditemukan proses refleksi diri sebagai bentuk perenungan akan makna kehidupan.

Pintu masuk untuk menulis dalam memberi pencerahan adalah membaca realitas dan teks dengan mata, telinga, dan hati dengan kritis. Ide-ide segar dilatih panca indra dengan mengorelasikan kata tanya, "Mengapa begini? Mengapa begitu? Bagaimana seharusnya? Bagaimana kenyataannya? Lalu solusi apa yang ditawarkan?" Beberapa kata tanya tersebut merupakan titik masuk baru menuju penemuan dan eksplorasi pengetahuan, yang mesti tak jemu dan terus diramu untuk memberi jejak-jejak keberhasilan pencerahan dan elaborasi ilmu pengetahuan. 

Aktivitas Kompleks
Menulis pada dasarnya adalah sebuah aktivitas yang kompleks. Bukan hanya sekadar  menggunakan konstelasi kalimat, tetapi lebih daripada itu, menulis adalah proses menuangkan  pikiran dan menyampaikannya kepada publik. Ide yang sudah tertuang dalam tulisan, kelak  memiliki kekuatan untuk menembus ruang dan waktu sehingga eksistensi ide atau gagasan tersebut akan abadi. Lain kata, proses menulis adalah upaya untuk mewariskan dan meneruskan ide atau gagasan kepada  generasi selanjutnya, agar ide tersebut terus terpelihara dan tetap hidup. 

Pada dasarnya menulis membutuhkan tiga hal yang saling berkait yaitu, pertama kemauan. Yang dimaksud kemauan adalah dorongan dari dalam hati yang menggerakkan untuk bertindak. Kemauan dari dalam diri sendiri bisa berupa keinginan untuk aktualisasi diri agar diakui, atau agar dikenal oleh masyarakat. Ketika kemauan atau keinginan telah kuat, seseorang  sudah dikatakan memiliki modal besar untuk menulis. 

Kedua, pengetahuan. Pengetahuan menulis seseorang bisa diciptakan dengan banyak membaca, banyak berdiskusi, banyak melihat, mengamati, dan mendengar.
Ketiga, keterampilan. Dengan membiasakan diri untuk terus menulis, dengan sendirinya  kapabilitas menulis akan tergerak dengan baik. Keterampilan adalah aksi nyata seseorang yang mau bertindak dan tahu yang harus dilakukan, dan tahu cara melakukannya.

Tajam, berbobot, berimbang
Selama proses menulis, ada baiknya tulisan dijaga agar tetap tajam, berbobot, dan berimbang.  Tulisan tajam merupakan tulisan yang membahas persoalan tanpa berbelit-belit, ditulis dengan sederhana, lugas, tidak menimbulkan multitafsir sehingga pihak-pihak yang dikritik tahu serta para pembaca mampu mencerna dengan baik. 

Tulisan berbobot biasanya menimbulkan reaksi dan efek cukup signifikan, mempunyai kekuatan untuk memengaruhi siapapun yang membacanya. Memiliki dampak perubahan dan diperhitungkan oleh pihak-pihak  yang dikenai dalam tulisan. Indikatornya adalah adanya tanggapan dari pembaca.

Tulisan berimbang haruslah memberi pencerahan dan berpihak pada kebaikan, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, tulisan harus memperhitungkan pihak-pihak yang dibahas, sehingga tidak  menimbulkan konflik atau dampak negatif (St. Kartono, 2009).

Adapun medan perang bagi seorang penulis adalah media yang berupa majalah atau harian. Memelajari, mengenali, dan memahami karakteristiknya menjadi sangat penting, karena berkait dengan tulisan yang akan dititipkan di sana. Bahkan penting untuk dipahami kebijkan redaksional menyangkut arah opini yang dimunculkan. 

Agar mempunyai tulisan yang spesifik, selain menulis lewat langkah-langkah sistematis sesuai teori mengarang, ada cara lain yakni meniru cara yang telah menulis lebih dahulu. Membaca banyak karya penulis yang menjadi favoritnya, kemudian mencoba meniru gaya kepenulisannya. Hal itu tidak ditabukan untuk belajar pada kesuksesan orang lain. Yang tidak kalah pentingnya  adalah mengenal selera redaktur.

Seorang penulis bukanlah bertanding melawan orang lain. Yang perlu ditaklukkan adalah dirinya sendiri yang tidak mampu menyisihkan waktu untuk duduk menulis, yang mudah putus asa ketika tulisannya ditolak oleh media, yang cepat puas diri dengan satu karya sehingga lupa untuk menulis lagi, yang menghitung-hitung honorarium kecil pada saat tulisan telah dimuat. Itu semua berupa tantangan yang berasal dari dalam diri.

Satu hal lagi yang perlu dicatat, bahwa melalui menulis, benih-benih multikulturalisme akan bertebar.  Jika  tidak setuju dengan opini yang dituliskan penulis lain, tanggapi dengan tulisan pula. Dari siklus ini, tulisan-tulisan akan menjadi alat  untuk memahami dan memaknai perbedaan.
 
Pada prinsipnya semua harus meyakini bahwa penulis bukanlah pertama-tama dilahirkan, tetapi hasil pembelajaran. Jika terus bertekun dalam proses tentunya akan membuahkan hasil yang diharapkan.

Ayo menulis dari sekarang. Angkat penamu, gerakkan jarimu. Tulis.


Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd.
Guru Seni Budaya
SMK Wiyasa Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar