Mengoptimalkan Majalah Dinding Sekolah

Dilihat 57 kali
Foto: forum-anarkid.blogspot.com

Seperti diketahui, publik pada umumnya memahami praksis pendidikan karakter hanya dalam konteks kelas. Padahal, proses pembelajaran di dalam kelas, serta bagaimana  gairah peserta didik muncul seringkali terjadi karena  ada faktor lingkungan yang membentuk budaya maupun sistem dalam organisasi dan tata kelola sekolah.


Lebih dari itu, pendidikan karakter seringkali sangat tergantung efektivitasnya dari kualitas kultur  yang melingkupi   sebuah lembaga pendidikan. Kultur terbentuk dari norma, peraturan sekolah, regulasi pendidikan, dan pembiasaan  yang terbentuk dalam lingkungan sekolah. Keempat hal tersebut perlu hadir  dalam sebuah interaksi  antar pelaku pendidikan secara harmonis.


Sebagai sebuah gerakan nasional revolusi mental, Kemendikbud menetapkan lima nilai utama karakter yang saling berkaitan dalam gerakan  PPK (Penguatan Pendidikan Karakter), yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Adapun landasan hukum  PPK adalah  Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.


Pembentukan karakter peserta didik di sekolah bisa dilakukan  melalui kegiatan kreatif dan reflektif dalam wadah majalah dinding (mading). Membuat majalah dinding  di lingkungan sekolah  merupakan salah satu cara  untuk menumbuhkan kreativitas, melatih kerjasama, menumbuhkan sikap reflektif dalam diri peserta didik, dan meningkatkan kapabilitas berkomunikasi melalui bahasa tulisan.


Nilai estetika


Nilai-nilai yang dilatihkan dalam pembuatan majalah dinding adalah nilai estetika melalui desain unik yang inovatif, kemampuan berkomunikasi menarik melalui bahasa tertulis, kemampuan berpikir kritis dalam menelaah dan membuat kajian tulisan terhadap tema tertentu. Di samping itu dalam mading  juga menjadi ajang latihan  untuk menyelesaikan  persoalan saat  pengelola mading membahasa isu-isu tertentu  yang ada di lingkungan sekitar mereka (Doni Koesoema A & Evi Anggraeny, 2020).


Majalah dinding  bisa dibuat di setiap kelas dan dipasang di depan kelas sepanjang koridor sekolah. Teknis tersebut  sebaiknya dilakukan agar banyak peserta didik  dari kelas lain  yang dapat membaca dan menikmatinya. Untuk tingkat pendidikan dasar, latihan  membuat majalah dinding bisa  dimulai dari  paparan tulisan  sederhana  per kelas atau sekolah membentuk tim redaksi  khusus untuk mengelola majalah dinding. 


Pendampingan guru untuk mata pelajaran  yang relevan  sangat dibutuhkan, seperti  guru Bahasa Indonesia dan guru yang mengampu mata pelajaran lain yang memiliki  relevansi dengan tema liputan  yang diangkat oleh majalah dinding. Agar kualitas  isi mading dapat terjaga, sebaiknya para guru juga dilibatkan  sebagai pembaca materi atau editor isi mading yang akan dimuat. 


Sebaliknya peserta didik  perlu menampilkan  tulisan terbaik  agar dapat menuliskan namanya di laman mading sekolah. Proses seleksi biasanya bersifat berjenjang.  Misalnya naskah kiriman peserta didik akan diseleksi terlebih dahulu oleh redaktur. Naskah yang telah lolos  dari seleksi redaksi, diserahkan kepada guru pendamping mading  atau guru Bahasa Indonesia untuk diseleksi. Guru kemudian menentukan  pilihan naskah yang layak diterbitkan.


Memberi tanggung jawab 


Mading selaian menerima  naskah umum dari peserta didik, juga memberi tanggung jawab  pada redaktur untuk  membahas topik tertentu. Redaktur mading juga perlu belajar cara menulis dan mengekspresikan  gagasan dengan baik. Dengan demikian, selain  menyeleksi naskah  yang lain, redaktur  juga menjadi  pemikir utama dalam  mendeskripsikan  pokok persoalan  dalam tema mading yang sedang dibahas. 


Majalah dinding bisa diterbitkan secara reguler, misalnya 6 bulan, 3 bulan, atau sebulan sekali, tergantung dari kesediaan pengurus dan pengelola majalah dinding. Bila sekolah sudah makin  membuat majalah dinding, makin sering terbit makin baik. Sebulan sekali terbit sudah merupakan capaian yang luar biasa untuk ukuran mading di sekolah.


Yang perlu diingat  majalah dinding perlu didesaian  dan dikelola secara kreatif. Konsep majalah dinding  adalah enak dibaca dan dilihat. Oleh karena itu, membuat majalah dinding  memerlukan pemilihan ukuran, jenis, dan warna yang menarik. Daya tarik majalah dinding keseluruhan  eksposisi gagasan dan pemikiran  dalam bentuk tulisan maupun gambar-gambar yang akan  memperkaya imajinasi dan visualisasi pembaca. Sebagai contoh pengelola mading bisa membuat model tiga dimensi. Melalui format mading tiga dimensi kreativitas atau imajinasi pengelola akan tertantang.


Dari pengelolaan mading yang intensif di sekolah secara tidak langsung akan dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada diri peserta didik. Saat hasil karyanya dibaca di mading sekolah oleh puluhan bahkan ratusan anak lain, otomatis akan muncul rasa percaya diri. Hal ini memiliki dampak yang sangat positif bagi peserta didik dalam mengembangkan kemampuannya. Rasa percaya diri ini akan memacu mereka  untuk terus berkarya dengan tujuan agar karyanya dapat dinikmati teman-teman di sekolahnya.


Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd.

Guru Seni Budaya 

SMK  Wiyasa Magelang


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar