Mencegah Klaster Covid-19 di Sekolah

Dilihat 220 kali
Konsistensi guru dan peserta didik dalam menerapkan prokes menjadikan PTM lebih kondusif dan nyaman.

Seiring melandainya kasus Covid-19 di Indonesia, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) mulai diizinkan di sejumlah daerah. Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu daerah yang sudah melaksanakan uji coba PTM sejak awal September 2021. Sedangkan pada Oktober 2021 ini, dari hasil evaluasi uji coba tersebut PTM terbatas sudah mulai diimplementasikan dengan tetap mengacu pada regulasi protokol kesehatan ketat.


Tak bisa dipungkiri, kebutuhan untuk PTM tidak terelakkan setelah lebih dari setahun sekolah ditutup dan pembelajaran dilaksanakan secara daring atau pembelajaran jarak jauh. Semakin lama sekolah ditutup, semakin besar resikonya bagi peserta didik, terutama mereka yang terkendala mengikuti pembelajaran jarak jauh.


Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pendidikan Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) dan Dana PBB untuk Anak-anak (UNICEF) selalu mengingatkan agar negara-negara memprioritaskan pembukaan sekolah saat laju penularan Covid-19 terkendali atau melandai. 


Ancaman generasi yang hilang karena kerugian belajar (learning loss) dan putus sekolah bagi generasi yang baru tumbuh tersebut akan semakin besar jika sekolah tak lagi dibuka kembali (Kompas, 25/9/2021).


Menaati Regulasi


Implementasi PTM di sekolah baik jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan menengah pada dasarnya sudah menaati regulasi sesuai dengan SKB Empat Menteri Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Di Masa Pandemi Covid-19


Sebelum PTM terbatas dimulai, masing-masing satuan pendidikan telah melakukan simulasi dan hasilnya dilaporkan ke Dinas Pendidikan yang menaungi. Apabila simulasi tersebut dinilai memenuhi standar kelayakan, sekolah tersebut diperbolehkan melaksanaan PTM.


Namun dalam tataran praksis, ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ketika hari pertama PTM dimulai, ternyata banyak di luar dugaan. Peserta didik yang memang rindu untuk masuk sekolah, antusiasme mereka tinggi. Sebagaimana ketika masuk, kesepakatan masuk pukul 07.00 ternyata mereka pagi-pagi buta sudah sampai sekolah. Sedangkan tim satgas pengatur kedatangan mereka dari sekolah yang datang baru sebagian kecil.


Dengan demikian kiranya tim dari sekolah pada saat PTM berlangsung perlu datang lebih pagi untuk mengantisipasi keadaan. Perlu penanganan teknis yang cermat saat pelaksanaan PTM. Mulai dari kedatangan peserta didik masuk gerbang. Cek pemakaian masker, cek suhu dilanjutkan cuci tangan. Sehabis cuci tangan harus melaporkan kondisi fisiknya pada saat itu untuk dicatat dalam buku kesehatan. Masuk lingkungan sekolah pun harus mengikuti marka dan petunjuk arah yang sudah disiapkan menuju kelas.


Sesampai di kelas saat pembelajaran dimulai, guru pun harus memiliki strategi agar pembelajaran berjalan sesuai alokasi yang disediakan yang tidak seperti pada saat sebelum pandemi. Kerinduan karena lama tidak ketemu, peserta didik cenderung fokus ke teman di samping kanan kirinya. Bila tidak disadari akan terjadi kontak fisik yang bisa membahayakan. Untuk itu guru, perlu untuk selalu mengingatkan mereka agar selalu menaati prokes yang sudah disepakati.


Seusai pembelajaran pada saat peserta didik pulang, juga membutuhkan strategi tersendiri. Bila dikeluarkan bersama-sama, tentunya potensi kerumunan di depan gerbang sekolah akan tinggi, baik mereka yang naik angkutan umum, kendaraan sendiri, maupun dijemput orang tuanya. 


Untuk mengeluarkan mereka dari sekolah bisa dilakukan bergiliran dari kelas yang terjauh sampai terdekat dengan jeda agar keluarnya mereka bisa lancar. Satgas dari sekolah perlu mengingatkan peserta didik agar lebih bersabar menunggu antrean mereka keluar dari kelas.


Sedangkan, petugas informasi sekolah harus jeli mengatur peserta didik yang dijemput orang tuanya agar penumpukan penjemput tidak terjadi. Sesampai di rumah, orang tua atau peserta didik perlu melaporkan keberadaannya kepada wali kelas, untuk dicatat dalam daftar kepulangan peserta didik sampai di rumah dengan selamat. Tujuan pelaporan ini untuk meminimalir peserta didik yang pulang sekolah sering bermain dan tidak segera pulang ke rumah. 

 

Ketegasan Sekolah


Salah satu upaya mencegah klaster baru, pihak sekolah harus tegas menerapkan regulasi protokol kesehatan kepada semua warga sekolah. Peserta didik yang melakukan pelanggaraan ditegur saat itu juga, agar tidak melakukan kesalahan ulang yang menimbulkan kerawanan. Misalnya, ketika peserta didik bertemu satu sama lain berusaha meluapkan kerinduannya dengan tidak menjaga jarak, tim satgas sekolah bisa langsung mengingatkan. 


Peserta didik yang tidak sehat, memaksakan diri untuk masuk, perlu dengan tegas diingatkan untuk mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh yang memang disediakan oleh sekolah untuk mengakomodasi mereka yang tidak bisa mengikuti PTM.


Di samping itu sekolah juga harus menerapkan 3T guna mencegah klaster baru di sekolah yang meliputi,Tracing (pelacakan), Testing (pemeriksaan dini), dan Treatment (perawatan). Ketiga aspek tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam mencegah munculnya klaster baru Covid-19 terutama pada saat penyelenggaraan PTM. 


Praktik 3T ini berisi tentang upaya seseorang memberitahukan pada orang di sekitarnya untuk selalu waspada. Melalui penerapan praktik 3T ini maka sekolah dapat terus memantau perkembangan kasus Covid-19 yang terjadi di lingkungannya agar PTM dapat terus  diimplementasikan.


(Oleh: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar