Memahami Media Massa Apa Adanya (Renungan Hari Pers Nasional)

Dilihat 176 kali
Hari Pers Nasional, setiap tahunnya, para wartawan yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Magelang ziarah ke makam Boediharjo, mantan wartawan senior dan Menteri Penerangan era Presiden Soeharto

Oleh : Zanuar Efendi, SIP*


Dalam alam demokrasi, media massa menempati posisi yang amat terhormat. Dalam kuliah-kuliah jurnalistik sering disampaikan bahwa media massa adalah pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif. Artinya demokrasi dianggap tidak sempurna apabila tidak tersedia ruang kebebasan pers di dalamnya. Di alam kebebasan, media massa sering juga difungsikan sebagai watch dog yang kritis terkait dengan kebijakan-kebijakan pemerintah atau keputusan politik yang menyangkut kepentingan orang banyak, tidak lain tidak bukan dalam rangka menjamin transparansi dan akuntabilitas.

Karena menempati maqom yang terhormat, maka media massa juga harus bisa menempatkan dirinya pada posisi yang terhormat pula, misalnya berita yang disampaikan harus berimbang (cover both sides) tidak boleh sepihak. Media massa juga harus independen alias tidak boleh memihak kepentingan-kepentingan tertentu. Karena itu, dalam suatu kasus, bukan pada tempatnya kalau ada media massa yang menonjolkan pihak-pihak tertentu, dengan menafikan pihak yang lain atau hanya menghadirkan nara sumber tententu dengan menutup akses pihak lain.


Di samping itu berita yang dimuat harus memiliki nilai berita (news value) yang sudah baku diantaranya adalah magnitude (pengaruh),  impact (dampak), significance (kepentingan), actuality, proximity (jarak), prominence, conflict, serta human interest. Karena itu berita yang tidak menyangkut kepentingan publik secara luas, apalagi berita abal-abal  mestinya tidak akan ditayangkan. Pernah muncul polemik terkait dengan acara infotainment di media eletronik, benarkah acara tersebut memiliki nilai berita yang cukup sehingga layak untuk ditayangkan? Kita tahu bahwa berita-berita dalam acara infotainment adalah gosip-gosip terkait kehidupan artis atau public figure. Itulah, meskipun konten beritanya mungkin tidak penting sama sekali namun karena menyangkut nama yang sudah dikenal (prominence) maka bisa dikategorikan layak berita.


Kita sudah amat mahfum bagaimana kekuatan media, utamanya dalam menggiring opini publik. Oleh karena itu media massa secara sadar atau tidak sering 'dimanfaatkan' oleh pihak-pihak tertentu dalam rangka meraih tujuan-tujuan tertentu pula. Media massa yang idealis dan sudah mapan pasti akan menjaga jarak dengan kelompok-kelompok kepentingan, karena pasti akan berimbas bagi keberlangsungan media massa itu sendiri di belakang hari, utamanya terkait dengan kepercayaan publik. Tapi pertanyaannya, di zaman yang serba pragmatis bahkan cenderung hedonis seperti sekarang ini adakah media massa yang benar-benar menjaga independensinya ?


Hanya malaikat mungkin makhluk  yang bisa menjaga independensi, manusia karena hidup di dunia yang banyak kepentingan ini barangkali sulit untuk menjaga independensi, sekecil apapun pasti memiliki keberpihakan, karena itu kuncinya adalah proporsionalitas. Keberpihakan harus sesuai dengan proporsinya, tidak boleh membabi-buta. Itulah idealita, realita-nya bagaimana ? itulah yang menjadi PR kita bersama untuk menempatkan media massa pada proporsinya, agar marwah media massa sebagai pilar keempat demokrasi tetap terjaga, tidak menjadi alat  propaganda pihak-pihak tertentu yang akan menjerumuskan pers ke dalam lembah kekelaman. Biarkan media massa bekerja sebagaimana fungsinya, apa adanya, sebagai wahana pencerahan jiwa.



*Sekretaris DPMPTSP Kabupaten Magelang



 



 



 

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar