Makna Di Balik Topeng

Dilihat 68 kali
Foto: Travel.kompas.com
Di balik maraknya topeng sebagai benda suvenir, topeng sebagai tradisi tetap memiliki dimensi menarik. Sungguhpun gelombang modernisasi datangnya bagaikan air bah yang telah melindas berbagai ragam budaya tradisi, tetap berjuang untuk mempertahankan keberadaannya. Sampai saat, tradisi topeng di beberapa wilayah di Indonesia ternyata juga masih hidup.

Masing-masing daerah memang memiliki istilah sendiri untuk jenis-jenis topeng sesuai dengan tradisi yang ada di komunitasnya. Seperti di Jawa dikenal dengan topeng, atau tapuk (Jawa Kuno), tapel (Bali), kedok (Sunda), hudoq (Dayak), toping (Batak), gundala-gundala (Karo), dan lain-lain. 

Topeng dapat didefinisikan sebagai suatu replika wajah yang dibentuk atas bahan dasar yang tipis atau ditipiskan. Wujud demikian membuat topeng menjadikan suatu kata tepat sebagai ungkapan figuratif yang mewakili masing-masing pribadi. 

Fungsi ritual

Pada dasarnya benda topeng tidak sekadar sebagai benda seni saja, lebih dari itu juga merupakan media yang digunakan manusia dalam melakukan fungsi ritualnya. Topeng tersebut digunakan di wajah untuk memberikan penonjolan, distorsi wajah, dan  membangkitkan emosi selama upacara ritual berlangsung. Baik itu upacara berburu, festival, dan berbagai pertunjukan teatrikal di dalam momentum budaya. 

Dalam korelasinya dengan jenis-jenis topeng untuk upacara ritual, oleh komunitasnya dipercaya memiliki kekuatan magis. Pemakainya pun juga orang-orang yang memiliki kekuatan supranatural tertentu. Berdasarkan penelitian Roy Sieber dalam Mask as Agents of  Social Control (1966) menegaskan di Benua Afrika kekuatan magis suatu topeng  dapat menghentikan peperangan antara kelompok suku dan mampu menciptakan suatu perdamaian di antara mereka. 

Demikian pula jenis-jenis topeng yang disakralkan oleh para suku Indian di Amerika Utara. Di Indonesia sendiri masih ada beberapa suku yang menggunakan topeng-topeng sakralnya untuk upacara tertentu, misalnya untuk mengusir wabah penyakit, hama tanaman, ataupun dalam upacara-upacara kematian.
 
Di masyarakat suku Batak dikenal dengan sebutan huda-huda atau gundala-gundala yaitu tarian topeng sebagai simbol nenek moyang mereka dalam menuju surga. Di Kalimantan dalam masyarakat Dayak Kenyah dan Modang di tepi Sungai Mahakam, juga mengenal budaya topeng yang disakralkan dengan sebutan hudo. Figuratif bentuk topeng hudo merupakan gaya deformasi figur burung yang berfungsi untuk melawan raksasa-raksasa penyebar penyakit. Tradisi-tradisi topeng ritual ini, walaupun ada unsur teatrikal,  tetap saja memiliki nuansa-nuansa kesakralannya.

Tradisi seni pertunjukan

Dalam tradisi seni pertunjukan topeng di Jawa Tengah dikenal dalam sebutan wayang topeng atau dramatari topeng. Di Madura dikenal disebut dengan topeng dheleng, di Jawa Barat disebut topeng dhalang. Namun ada pula yang menyebut dramatari topeng diharmonikan dengan daerah asalnya seperti Topeng Cirebon, Topeng Malang, Topeng Jabung, dan sebagainya. Wayang topeng atau dramatari topeng di Jawa membawakan cerita Panji, yaitu peristiwa yang menceritakan kisah pengembaraan Panji Inu Kertapati dari Kerajaan Jenggalamanik.

Fungsi topeng sebagai seni pertunjukan, terutama di Jawa telah dikenal sejak zaman keemasan Kerajaan Majapahit dengan istilah raket. Raja Hayam Wuruk sendiri dalam Kitab Negarakertagama karya Mpu Prancanca tercatatat sebagai penari topeng yang handal. Maka tak mengherankan kalau dramatari topeng itu menjadi seni pertunjukan kegemaran para bangsawan kerajaan. Karakter-karakter dalam pertunjukan itu disebut-sebut istilah shori (karakter pria), tekes (karakter wanita), dan gitada (penyanyi). Dengan demikian istilah shori diidentikkan dengan tokoh Panji, tekes untuk Galuh Candrakirana, dan gitada untuk tokoh pembantu yaitu Bancak (Soedarsono, 1984). Sampai sekarang tutup kepala tekes tersebut menjadi ciri spesifik semua bentuk  dramatari topeng di Jawa dan Bali dengan cerita Panji sebagai episodenya.

Perkembangan tradisi seni topeng sebagai seni pertunjukan terus berlanjut sampai pada periode peralihan Hindu ke Islam, terutama munculnya kerajaan Demak pada awal abad ke-16. Periode ini dianggap sebagai titik perubahan yang cukup signifikan untuk tradisi topeng sebagai seni pertunjukan. Tradisi topeng pada masa ini kemudian dikenal sebagai tradisi Sunan Kalijaga yang dikenal di kalangan seniman Jawa disebut Pangeran Pedhalangan. 

Pada masa inilah terbentuknya figur-figur topeng di Jawa yang dikenal sampai sekarang. Untuk pertunjukan wayang topeng yang pertama Sunan Kalijaga membuat sembilan topeng, yaitu untuk tokoh-tokoh Panji Kasatriyan, Candrakirana, Gunungsari, Andaga, Raton (Raja), Klana, Danawa (raksasa), Turas (sekarang Penthul atau Bancak), dan Renco (sekarang Tembem atau Dhoyok).

Untuk figur-figur topeng klasik di Jawa lebih merujuk pada figur-figur wayang kulit dengan segala patronnya. Karena dalam historis seni pertunjukan Jawa, Sunan Kalijaga di samping dikenal sebagai pencipta seni topeng Jawa juga dikenal sebagai pencetus wayang kulit Jawa sebagai media syiar agama Islam.

Di dalam perkembangannya, di samping tetap merujuk pada karakter dalam wayang kulit, seni topeng juga berinterakasi dengan perkembangan tari Jawa pada umumnya. Sedangkan tipe karakternya pun juga merujuk pada tari Jawa. Misalnya, di dalam tari Jawa dikenal terdapat tiga karakter pokok "gaya" tari yang terkait erat dengan teknik-teknik gerak tarinya, yaitu karakter putra gagah, putra halus, dan putri.

Dengan demikian, makna di balik topeng tersebut sangat komprehensif yang bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Hal itu menandakan potensi kekayaan budaya Nusantara yang tak lekang untuk digali sebagai sumber inspirasi.


Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro Mertoyodan Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar