Komitmen Etnis Tionghoa Pada Wayang

Dilihat 1248 kali
Wayang orang tokoh Pregiwa dan Gatotkaca. Pregiwa diperankan Noni warga Tionghoa alumni SMP Kanisius Muntilan. Gatotkaca diperankan Nunung penari Kabupaten Magelang
Seiring terbukanya keran demokrasi di era reformasi, sejak pemerintah Gus Dur, komunitas etnis Tionghoa yang semula terbelenggu kebebasannya mulai bisa mengaktualisasikan diri. Dalam bidang kesenian mulai marak berbagai seni pertunjukan yang muncul di ranah publik, seperti barongsai, wayang potehi, dan multiragam kesenian lainnya.

Namun, bila diselisik lebih jauh, mereka yang menggeluti wayang orang panggung sebagai salah satu genre drama tradisional Jawa sampai saat ini masih bisa dihitung dengan jari. Padahal secara historis, eksistensi dan perkembangan wayang orang panggung tidak dapat dipisahkan dari peran etnis Tionghoa, terutama peranakan yang hidup di Jawa dan telah berakulturasi ke dalam budaya Jawa.

Sikap adaptif

Sikap adaptif peranakan Tionghoa itu terefleksi pada gaya hidup mereka, terutama atensinya terhadap seni budaya Jawa. Kepedulian mereka itu bukannya tanpa makna, tetapi merupakan sikap adaptif dengan lingkungannya agar mereka dapat eksis dalam mempertahankan dan melangsungkan kehidupannya.

Minatnya terhadap seni budaya Jawa, terutama wayang orang, tampak ketika Gam Kam, seorang pengusaha Tionghoa yang kaya, melihat adanya peluang untuk mendirikan rombongan wayang orang di luar tembok istana.

Berdasarkan tulisan James R Brandon dalam Theatre in Southeast Asia (1967) menegaskan, rombongan wayang orang milik Gam Kam yang dirintis sekitar tahun 1895 di Surakarta merupakan grup seni pertunjukan tradisional komersial pertama yang dipentaskan di panggung prosenium degan model panggung seperti di Eropa.

Transformasi dan merebaknya budaya keraton keluar istana sesungguhnya dilatarbelakangi oleh adanya perubahan struktur komunitas Jawa. Pada waktu itu, ketika kendali pemerintahan Kadipaten Mangkunegaran diperintah oleh Sri Mangkunegara V, wayang orang mencapai puncak kejayaannya. Maka, layak penguasa Mangkunegaran itu dijuluki sebagai pelindung kesenian atau maecenas yang bisa disejajarkan dengan Louis IV Kaisar Perancis, Elizabeth I Ratu Inggris atau Tsarina Catherina Agung, penguasa Rusia di Abad Pertengahan.

Namun, seiring perjalanan waktu, masa pemerintahan Sri Mangkunegara VI mengalami krisis ekonomi yang luar biasa. Dampaknya banyak para abdi dalem langenpraja (pengajar seni tari), termasuk para pemain wayang orang dikeluarkan dari istana karena istana tak mampu menggaji mereka. Peluang ini ditangkap oleh orang-orang etnis Tionghoa untuk melakukan bisnis hiburan wayang orang yang dikonsumsikan untuk komunitas kota atau urban.

Pertimbangan pasar

Sudah barang tentu motivasi mereka didasarkan pada pertimbangan permintaan pasar yang secara bisnis memberi keuntungan finansial. Pada waktu itu minat publik pada wayang orang sangat besar, bahkan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gaya hidup mereka.

Fenomena tersebut didasarkan pada kepercayaan komunitas bahwa wayang di dalamnya mengandung nilai tontonan dan tuntunan yang juga kaya dengan ajaran-ajaran moral atau etika Jawa. Besarnya minat publik wayang orang merupakan salah satu faktor lahirnya grup-grup wayang orang panggung komersial di kota-kota besar di Jawa. Maka, tak mengherankan selain Gam Kam terdapat banyak juga dari kalangan etnis Tionghoa yang turut menyemarakkan bisnis wayang orang, seperti Lie Wah Gien, Babah Lie Wat Djien, Babah Lie Yam Ping, Babah Lie Sien Kuan, Yap Kam Lok, dan beberapa nama etnis Tionghoa lainnya.

Hersapandi dalam artikelnya bertajuk "Etnis Cina dan Wayang Orang Pangung Komersial Suatu Kajian Sosio - Historis" (1994) menegaskan sikap adaptif dan integratif para juragan wayang orang dari etnis Tionghoa itu dalam merealisasikan tujuan bisnis biasanya menjalin relasi dengan penguasa lokal untuk agar memperoleh perlindungan. Seperti Lie Wat Djien, seorang pengusaha batik, bersama-sama Sri Mangkunegara VII mendirikan Wayang Orang Sono Harsono di Surakarta.

Ada lagi rombongan wayang orang milik Lie Sien Kuan pernah direkrut oleh Sri Susuhunan Paku Buwana X untuk mengisi pentas di Taman Sriwedari Surakarta. Taman tersebut merupakan taman milik istana Kasunanan Surakarta yang memiliki fungsi sebagai penyangga kehidupan seni budaya istana yang didesain selaras dengan konsep paru-paru kota.

Kejelian menangkap peluang bisnis para juragan etnis Tionghoa itu memang selaras dengan kebijakan politik liberal oleh Pemerintah Belanda yang waktu itu memberi kebebasan kepada siapa saja untuk melakukan usaha.

Maka, tak mengherankan sejak 1870 bermunculan kota-kota di sepanjang jalan raya utama yang menghubungkan ujung Jawa Barat dengan ujung Jawa Timur. Munculnya wilayah perkotaaan berdampak banyaknya orang-orang Tionghoa yang mendirikan toko-toko sebagai transaksi jual beli.

Pusat keramaian di sepanjang kota, ditangkap oleh orang-orang Tionghoa untuk mendirikan wayang orang panggung yang waktu itu sangat dirindukan. Kehadiran wayang orang panggung yang dirintis oleh Gam Kam dan para juragan Tionghoa merupakan momentum babak baru bentuk seni pertunjukan di Indonesia. Implikasinya wayang orang istana mengalami pergeseran menjadi sebuah pertunjukan komersial.

Dengan demikian fakta sejarah membuktikan bahwa komitmen orang-orang Tionghoa untuk membesarkan wayang orang panggung yang sampai sekarang masih eksis menjadi fakta yang tak terbantahkan lagi.
 
Selamat Tahun Baru Imlek 2572

Isi kolom ini sepenuhnya tanggung jawab penulis:

Ch. Dwi Anugrah
Ketua Sanggar Seni Ganggadata
Jogonegoro, Kec. Mertoyudan
Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar