Kepedulian untuk Anak-anak Korban Covid-19

Dilihat 312 kali
Polres Magelang santuni anak yatim piatu akibat Covid-19 melalui program Aku Sedulurmu

Tercabik hati melihat tangis kehilanganmu

Tergores nurani mendengar tentang kesendirianmu

Tak ada lagi dekap kasih orang tua

Semua telah tiada akibat corona


Kemana lagi kakimu kan melangkah

Manakala berdiri pun kau belum sempurna

Hanya kedua tanganmu terlihat tengadah

Memohon belas kasih Sang Maha Kuasa


Penggalan puisi bertajuk Ke Mana Kakimu Melangkah karya Dina Rustiana guru Bahasa Indonesia SMK Satya Persada Magelang itu menghentak empati perhatian publik. Puisi yang dilantunkan tersebut substansinya menyuarakan jeritan mereka yang kehilangan orang tuanya karena pandemi Covid-19. Untaian kata-kata yang terurai dalam kalimat menggugah sentuhan emosional masing-masing pribadi untuk turut serta memiliki sikap empati bagi mereka yang sedang mengalami penderitaan.


Tak bisa dipungkiri pandemi Covid-19 menerjang tanpa pandang bulu. Virus berbahaya ini tidak hanya menyerang orang tua dan lansia saja, tetapi juga menyebabkan banyak anak kehilangan orang tuanya. Di berbagai daerah, tidak sedikit anak-anak menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya meninggal dunia usai terpapar Covid-19.


Pandemi Covid-19 tak hanya memberikan ancaman serius pada saat ini, tetapi juga berdampak pada masa depan, menyusul banyak anak-anak Indonesia yang mendadak kehilangan orang tua. Besarnya kluster penularan di beberapa tempat, termasuk di lingkungan pekerjaan dan keluarga sangat rentan terhadap penyebab tingginya angka kematian warga usia produktif yang terpaksa meninggalkan anak-anaknya, di waktu mereka masih sangat membutuhkan pendampingan.


Pukulan Berat


Sudah bisa dipastikan, kehilangan orang tua yang dicintai, tempat mereka berlindung merupakan pukulan yang sangat berat. Kehilangan ayah dan ibu secara mendadak membuat anak-anak, terutama yang masih di bawah umur, mengalami tekanan besar, terutama secara psikis. Mereka tak siap berpisah dari orang tua yang mengasuh selama ini serta mendadak mengurus diri sendiri dan adik jika anak sulung. Apalagi jika tingkat kondisi ekonomi mereka termasuk rendah, ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga.


Berdasarkan data yang dilansir berbagai media, kekhawatiran akan masa depan mereka menghantui pikiran sejumlah anak yang kini menjadi yatim piatu karena orang tua meninggal akibat Covid-19. Mereka tentunya berharap bisa menggapai harapan dan cita-citanya walaupun orang tuanya sudah tiada.


Seiring dengan laju kematian karena Covid-19 di Indonesia yang terus bertambah, jumlah anak yang kehilangan orang tua juga terus meningkat. Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menunjukkan, korban jiwa terutama terjadi pada kelompok usia di atas 60 tahun sebanyak 46,5 persen, disusul usia 46-59 tahun sebanyak 36,8 persen, dan usia 31-45 tahun 12,9 persen. Kelompok usia 0-5 tahun dan 6 - 18 tahun yang menjadi korban jiwa masing-masing 0,5 persen dan kelompok usia 19 - 30 tahun 2,8 persen (Kompas, 23/8/2021).


Kepedulian Semua Pihak


Anak-anak yang kehilangan orang tua tentunya mengalami tekanan psikologis cukup berat. Oleh karena itu, kepedulian semua pihak sangat dibutuhkan untuk mencarikan solusinya. Beberapa kelompok masyarakat dan beberapa lembaga sudah mulai melakukan aksi mengatasi hal tersebut. Bahkan beberapa pejabat ataupun anggota dewan ada yang sanggup menjadi orang tua asuh mereka, termasuk biaya pendidikannya.


Kita cukup mengapresiasi langkah Polda Jawa Tengah yang telah meluncurkan program Aku Sedulurmu. Program ini menyasar pada anak-anak yatim piatu yang ditinggal orang tuanya akibat korban Covid-19 dalam biaya pendidikannya di seluruh wilayah Provinsi Jawa Tengah.


Aksi tersebut merupakan langkah antisipasi yang sangat membantu bagi mereka agar kebutuhan dasarnya segera dapat teratasi. Pada umumnya seorang anak yang tidak lagi memiliki orang tua, memiliki potensi kerawanan untuk ditelantarkan dan bahkan diperlakukan salah (child abuse).


Pada tingkat yang ekstrem, anak yatim piatu bukan tidak mungkin kehilangan kesempatan untuk menyongsong masa depannya karena tiadanya perlindungan dan jaminan haknya terpenuhi, baik itu moral maupun sosial (Bagong Suyanto, 2021).


Dalam kondisi sekarang ini, negara harus hadir dengan mulai membuat sistem pendataan anak agar responnya terekam dengan baik. Pada saat ini, beberapa kementerian terkait termasuk Kemenko PMK (Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) sedang menggodok data anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya akibat Covid-19.


Kita berharap, pendataan anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya dapat segera terselesaikan, agar mereka segera mendapatkan haknya, baik moral, fisik, maupun pendidikannya.


Tentunya kita tidak mengharapkan Indonesia ke depannya mengalami lost generation (generasi yang hilang) karena anak-anak sebagai generasi penerus tidak mendapatkan jaminan kepastian akan masa depannya. Untuk itu kepedulian semua pihak sangat dibutuhkan agar prediksi tersebut dapat dihindari. 


(Oleh: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar